Sudahkah Anda Punya Sesuatu untuk Ditinggalkan?

13/03/2019| IslamWeb

Usia umat Islam dibandingkan dengan usia umat-umat lain (sebelum mereka) terhitung singkat. Jika Anda perhatikan usia umat-umat terdahulu, maka Anda akan menemukan bahwa usia mereka jauh lebih panjang. Nabi Nûh—Shallallâhu `alaihi wasallam, misalnya, mendakwahi kaumnya selama 950 tahun. Jika demikian, kira-kira berapa usia beliau? Berapa usia rata-rata umatnya?

Sedangkan usia umat Nabi Muhammad—Shallallâhu `alaihi wasallam—bisa kita lihat dalam sabda beliau, "Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit dari mereka yang melampaui usia itu."

Jika seorang hamba meninggal dunia, pintu amalnya akan ditutup. Seandainya ia tidak meninggalkan sesuatu untuk ditinggalkan setelah wafat, berarti ia seakan tidak pernah ada di dunia ini.

Namun, karena kasih sayang-Nya terhadap umat ini, Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—membukakan untuk kita pintu-pintu kebaikan dan pahala, sebagai pengganti usia kita yang pendek. Di antara bentuk kasih sayang-Nya itu kita temukan dalam hadits: "Barang siapa yang bangun (beribadah) pada malam Lailatul Qadar dengan berdasarkan keimanan dan karena mengharapkan ridha Allah, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni." Dalam Al-Quran, malam itu disebut sebagai: "Malam yang lebih baik dari seribu bulan." [QS. Al-Qadr: 3]

Dalam hadits lain disebutkan: "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu mengikutinya dengan puasa selama enam hari di bulan Syawal, maka ia seakan berpuasa sepanjang zaman. Dalil seputar masalah ini sangat banyak.

Di antara karunia Allah juga kepada umat ini adalah bahwa setelah mereka mati, Allah masih tetap mengalirkan pahala untuk mereka dari kebaikan yang mereka tinggalkan dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang masih hidup. Di antara kebaikan tersebut disebutkan dalam sabda Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam, "Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka amalnya akan terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jâriyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya."

Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—juga bersabda, "Sesungguhnya di antara (pahala) amal dan kebaikan yang mengikuti seorang mukmin setelah ia meninggal dunia adalah ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, atau anak shalih yang ia tinggalkan, atau mushaf (kitab Al-Quran) yang ia wariskan, atau mesjid yang ia bangun, atau rumah yang ia bangun untuk para musafir, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya pada saat ia sehat dan masih hidup. Semua (pahala) amal tersebut akan mengikutinya setelah ia meninggal dunia."

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauhul Mahfûzh)." [QS. Yâ Sîn: 12]

Sesungguhnya di antara rahmat Allah terhadap para hamba-Nya adalah bahwa jika seorang hamba meninggal dunia, maka keburukannya juga turut mati (terhenti). Padahal ada sebagian orang yang meninggal dunia dan bersemayam di dalam kubur, tetapi dosa-dosa mereka yang masih dicatat setelah kematian mereka masih menggunung, karena mereka melakukan dosa-dosa dan maksiat yang tidak mereka tinggalkan sampai mati. Sebagai contoh bisa kita lihat para penulis sekuler yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pembuat film-film porno, pencipta lagu-lagu maksiat, dan sebagainya.

Di sisi yang lain, ada sebagian orang yang mendapatkan taufik (bimbingan) dari Allah sehingga mereka mendekatkan diri kepada Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—dengan amal-amal shalih yang manfaatnya kekal di tengah masyarakat, sehingga pahalanya pun Allah alirkan untuk mereka setelah mereka meninggal. Lihatlah misalnya para ulama yang mewariskan ilmu bermanfaat di dalam buku-buku dan ceramah mereka, atau pun melalui murid-murid mereka. Siapa di antara kita yang bisa melepaskan diri dari fikih yang ditinggalkan oleh imam mazhab yang empat? Adakah di antara kita yang tidak membutuhkan kitab Shahîh Al-Bukhâri? Siapa di antara kita yang tidak mengenal Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan ulama-ulama besar lainnya yang telah meninggalkan ilmu-ilmu bermanfaat untuk Umat ini, dari satu generasi ke generasi yang lain. Siapa yang tidak mengenal Shalahuddin Al-Ayyûbi yang telah membebaskan Baitul Maqdis dan menyucikannya dari najis tentara Salib? Kita berdoa semoga Allah mengaruniakan kepada kita seorang tokoh yang akan membebaskan tanah suci itu dari penistaan orang-orang Yahudi saat ini.

