Sifat Îtsâr (Mengutamakan Orang Lain)

0 0

Jika Anda orang yang mudah memberi dan tidak berat untuk berkorban, berarti Anda adalah seorang yang pemurah. Jika Anda seorang yang memberi lebih banyak dan menyisakan sedikit untuk diri sendiri, berarti Anda adalah seorang dermawan. Namun, jika Anda memberi orang lain sesuatu, padahal Anda sangat membutuhkannya, karena lebih mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, berarti Anda telah sampai ke derajat îtsâr. Sifat îtsâr menempati kedudukan paling tinggi. Sifat ini lahir dari kuatnya keyakinan, dalamnya rasa cinta, kesabaran menahan kesulitan, dan keinginan untuk mendapatkan ganjaran pahala.

Di antara faktor-faktor yang membuat seseorang mampu bersifat îtsâr adalah sebagai berikut:

1.    Keinginan memiliki akhlak terpuji dan menghindar dari akhlak yang buruk. Sebesar apa keinginan seseorang untuk memiliki akhlak terpuji, sebesar itu pula ia akan bisa bersifat îtsâr, karena sifat ini merupakan akhlak mulia yang berkedudukan paling tinggi.

2.    Membenci sifat kikir. Orang yang membenci sifat kikir menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari sifat tercela itu kecuali dengan kedermawanan dan îtsâr.

3.    Mengagungkan hak-hak orang lain. Jika nilai sebuah hak sudah agung dalam pandangan seseorang, ia pasti akan menjaganya dan menunaikannya dengan sempurna. Ia pasti meyakini bahwa dirinya tidak akan mampu menunaikan hak-hak itu dengan sempurna kecuali dengan bersifat îtsâr. Karena itu, untuk kehati-hatian, ia memilih bersifat îtsâr, mengutamakan orang lain di atas dirinya.

4.    Meremehkan dunia dan mencintai Akhirat. Barang siapa yang memandang dunia sebagai sesuatu yang kerdil, niscaya kesenangan duniawi akan tidak berharga baginya. Ia akan menyadari bahwa apa yang ia berikan di dunia akan dikembalikan kepadanya pada hari Kiamat kelak, saat ia lebih membutuhkan pemberian itu.

5.    Menanamkan kesiapan diri menghadapi ujian dan kesulitan. Sikap ini akan sangat membantu seseorang untuk bisa berperilaku îtsâr. Karena dengan mendahulukan orang lain, terkadang seseorang harus rela menderita kekurangan dan kesulitan. Karena itu, jika seorang tidak mempersiapkan dirinya untuk bertahan dalam kondisi sulit, ia tidak akan sanggup memberi orang lain sesuatu yang ia sendiri membutuhkannya.

Tingkatan-tingkatan Îtsâr

Sebagian ulama membagi îtsâr ke dalam beberapa tingkatan. Berikut tingkatan-tingkatan îtsâr menurut Ibnul Qayyim:

Pertama: Mengutamakan maslahat orang lain di atas diri Anda dalam perkara yang tidak merusak agama Anda, tidak menghalangi jalan Anda, dan tidak merusak waktu Anda. Dengan kata lain, Anda memberikan kepada orang lain sesuatu yang menjadi kemaslahatan mereka. Misalnya, Anda memberi orang lain makan walaupun Anda sendiri harus kelaparan; Anda memberinya pakaian walaupun Anda harus tidak memiliki pakaian; Anda memberinya minum walaupun Anda harus kehausan. Namun itu tidak membuat Anda harus melakukan tindakan merusak yang tidak diizinkan dalam Agama. Segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan untuk hati, waktu, dan hubungan Anda dengan Allah, Anda tidak boleh îtsar di dalamnya. Karena jika Anda berbuat îtsâr dalam hal-hal seperti itu, tanpa Anda sadari berarti Anda telah mengutamakan Syetan di atas Allah.

Kedua: Mengutamakan keridhaan Allah di atas keridhaan makhluk-Nya, meskipun untuk itu Anda harus menghadapi ujian dan beban berat yang tidak sanggup ditanggung oleh badan. Mengutamakan keridhaan Allah di atas keridhaan makhluk artinya adalah bahwa seorang hamba menginginkan dan melakukan sesuatu yang Allah ridhai, meskipun itu mengundang kemarahan makhluk. Îtsâr ini adalah îtsâr yang dimiliki oleh para nabi. Derajatnya yang lebih tinggi dimiliki oleh para Rasul. Dan yang lebih tinggi lagi dimiliki oleh para Rasul Ûlul 'Azmi. Dan yang tertinggi dari semuanya dimiliki oleh Nabi Muhammad—Shallallâhu `alaihi wasallam. Beliau harus menghadapi semesta alam dan memfokuskan diri untuk berdakwah ke jalan Allah. Dengan tegar, beliau hadapi permusuhan yang dilancarkan manusia, mulai dari orang yang jauh, hingga bahkan orang-orang terdekat beliau, demi Allah―Subhâna wa Ta`âlâ. Beliau lebih mengutamakan keridhaan Allah di atas keridhaan para makhluk, dalam segala bentuknya. Untuk itu, beliau tidak takut celaan orang-orang yang mencela. Semua keinginan, cita-cita, tekad, dan usaha beliau terfokus pada keridhaan Allah, menyampaikan risalah-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan memerangi musuh-musuh-Nya. Beliau lakukan itu, hingga agama Allah menjadi Agama yang unggul di atas segala agama yang ada, hujjah Allah sampai kepada seluruh alam, dan nikmat yang Allah turunkan untuk orang-orang mukmin menjadi sempurna. Dengan demikian, beliau pun sukses menyampaikan risalah Allah, menunaikan amanah, mengajari umat, berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, dan beribadah menyembah Allah sampai maut datang menjemput beliau. Tidak ada seorang pun yang mampu meraih derajat îtsâr yang beliau miliki. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau.

