Tujuan Akhlak

31/03/2019| IslamWeb

Tujuan kita di balik setiap perkataan, perbuatan, gerakan, dan diam kita, serta tujuan kita dalam meninggalkan keburukan dan melaksanakan kebaikan adalah memperoleh keridhaan Rabb kita, dan agar jiwa kita menjadi suci dan bersih, sehingga layak diseru di pintu surga dengan seruan, "Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Berbahagialah kalian. Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya." [QS. Az-Zumar: 73]

Allah—Subhânahu wata`âlâ—bersumpah sebanyak sebelas kali secara berurutan bahwa tidak berhak mendapatkan surga, dan terbebas dari neraka melainkan orang yang suci dan bersih jiwanya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya."  [QS. Asy-Syams: 1-10].

Komitmen moral ini pada hakikatnya mendatangkan kebahagiaan individu dan masyarakat di dunia dan di akhirat. Iman kepada Allah dan Hari Akhir bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, dan masuk ke dalam puing-puing reruntuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi. Seperti halnya kecanggihan, kunggulan, dan kemajuan bukan berarti kufur terhadap Sang Pencipta bumi dan langit, serta larut dalam syahwat yang haram, sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan orang-orang Barat yang materialis. Manusia dalam kondisi seperti ini berada antara dua titik ekstrim, antara terlalu semangat dan lalai, antara berlebihan dan kaku, dan antara bersangatan dan mengabaikan. Keadilan adalah pondasi kejayaan. Dengan keadilan langit dan bumi berdiri. Al-Ghazali—Semoga Allah merahmatinya—mengatakan, "Kita tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan membersihkan diri dari syahwat, dan meninggalkan kelezatan, dan hanya mengambil kebutuhan dasar semata dari dunia." Perkataan ini benar, jika maksudnya adalah syahwat dan kelezatan yang haram. Jika tidak, maka kita terjatuh ke dalam tindakan mengharamkan sesuatu yang halal, atau menyempitkan sesuatu yang luas, atau mendatangkan kesulitan kepada manusia. Ini tidak boleh, sebagaimana kita tidak boleh menghalalkan sesuatu yang haram. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah setiap (memasuki) Masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?' Katakanlah, 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari Kiamat.' Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu kepada orang-orang yang mengetahui." [QS. Al-A`râf: 31-32].

Sebagian kalangan mengatakan, maksud kesenangan yang menipu adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari mencari kebaikan akhirat. Adapun sesuatu yang tidak melalaikan dari kebaikan akhirat adalah kesenangan yang menyampaikan kepada kesenangan yang lebih baik.

Celaan terhadap dunia tidak diarahkan kepada masa atau tempatnya, akan tetapi diarahkan kepada perbuatan hamba yang melanggar syariat Allah. Dunia harus dimakmurkan dengan ketaatan kepada Allah, dengan mencipatakan peradaban yang berdiri di atas ajaran Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—, dan kita selalu berpegang kepada Islam di mana pun kita berada. Halal adalah apa yang dihalalkan Allah, dan haram adalah apa yang haramkan Allah. Begitu juga agama adalah apa yang disyariatkan-Nya, dan kita tidak berhak mengucapkan selain, "Kami dengar dan kami taat.' (mereka berdoa), 'Ampunilah kami Ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali." [QS. Al-Baqarah: 285].

Hubungan antara Akhlak dan Ibadah

Ibadah adalah sebuah kata yang maknanya mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik perkataan, perbuatan yang tampak, dan yang tidak tampak. Shalat adalah ibadah. Begitu juga puasa, haji, zakat, dan menyeru kepada kebaikan, dan mencegah dari kemungkaran termasuk ibadah. Termasuk juga jihad melawan orang kafir, dan orang munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, mengasihi dan bersikap lembut kepada orang lain, berdoa, berdzikir, membaca Al-Quran, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut pada Allah dan tunduk kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, sabar atas ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha atas ketetapan-Nya, bertawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut pada siksaan-Nya, semua ini masuk dalam pengertian ibadah. Karena ibadah adalah kesempurnaan cinta yang disertai kesempurnaan ketundukan dan kerendahan. Ibadah adalah tujuan di balik penciptaan makhluk. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan, lagi sangat kokoh." [QS. Adz-Dzâriyât: 56-58].