Buku-buku sirah dan sejarah telah mengabadikan untuk kita kerja-kerja besar yang telah ditinggalkan oleh manusia-manusia besar. Ganjaran pahala untuk mereka masih mengalir, meskipun mereka sudah meninggal sejak ratusan tahun yang lalu.

Contoh lainnya adalah para shahabat Rasulullah yang telah membebaskan berbagai negeri kafir dan menebarkan cahaya Tauhid di dalamnya. Ganjaran pahala ibadah dan kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di negeri-negeri itu masih akan terus ditulis di dalam catatan amal para shahabat tersebut. Dan itu tanpa mengurangi pahala mereka yang berbuat itu sedikit pun. Kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di negeri Syam, misalnya, di samping tercatat sebagai pahala mereka sendiri, juga akan terus ditulis dalam catatan amal Abû Bakar Ash-Shiddîq, Umarul Fârûq, Utsmân ibnu 'Affân Dzun-Nûrain (pemilik dua cahaya), Abû `Ubaidah, Khâlid ibnul Walîd, Mu`âwiyah, dan para pemimpin serta prajurit lainnya yang menyertai mereka dalam membebaskan negeri itu.

Begitu juga kebaikan yang dilakukan oleh penduduk Mesir, di samping menjadi pahala bagi mereka sendiri, juga masih terus ditulis dalam catatan Umar, Utsmân, `Amru ibnul `Âsh, dan tokoh-tokoh besar lainnya.

Contoh lainnya adalah ahlul Qur'ân (para pakar Al-Quran) yang mengajarkan anak-anak kaum muslimin bagaimana cara membaca dan melantunkan Al-Quran. Dengan usaha mereka, ilmu ini berpindah dari satu orang ke orang yang lain, dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pahala pengajaran Al-Quran itu akan mengalir kepada setiap mata rantai generasi yang mengajarkannya itu. Barangkali Anda bisa membayangkan betapa banyak pahala yang mereka peroleh setiap harinya. Apalagi jika Anda mengetahui bahwa Al-Quran terdiri dari 300.000 huruf lebih, dan setiap huruf dibalasi ganjaran pahala sepuluh kebaikan. Kita berdoa semoga Allah mencurahkan karunia-Nya kepada kita.

Pembaca yang budiman, ada satu contoh lagi dalam masalah ini yang ingin penulis sampaikan kepada Anda. Ini adalah kisah seorang wanita shalihah, istri Hârûn Ar-Rasyîd yang dalam sejarah dikenal dengan nama Zubaidah.

Pada suatu ketika, ia pergi menunaikan ibadah haji bersama suaminya, Hârûn Ar-Rasyîd—Semoga Allah merahmatinya. Pada saat itu, di Mekah tidak ada sumber air selain sumur zam-zam. Ketika ia melihat besarnya kebutuhan jemaah haji terhadap air dan kesulitan yang mereka hadapi untuk memenuhi kebutuhan itu saat pelaksanaan haji, ia pun memerintahkan bendaharawannya untuk mengucurkan berapa pun dana yang dibutuhkan, dan mengupah para arsitek terbaik untuk mencari sumber air tawar yang mengalir dan tidak pernah habis, lalu dialirkan ke kawasan-kawasan tempat pelaksanaan ritual haji. Dengan begitu, maka kebutuhan para jemaah haji terhadap air dapat terpenuhi.

Perintah tersebut pun dijalankan dengan sangat baik. Para arsitek itu mengalirkan air dari bukit Thâ`if menuju Mekah. Mereka juga menambahnya dengan air sumur dan mata air-mata air yang lain, di samping juga mendirikan tempat-tempat peristirahatan. Aliran air itu dikenal dalam sejarah dengan nama `Uyûn Zubaidah (mata air Zubaidah).

Bekas dari amalan baik ini masih bisa kita lihat sampai saat ini. Dan perlu disebutkan, bahwa sudah ada usaha-usaha untuk menghidupkan kembali dan memanfaatkan 'Uyûn Zubaidah ini. Hal itu barangkali sebagai balasan atas niatnya yang tulus. Semoga Allah merahmatinya.

Saudaraku, sekarang mari kita bertanya kepada diri kita, kebaikan apa yang sudah kita siapkan untuk kelak kita wariskan? Apa amalan baik kita yang akan ditulis dalam catatan amal kita kelak setelah kita meninggal dunia?

Apakah Anda telah meninggalkan anak-anak yang shalih untuk Umat ini? Ataukah Anda sudah mengajarkan anak-anak kaum muslimin bagaimana cara membaca Al-Quran? Ataukah Anda telah mewakafkan sebagian dari harta yang Anda miliki? Ataukah Anda sudah pernah menggali sumur dan membangun mesjid yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain sepeninggal Anda? Ringkasnya, sudahkah Anda memiliki sesuatu untuk ditinggalkan?

www.islamweb.net