Sudah menjadi sunnatullah yang harus berlaku dan tidak akan pernah berubah, bahwa barang siapa yang mengutamakan keridhaan makhluk (manusia) di atas keridhaan Allah, niscaya Allah akan menanamkan kemurkaan dalam diri manusia terhadap dirinya. Ia justeru akan terhina melalui manusia itu sendiri. Allah juga akan menjadikan manusia sebagai jalan untuk menimpakan cobaan terhadap dirinya, sehingga yang semula memujinya berbalik menjadi mengecamnya, dan yang semula senang menjadi murka.

Akhirnya, ia tidak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan dari manusia-manusia itu. Di samping juga ia tidak akan mendapatkan pahala dari Tuhannya. Inilah makhluk yang paling lemah dan paling bodoh.

Imam Asy-Syafi'i―Semoga Allah merahmatinya―pernah berkata, "Keridhaan (rasa senang) semua manusia adalah sebuah tujuan yang tidak mungkin bisa diraih. Karena itu, hendaklah engkau mengusahakan sesuatu yang mengandung kebaikan untuk dirimu, lalu pertahankan itu dengan teguh." Dan sebagaimana dimaklumi, bahwa tidak ada kebaikan untuk diri kita kecuali dengan mengutamakan keridhaan Tuhan di atas yang lain.

Ketiga: Menisbatkan sikap îtsâr Anda kepada Allah, bukan kepada diri Anda sendiri. Anda menyatakan bahwa Allah-lah Dzat satu-satunya yang berbuat îtsâr, bukan Anda. Anda seakan menyerahkan segala îtsâr kepada-Nya. Jika Anda mengutamakan orang lain di atas diri Anda dalam sesuatu, Anda meyakini bahwa yang mengutamakan orang itu adalah Allah, bukan Anda. Karena pada hakikatnya, memang Allah-lah yang mengutamakan, dan Dialah yang memberi.

Beberapa Contoh Îtsâr yang Diabadikan Sejarah

Sejarah mengabadikan dengan tinta emas sikap-sikap kaum muslimin yang mencapai derajat îtsâr tertinggi. Di antaranya:

Ini kisah tentang sang penghulu seluruh makhluk sekaligus penutup para Nabi, Muhammad—Shallallâhu `alaihi wasallam. Pada suatu hari, seorang wanita menghadiahkan kepada beliau sehelai baju. Wanita itu berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, maukah engkau aku hadiahkan baju ini?" Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—lalu mengambil baju yang diberikan wanita itu, karena beliau memang membutuhkannya. Beliau pun lalu memakainya. Namun, kemudian ada seorang shahabat yang melihat beliau sedang memakai baju itu. Shahabat itu berkata, "Wahai Rasulullah, alangkah bagusnya baju ini! Berikanlah ia kepadaku!" Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda (kepada orang itu), "Baiklah." Setelah Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—pergi, para shahabat yang lain mencela laki-laki yang meminta itu. Mereka berkata kepadanya, "Tidak sepantasnya ketika engkau tahu Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—membutuhkan baju itu, engkau memintanya. Padahal engkau tahu, beliau tidak pernah menolak ketika diminta." Laki-laki itu berkata, "Aku mengharapkan berkahnya, karena Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—telah memakainya. Boleh jadi aku akan dikafani dengan kain ini."