Adalah salah orang yang mengira bawah ibadah itu hanya shalat, puasa, dan haji saja. Semua perkara dalam agama adalah ibadah. Politik, ekononi, masalah sosial kemasyarakatan, akhlak, dan seluruh dimensi kehidupan manusia masuk dalam ibadah. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." [QS. Al-An`âm: 162-163].

Dari sini kita bisa memahami bahwa akhlak yang mulia dan baik termasuk urusan agama, dan merupakan salah satu pilar asasi dalam ibadah. Perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah, terkait shalat dan puasa tidak terpisah dari perintah yang terkait dengan kejujuran dan keadilan. Kita harus mengagungkan syiar dan syariat Allah dan mengatakan, "Kami dengar dan kami taat.' (mereka berdoa), 'Ampunilah kami, ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." [QS. Al-Baqarah: 285].

Kita menolak jika akhlak dikatakan sebagai adat dan tradisi sebagaimana kita menolak larut di dalam filsafat, perasaan, dan logika yang bertentangan dengan agama Allah, dan juga menjadikan para sufi dan filusuf sebagai orang yang terdepan dalam akhlak dan kesucian. Karena semua itu adalah perkara yang bertentangan dengan kebenaran dan hakikat.

Manusia dimulai dari Nabi Adam—`Alaihis salâm, kemudian dia diikuti oleh para rasul setelahnya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." [QS. Fâthir: 24]. Agama yang benar hanyalah satu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." [QS. Âli `Imrân: 19].

Sedangkan yang berbilang adalah syariat. Syariat Islam menghukumi dan mengungguli seluruh syariat yang ada. Semua syariat tersebut memiliki kesamaan dalam lima perkara yang disebutkan dalam surat Al-A`râf (yang artinya): "Katakanlah, 'Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." [QS. Al-A`râf: 33].

Hubungan antara Akhlak dan Iman

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Iman itu tujuh puluh sekian cabang. Cabangnya yang paling tinggi adalah ucapan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]. Jadi, iman memiliki banyak cabang. Keimanan itu bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan. Orang beriman berbeda-beda dan bertingkat-tingkat dalam derajat keimanan mereka.

Jika rasa malu adalah salah satu cabang dari iman, maka hilangnya rasa malu merupakan salah satu cabang kekufuran. Dan dikiaskan dengan hal itu perilaku bohong dan pengkhianatan.

Terdapat banyak riwayat yag menunjukkan hubungan kuat antara akhlak dengan keimanan. Di antaranya bisa kita temukan dalam sabda Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—ketika menjawab pertanyaan, muslim manakah yang paling mulia. Beliau bersabda, "Orang yang kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya." [HR. Muslim].

Beliau juga bersabda, "Janganlah kalian saling dengki, janganlah saling marah, dan janganlah saling memalingkan diri. Janganah sebagian kalian menjual atas penjualan saudaranya (menawar atas penawaran saudaranya). Dan jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak menghinakannya. Ketaqwaan ada di sini," sambil menunjuk ke arah dada beliau sebanyak tiga kali. "Cukuplah keburukan bagi seorang muslim, dengan menghina saudaranya yang muslim." [HR. Muslim]. Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang berbicara tentang masalah ini.

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah—Semoga Allah merahmatinya—berkata, yang ringkasnya sebagai berikut: Jika iman itu, dasarnya adalah keimanan yang ada dalam hati, maka di dalamnya harus ada dua perkara: pertama, membenarkan dengan hati, mengakui, dan mengenal-Nya. Itulah tauhid. Kedua, mengamalkan dengan hati. Termasuk amalan hati adalah tawakkal kepada Allah semata, dan yang semisalnya, seperti mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai sesuatu yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan mengikhlaskan amal karena Allah semata. Amalan hati, seperti cinta, ikhlas, tawakkal, dan sebagainya adalah termasuk iman, sesuai dengan penjelasan di atas. Akhlak mulia juga termasuk di dalamnya. Karena tubuh tidak mungkin bisa terlepas diri dari keinginan hati. Karena jika di hati terdapat makrifat (pengetahuan) dan keinginan, tentu hal itu akan mengalir ke dalam tubuh. Maka dari itu Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal darah, yang jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan menjadi rusak. Ketahuilah, ia adalah hati." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

