Tangisan; Pencuci Kotoran Hati

26/07/2023| IslamWeb

Adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa tangisan karena takut kepada AllahSubhânahu wata`âlâ—dapat melembutkan hati dan menghapus kotoran yang ada di dalamnya. Yazîd ibnu Maisarah—semoga Allah merahmatinya—mengungkapkan, "Menangis disebabkan oleh tujuh hal: karena bahagia, karena sedih, karena takut, karena riya, karena sakit, karena syukur, dan karena takut kepada AllahSubhânahu wata`âlâ. Setetes air mata karena takut kepada Allah dapat memadamkan lautan api."

Allah—Subhânahu wata`âlâ—memuji orang-orang yang suka menangis karena takut kepada-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat (yang artinya): "Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan muka mereka bersujud. Dan mereka berkata, 'Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi'. Dan mereka menyungkurkan muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." [QS. Al-Isrâ': 107-109]

Menangis merupakan bagian dari perasaan, karena ia adalah fitrah. Manusia tidak dapat mencegah dirinya untuk menangis. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan Dia-lah yang membuat kalian tertawa dan menangis." [QS. An-Najm: 43]

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, "Maksud ayat ini adalah bahwa Allah telah menetapkan sebab-sebab tawa dan tangis."

Sementara 'Athâ` ibnu Abu Muslim mengatakan, "Maksudnya adalah bahwa Allah yang membuat kita bahagia dan sedih. Karena bahagia mendatangkan tawa, dan sedih menyebabkan tangis."

Macam-macam Tangisan

Para ulama menyebutkan bahwa ada beberapa jenis tangisan. Di antara ulama yang menyatakan itu misalnya adalah Imam Ibnul Qayyim—semoga Allah merahmatinya. Ia menyebutkan bahwa tangisan ada sepuluh macam:

-      Tangis ketakutan dan kecemasan;

-      Tangis kasih sayang dan kelembutan hati;

-      Tangis cinta dan kerinduan;

-      Tangis bahagia dan kegembiraan;

-      Tangis karena rasa sakit dan tidak sanggup menahannya;

-      Tangis kesedihan.

Ibnul Qayyim membedakan antara tangis kesedihan ini dengan tangis ketakutan. Tangis kesedihan disebabkan oleh sesuatu yang telah dialami, baik sesuatu yang tidak diharapkan maupun meninggalnya orang yang sangat dicintai misalnya. Sementara tangisan ketakutan terjadi karena kecemasan terhadap apa yang akan dialami di masa mendatang. Adapun perbedaan antara tangis bahagia dengan tangis sedih adalah bahwa air mata bahagia itu dingin dan disertai dengan hati yang gembira. Sementara air mata kesedihan itu panas dan disertai dengan hati yang sedih. Oleh karena itu, sesuatu yang membuat gembira disebut dalam istilah bahasa Arab dengan "Qurratu 'ain" (penyejuk mata). Sedangkan sesuatu yang membuat sedih disebut "Sakhinatul 'ain" (pemanas mata).

-      Tangis ketidaksanggupan dan kelemahan;

-      Tangis kemunafikan, yaitu mata menangis namun hati keras;

-      Tangis bayaran. Seperti ratapan yang dikeluarkan karena dibayar. Inilah yang diungkapkan Amirul Mukminin Umar ibnul Khattâb—Semoga Allah meridhainya, "Ia menjual air matanya dan menangisi kesedihan orang lain."

-      Tangis ikut-ikutan. Maksudnya adalah seseorang melihat orang lain menangis karena suatu sebab, lalu ia juga ikut menangis bersama mereka, akan tetapi ia tidak tahu apa penyebab mereka menangis.

Keutamaan Menangis karena Takut kepada Allah

Tangisan karena takut kepada Allah memiliki keutamaan yang sangat besar. Ketika menyebutkan sifat sebagian nabi-nabi-Nya serta memuji mereka, AllahSubhânahu wata`âlâ—kemudian berfirman (yang artinya): "Jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah mereka menyungkur bersujud dan menangis." [QS. Maryam: 58]

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—juga berfirman tentang para penghuni Surga (yang artinya): "Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab Neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang'." [QS. Ath-Thûr: 25-28]

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—bersabda:

·         "Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sampai susu (yang telah diperah) kembali masuk ke dalam ambing (kantong susu pada binatang perahan)."