Para shahabat―Semoga Allah meridhai mereka―dan begitu pula para tabi`in juga memiliki banyak kisah îtsâr yang luar biasa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah disebutkan bahwa seorang laki-laki pernah bertamu ke tempat Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Beliau lalu menanyakan kepada istri-istri beliau apakah ada makanan yang bisa dihidangkan. Istri-istri beliau mengatakan bahwa mereka tidak memiliki apa-apa selain air. Kemudian Rasululah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Siapa yang bersedia menjamu orang ini?" Seorang laki-laki dari kalangan Anshar berdiri seraya berkata, "Aku." Laki-laki itu pun mengajak sang tamu ke rumahnya seraya berkata kepada istrinya, "Muliakanlah tamu Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam―ini." Istrinya berkata, "Kita tidak punya makanan selain makanan anak-anak kita." Laki-laki Anshar itu berkata, "Siapkanlah makanan itu, lalu nyalakan lampu, dan tidurkanlah anak-anak ketika mereka meminta makan." Istrinya pun segera menyiapkan makanan, lalu menghidupkan lampu dan menidurkan anak-anak mereka. Setelah itu, ia bangkit seakan hendak memperbaiki lampu; namun kemudian lampu itu sengaja ia matikan. Dalam kegelapan, sepasang suami istri itu berpura menampakkan kepada tamu mereka bahwa mereka ikut makan bersamanya.

Akhirnya, malam itu pun mereka tidur dalam keadaan lapar. Pada keesokan harinya, laki-laki Anshar itu menemui Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Rasulullah bersabda kepadanya, "Allah tertawa melihat perbuatan kalian tadi malam." Dalam riwayat lain, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sungguh menakjubkan apa yang kalian lakukan tadi malam." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya): "Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." [QS. Al-Hasyr: 9]

Itulah kaum Anshar. Salah seorang dari mereka, yakni Sa'ad Ibnur Rabî` juga pernah menawarkan kepada saudaranya dari kaum Muhajirin, yaitu Abdurrahman ibnu 'Auf untuk mengambil salah satu dari dua istrinya, serta membagi dua harta yang ia miliki. Namun Abdurrahman ibnu 'Auf menolak tawaran itu, seraya berkata, "Semoga Allah memberkati keluargamu dan hartamu."

Ada lagi kisah menarik tentang Abu Thalhah—Semoga Allah meridhainya. Ia memiliki sebuah kebun yang merupakan harta yang paling ia cinta. Kebun itu bernama Byarhâ'. Tatkala ia mendengar firman Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—(yang artinya): "Kalian sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan, sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai." [QS. Alî `Imrân: 92], ia langsung menemui Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—untuk menyampaikan bahwa ia menyedekahkan Byarhâ', karena Allah—Subhânahu wata`âlâ.

Kisah lain berkaitan dengan Qais ibnu Sa'ad ibnu 'Ubâdah. Pada suatu ketika, ia ditimpa sakit, tapi teman-temannya tidak datang menjenguk. Saat ia menanyakan alasan mengapa mereka tidak menjenguknya, ia diberitahu bahwa mereka malu karena hutang mereka kepadanya. Ia langsung berkata, "Celakalah harta yang menghalangi teman untuk berkunjung." Kemudian ia menyuruh seseorang untuk mengumumkan: "Barang siapa yang berhutang kepada Qais, maka hutangnya itu telah dihalalkan (dianggap lunas)."

Setelah pengumuman itu, di,sore itu juga, beranda rumahnya sampai patah saking banyaknya orang yang menjenguknya.

Jika kisah-kisah di atas terasa menakjubkan, maka kisah tiga orang berikut ini lebih menakjubkan lagi. Masing-masing mengutamakan yang lain di atas diri sendiri untuk memiliki kesempatan hidup. Hudzaifah Al-'Adawi menceritakan, "Pada perang Yarmuk, aku mencari sepupuku dengan membawa sedikit air. Dalam hati, aku bergumam, 'Seandainya ia terluka, aku akan memberinya minum dan mengusap wajahnya dengan air ini'. Akhirnya, aku pun menemukannya. Aku berkata kepadanya, 'Engkau mau minum?' Ia memberi isyarat mengiyakan. Tiba-tiba ada laki-laki lain yang mengerang. Sepupuku itu memberi isyarat agar aku menemui orang itu. Aku pun segera menemui orang itu, dan ternyata ia adalah Hisyam ibnul 'Âsh. Aku katakan kepadanya, 'Engkau mau minum?' Ia memberi isyarat mengiyakan. Tiba-tiba terdengar lagi ada orang ketiga yang mengerang. Hisyam pun memberi isyarat agar aku menemui orang itu. Setelah aku datangi, ternyata orang itu sudah meninggal. Aku pun segera kembali menuju Hisyam, tapi ternyata ia sudah meninggal. Aku pun segera mendatangi sepupuku, tapi ternyata ia juga sudah meninggal. Semoga Allah merahmati mereka."

Manfaat Îtsâr

Seandainya tidak ada manfaat îtsâr selain bahwa ia merupakan bukti kesempurnaan iman dan keislaman, sekaligus indikasi ketinggian akhlak seseorang, sungguh itu saja sebenarnya sudah cukup. Kenapa tidak? Îtsâr adalah jalan untuk menggapai cinta Allah—Subhânahu wata`âlâ, sarana untuk mengeratkan hubungan antar masyarakat, serta jalan untuk mendapatkan keberkahan dan menjaga diri kita dari sifat kikir.

 

 

Artikel Terkait