Dengan demikian, maka iman merupakan acuan dalam pembentukan nilai-nilai moral, sosial, dan sebagainya. Iman juga merupakan sumber terwujudnya komitmen moral. Karena ia yang mengendalikan semua naluri dan syahwat manusia. Sebagaimana iman juga merupakan pengendali perasaan dan motivasinya. Iman mencakup perkataan dan perbuatan. Akhlak mulia adalah perkataan dan perbuatan yang tidak bisa dilepaskan dari pengertian iman. Iman adalah kebaikan, hidayah, ketaqwaan, Islam, dan cahaya hati. Iman juga merupakan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Hubungan antara Akhlak dan Jiwa Manusia

Akhlak mulia bersesuaian dengan akal yang sehat dan fitrah yang normal. Untuk akhlak itulah para nabi diutus dan kitab suci diturunkan. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [QS. Ar-Rûm: 30].

Allah—Subhânahu wata`âlâ—menciptakan hati manusia dengan dibekali kesiapan untuk menerima kebenaran. Dengan fitrah, manusia mendapat petunjuk menuju Rabbnya, dan mengetahui syariat-Nya, serta beriman kepada-Nya. Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi." [HR. Al-Bukhâri].

Dalam meniti jalan menuju Allah hendaklah manusia menyadari bahwa peperangan antara kebaikan dengan keburukan sudah ada sejak lama, dan menyadari adanya sunnatullah dalam saling tarik menariknya antara keimanan dan kekafiran di satu sisi, dan antara orang yang berjalan di jalan yang lurus dengan orang yang dimurkai, dan tersesat, serta penganut ajaran buatan makhluk di sisi yang lain. Manusia diperebutkan, dan diperdaya oleh syetan, hawa nafsu, dan nafsu ammârah (yang selalu menyuruh kepada keburukan). Hal itu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap akhlak dan perilakunya. Inilah ujian. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." [QS. Al-Kahf: 7].

Dikatakan, bahwa manusia memiliki tiga jenis nafsu: nafsu ammârah bissû' (yang selalu menyuruh kepada keburukan), nafsu lawwâmah (yang selalu mencela), dan nafsu muthma'innah (yang tenang). Menurut penulis, pendapat yang benar adalah manusia hanya memiliki satu nafsu saja, dan padanya terdapat tiga keadaan. Kadang ia menjadi nafsu ammârah yang selalu menyuruh kepada keburukan dan kejahatan. Ini adalah teman syetan. Kadang ia berada dalam kondisi yang selalu mencela, yakni mencela tuannya: kenapa engkau katakan ini, dan kenapa engkau lakukan itu? Ini lebih baik bagimu dari apa yang engkau lakukan. Dikatakan juga, nafsu lawwâmah ini adalah nafsu seorang mukmin yang Allah bersumpah dengannya dalam firman-Nya (yang artinya): "Aku tidak bersumpah dengan nafsu lawwâmah." Kadang ia menjadi nafsu muthma'innah, yaitu nafsu yang Allah tanamkan ke dalamnya ketaqwaan. Ia mencela tuannya atas keburukan, dan mendorongnya untuk bertaubat dan beristighfar. Nafsu ini temannya malaikat yang meluruskan dan menunjuki jalannya. Nafsu ini disebut Allah dalam firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Hai nafsu (jiwa) yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku." [QS. Al-Fajr: 27-30].

Manusia hendaklah memohon kepada Rabbnya untuk kebaikan jiwanya dan berdoa kepada-Nya, "Ya Allah, perbaikilah kondisiku, dan jangan limpahkan urusanku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. Janganlah limpahkan urusanku kepada salah seorang makhluk-Mu. Ya Allah, karuniakan nafsuku ketaqwaan, sucikanlah ia. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan Rabbnya.

www.islamweb.net