·         "Ada tujuh golongan yang akan berada dalam naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, (salah satunya) seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu berlinang air matanya."

·         "Dua mata yang tidak akan disentuh api Neraka: yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang digunakan untuk berjaga di jalan Allah."

·         "Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah daripada dua jenis tetesan dan dua bekas di tubuh. (Dua tetesan itu adalah) tetesan air mata karena takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang (berjihad) di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah bekas/luka pada tubuh karena bertempur di jalan Allah, dan bekas pada tubuh karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah."

Generasi Salaf demikian memahami tingginya nilai tangisan karena takut kepada AllahSubhânahu wata`âlâ. Abdullah ibnu Umar—Semoga Allah meridhainya—mengatakan, "Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak dengan uang seribu dinar!".

Ka'ab Al-Ahbâr mengatakan, "Sungguh, mengalirnya air mataku hingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah lebih aku sukai daripada berinfak dengan emas seberat tubuhku."

Tangisan NabiShallallâhu `alaihi wasallam

Ibnu Mas'ûd—Semoga Allah meridhainya—bercerita, "Suatu ketika, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—berkata kepadaku, 'Bacakanlah Al-Quran kepadaku'. Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al-Quran kepada Anda sementara ia diturunkan kepada Anda?'. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh orang selain diriku'. Aku pun kemudian membacakan kepada beliau surat An-Nisâ. Sampai akhirnya, ketika aku sampai ke ayat (yang artinya): "Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka." [QS. An-Nisâ: 40], beliau berkata, 'Cukup sampai di sini saja'. Lalu aku menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau basah oleh air mata."

Ketika menyaksikan para shahabat menggali kuburan untuk memakamkan seorang muslim yang wafat, NabiShallallâhu `alaihi wasallamberdiri di sisi kuburan itu dengan menangis, lalu bersabda, "Wahai saudara-saudaraku, persiapkanlah diri kalian untuk menghadapi saat-saat seperti ini."

Abdullah ibnu Asy-Syikhkhîr—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Suatu hari, aku mendatangi Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—ketika beliau sedang mengerjakan shalat, dan saat itu, suara beliau serak karena tangisan, seperti suara air mendidih."

Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya—menceritakan, "Suatu ketika, NabiShallallâhu `alaihi wasallammenziarahi makam ibu beliau. Beliau kemudian menangis dan membuat orang-orang yang berada di dekat beliau ikut menangis." [HR. Muslim]

Pada suatu malam, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—mengerjakan shalat qiyâmullail, dan beliau terus menangis sampai pangkuan beliau basah oleh air mata. 'Aisyah menceritakan, "Ketika beliau duduk (dalam shalat), beliau terus menangis sampai jenggot beliau pun basah oleh air mata. Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai lantai (tempat beliau shalat) pun ikut basah (karena air mata)! Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan azan Subuh. Ketika melihat Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—menangis, Bilal pun berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah berlalu maupun yang akan datang?' Nabi menjawab, 'Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang membacanya namun tidak merenungi kandungannya! Yaitu firman Allah (yang artinya): 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.' [QS. Ali Imran: 190]."

Tangisan Para Shahabat—Semoga Allah meridhai mereka.

Di atas, kita telah menyimak sedikit tentang gambaran tangisan Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Para shahabat—Semoga Allah meridhai mereka—pun juga mempelajari pentingnya tangisan ini dari Nabi mereka yang mulia.

Dalam sebuah riwayat, Anas—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Suatu ketika, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—berkhutbah dengan khutbah yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Beliau mengungkapkan, 'Jikalau kalian tahu apa yang aku tahu niscaya kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis'. Mendengar itu, para shahabat menutup wajah mereka dan mereka menangis tersedu-sedu." Dalam riwayat lain disebutkan: "Suatu ketika, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—mendengar kabar tentang perilaku sebagian shahabat beliau, lalu beliau pun berkhutbah dengan berkata, 'Telah diperlihatkan kepadaku Surga dan Neraka. Dan aku tidak melihat (di Surga dan Neraka itu) seperti yang aku lihat pada hari ini, baik tentang kebaikan maupun keburukan. Jikalah kalian tahu apa yang aku tahu niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis'. Mendengar itu, pada shahabat Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—pun menangis. Tidak pernah terjadi sebelumnya di mana para shahabat menutup wajah mereka sambil menangis terisak-isak."

Utsman ibnu Affan bila berdiri di samping kuburan selalu menangis hingga jenggotnya basah. Lalu ada yang bertanya kepadanya, "Bila disebutkan Surga dan Neraka engkau tidak menangis, tapi mengapa engkau menangis karena kuburan ini?" Utsman menjawab, "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, 'Sesungguhnya kuburan merupakan tempat pertama yang menjadi bagian dari Akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka pada bagian-bagian yang berikutnya akan lebih mudah. Namun, jika ia tidak selamat di sana, maka yang berikutnya akan lebih sulit lagi'. Utsman melanjutkan, "Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—juga bersabda, 'Tidaklah ada satu pemandangan pun yang aku lihat (di dunia) melainkan kuburan lebih buruk darinya'."

Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya—menangis pada saat ia sakit menjelang ajalnya. Saat itu, ada yang bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?!" Ia menjawab, "Aku bukan menangis karena dunia kalian (yang akan aku tinggalkan) ini. Aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui, sementara bekalku teramat sedikit. Aku akan mendaki jalan ke Surga atau ke Neraka, dan aku tidak tahu akan kemanakah aku digiring nanti."

Mu'adz ibnu Jabal—Semoga Allah meridhainya—pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ada yang bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Ia menjawab, "Karena Allah—`Azza wa jalla—hanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk Surga, dan yang satunya lagi akan masuk ke dalam Neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan yang manakah aku."

Al-Hasan pun pernah menangis, dan ketika ia ditanya, "Apa yang membuatmu menangis?", ia menjawab, "Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam Neraka dan tidak memperdulikanku lagi."

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Tamîm Ad-Dârî—Semoga Allah meridhainya—suatu ketika membaca ayat (yang artinya): "Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih?" [QS. Al-Jâtsiyah: 21]. Ia terus mengulang ayat ini sampai Subuh dalam keadaan menangis.

Hudzaifah ibnul Yaman—Semoga Allah meridhainya—pernah menangis sejadi-jadinya. Ketika ditanya, "Apa yang membuatmu menangis?" ia menjawab, "Sebab aku tidak tahu di mana aku berjalan, apakah aku berjalan dalam keridhaan Allah atau aku berjalan dalam kemurkaan-Nya."

Pada suatu hari, Abdurrahman ibnu Auf dihidangkan makanan. Ia lalu berkata, "Mush'ab ibnu Umair dahulu terbunuh, dan ia lebih baik daripada diriku. Ketika ia meninggal, tidak ada selembar kain pun yang dapat dipergunakan untuk kafannya, melainkan hanya selembar kain. Hamzah—atau laki-laki lain—juga dahlu terbunuh sementara ia lebih baik daripada diriku. Tidak ada yang dapat dijadikan kafannya melainkan selembar kain saja. Aku takut kalau-kalau kesenangan kita telah disegerakan oleh Allah di dunia ini (sehingga tidak ada lagi kesenangan untuk kita di Akhirat)." Setelah itu, Abdurrahman pun menangis.

Suatu hari, Ibnu Mas'ûd berjalan melewati para tukang besi. Saat itu, ia melihat besi-besi mengeluarkan api. Ia pun berdiri dan memperhatikan besi-besi yang dileburkan itu sambil menangis. Sepertinya ketika itu ia mengingat Neraka dan para penghuninya yang sedang diazab.

Suatu kali, Abu Musa Al-Asy'ary—Semoga Allah meridhainya—berkhutbah di hadapan penduduk Basrah. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan tentang Neraka, lalu ia menangis hingga air matanya membasahi mimbar, dan para jemaah pada saat itu juga ikut menangis sejadi-jadinya.

Nâfi' menceritakan, "Ibnu Umar apabila membaca ayat (yang artinya): "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?" [QS. Al-Hadîd:16], ia selalu menangis hingga ia tidak mampu menguasai tangisnya."

Masruqsemoga Allah merahmatinya—menceritakan, "Suatu ketika, aku membacakan kepada Aisyah ayat (yang artinya): 'Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab Neraka.' [QS. Ath-Thûr: 27]. Mendengar ayat ini, 'Aisyah pun menangis dan berkata, 'Ya Rabb, berilah aku karunia-Mu dan peliharalah aku dari azab Neraka'."

Lihat pula seorang shahabat bernama Abdullah ibnu Rawâhah—Semoga Allah meridhainya. Suatu hari, ia membaringkan kepala di pangkuan istrinya seraya menangis. Menyaksikan itu, sang istri pun ikut menangis. Abdullah lalu bertanya kepada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" Istrinya menjawab, "Karena melihatmu menangis, aku juga menangis." Abdullah berkata, "Aku teringat firman Allah`Azza wa Jalla—(yang artinya): 'Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan akan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan'. [QS. Maryam: 71]. Dan aku tidak tahu, apakah aku akan selamat dari Neraka itu atau tidak."

Sebuah hadits diriwayatkan dari Anas ibnu Mâlik, bahwa NabiShallallâhu `alaihi wasallamberkata kepada Ubai ibnu Ka'ab, "Sesungguhnya Allah menyuruhku agar membacakan Al-Quran kepadamu". Lantas Ubai berkata, "Apakah Allah menyebut namaku kepadamu, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Ya." Ubai kembali bertanya untuk meyakinkan, "Apakah namu di sebut di sisi Allah Tuhan Semesta Alam?" Rasulullah kembali menjawab, "Ya." Mendengar itu, berlinanglah air mata Ubai.

Generasi Salafus shalih pun sangat memelihara nilai-nilai yang mulia ini, sehingga kita juga dapat menemukan contoh-contoh menakjubkan dari diri mereka. Misalnya, Ismail ibnu Zakariya yang menceritakan kehidupan Habib ibnu Muhammad yang merupakan tetangganya. Ismail bertutur, "Jika aku keluar pada sore hari, aku mendengar suara tangisannya, begitu pula jika aku keluar pada pagi hari, aku juga mendengar suara tangisannya. Lalu aku pun mendatangi istrinya dan bertanya, 'Apa yang terjadi pada suamimu, sehingga ia selalu menangis di setiap sore dan pagi hari?' Istrinya menjawab, 'Demi Allah, itu karena jika datang waktu sore ia takut tidak akan bertemu lagi dengan pagi. Dan jika datang waktu pagi, ia takut tidak akan bertemu lagi dengan sore."

Ketika Athâ` As-Sulaimi ditanya, "Kesedihan apa yang ada pada dirimu ini?" ia menjawab, "Kematian ada di leherku, kuburan akan menjadi rumahku, di hari Kiamat aku akan berdiri, dan jembatan Jahanam akan menjadi jalanku. Sementara aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadap diriku."

Fadhâlah ibnu Shaifi adalah lelaki yang banyak menangis. Suatu hari, seorang pemuda mendatanginya ketika ia sedang menangis. Pemuda itu pun bertanya kepada istrinya, "Apa yang terjadi padanya?" Istri Fadhâlah menjawab, "Ia mengaku akan pergi melakukan perjalanan jauh sementara ia tidak mempunyai bekal."

Suatu ketika, seorang laki-laki membaca sebuah ayat Al-Quran di dekat Umar ibnu Abdul Azîz yang saat itu menjadi gubernur Madinah. Ayat yang dibacanya adalah firman Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—(yang artinya): "Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di Neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan." [QS. Al-Furqân: 13]. Mendengar ayat tersebut, Umar menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya terdengar begitu keras. Lalu ia berdiri dari majelisnya, kemudian masuk ke kamarnya. Orang-orang yang berkumpul di sana pun segera bubar.

Terakhir, Abu Sulaimansemoga Allah merahmatinya—berkata, "Biasakanlah mata kalian untuk menangis, dan biasakanlah hati kalian untuk berpikir."

Manfaat Menangis karena Takut kepada Allah:

1.    Ia dapat melahirkan kelembutan hati;

2.    Ia merupakan salah satu karakteristik orang shalih;

3.    Ia merupakan salah satu sifat penghuni Surga yang selalu khusuk dan merasa takut;

4.    Ia adalah jalan keberuntungan untuk meraih keridhaan dan cinta Allah.

Makalah ini hanyalah penjelasan sepintas tentang beberapa keutamaan menangis, disertai dengan beberapa teladan dari orang-orang shalih terdahulu yang selalu takut kepada Allah, serta senantiasa menangis karena rasa takut itu. Apakah kita mau menjadikan mereka sebagai teladan kita?!

 

 

www.islamweb.net