Murâqabah; Syiar Orang Bertakwa

31/03/2019| IslamWeb

Sesungguhnya Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, baik di langit maupun di bumi. Apabila seorang mukmin sudah mengetahui hal ini, ia harus senantiasa merasakan murâqabah (pengawasan) Allah terhadap semua gerak dan tindakannya. Murâqabah adalah keyakinan seorang hamba bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak-geriknya, baik secara lahir maupun secara batin. Sifat ini merupakan buah dari pengetahuan seorang hamba bahwa Allah selalu mengawasinya, melihatnya, mendengar perkataannya, dan memantau semua perbuatannya dari waktu ke waktu.

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya):

·         "Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada." [QS. Al-Hadîd: 4];

·         "Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kalian; maka takutlah kepada-Nya." [QS. Al-Baqarah: 235];

·         "Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu." [QS. Al-Ahzâb: 52]

Dan di dalam hadits yang menceritakan kedatangan Jibril kepada Rasulullah, Rasulullah ditanya tentang makna ihsan, dan beliau ketika itu menjawab, "(Ihsân adalah) engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan bila engkau tidak dapat melihat-Nya (yakinlah bahwa) sesungguhnya Dia melihatmu."

Imam Ahmad berkata, "Saat engkau sedang sendiri, jangan katakan: aku sendiri, tetapi katakanlah: ada yang senantiasa mengawasi diriku. Dan jangan sekali-kali menyangka bahwa Allah pernah lalai walau hanya sekejap, atau menyangka bahwa Dia tidak tahu apa yang tersembunyi."

Murâqabah Berarti Beribadah dengan Nama-nama Allah yang Mulia

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa murâqabah merupakan bentuk ibadah kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia; Maha Mengawasi, Maha Memelihara, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Menyaksikan, dan Maha Menghitung. Barang siapa yang menyadari makna nama-nama ini, serta beribadah dengannya, niscaya akan lahirlah sifat murâqabah di dalam dirinya.

Allah Maha Mengawasi

Allah adalah Tuhan Yang Maha Mengawasi, Maha Mengetahui keadaan seluruh hamba-Nya, Maha Menghitung setiap detik nafas mereka, Maha Memelihara dan tidak pernah lalai, selalu hadir dan tidak pernah absen. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—menceritakan perkataan Nabi Isa kepada Tuhan-nya (yang artinya): "Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu." [QS. Al-Mâ'idah: 117]

Seorang tokoh pernah ditanya, "Apa yang dapat membantu kita untuk menundukkan pandangan?" Ia menjawab, "Dengan mengetahui bahwa penglihatan Allah lebih dahulu daripada pandanganmu kepada sesuatu."

Ibnul Mubarak suatu ketika berkata kepada seorang lelaki, "Awasilah Allah!" Lelaki itu bertanya tentang maksud perkataan tersebut, dan Ibnul Mubarak pun menjawab, "Usahakanlah seolah-olah engkau selalu melihat Allah."

Allah Maha Memelihara

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu." [QS. Saba': 21]. Barang siapa yang menyadari ini niscaya Allah akan senantiasa menjaga hati dan anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat.

Allah Maha Mengetahui

Barang siapa yang mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sampai isi hati manusia, bahkan segala hal yang terlintas di dalam benaknya, ia pasti akan selalu waspada dan malu kepada Allah. Ia juga pasti akan meninggalkan semua perbuatan maksiat.

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan rahasiakanlah perkataan kalian atau perlihatkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." [QS. Al-Mulk: 13]

Allah Maha Menyaksikan

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Tidaklah engkau berada dalam suatu keadaan, tidaklah engkau membaca suatu ayat dari Al-Quran, dan tidaklah engkau mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu engkau melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu walaupun hanya sebesar biji dzarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Al-Lauhul Mahfûzh)." [QS. Yûnus: 61]

Begitu seterusnya semua nama-nama Allah yang telah kita sebutkan di atas. Beribadah dengan nama-nama ini akan melahirkan sifat murâqabah, selalu merasakan pengawasan Allah.

Amir ibnu Qais pernah berkata, "Aku tidak pernah melihat sesuatu kecuali aku merasa bahwa Allah lebih dekat kepadaku daripadanya."

Ibnu Umar pernah lewat di dekat seorang pengembala, lalu ia ingin membeli seekor kambing darinya, tapi pengembala itu berkata, "Pemiliknya tidak berada disini." Kemudian Ibnu Umar berkata, "Katakan saja kepada pemiliknya bahwa kambing itu telah dimakan oleh serigala." Pengembala itu menengadah ke langit seraya berkata, "Lantas di manakah (kita posisikan) Allah?!" Mendengar itu, Ibnu Umar berkata, "Demi Allah, aku lebih berhak mengatakan 'Di manakah (kita posisikan) Allah?'" Kemudian ia membeli pengembala itu beserta seekor kambing gembalaannya, lalu ia memerdekakannya dan menghadiahkan kambing itu untuknya.

Sudah seharusnya setiap hamba merasakan pengawasan Allah terhadap dirinya, sebab tidak ada satu pun yang luput dari penglihatan-Nya. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat tentang apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Mujâdilah: 7]

Humaid Ath-Thawîl pernah berkata kepada Sulaiman ibnu Ali, "Berilah aku nasihat." Sulaiman pun berkata, "Apabila engkau bermaksiat kepada Allah secara tersembunyi sementara engkau tahu bahwa Allah melihatmu, berarti engkau telah berani melakukan suatu hal yang besar (baca: dosa), dan apabila engkau menyangka bahwa Allah tidak melihatmu berarti engkau telah kafir."

Ibnul Jauzi—Semoga Allah merahmatinya—berkata, "Allah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat leher si hamba itu sendiri. Tapi Allah memperlakukannya seakan Dia jauh darinya, sehingga Allah menyuruhnya untuk meluruskan niat kepada-Nya, mengangkat kedua tangan untuk berdoa kepada-Nya, serta berdoa hanya kepada-Nya. Hati orang-orang yang bodoh merasa bahwa Allah itu jauh. Oleh karena itulah mereka melakukan maksiat (dosa). Sebab apabila mereka merasakan pengawasan Allah Yang Maha Dekat dan Maha Melihat itu tentulah mereka akan menahan diri dari dosa-dosa. Sementara para pemilik hati yang hidup mengetahui bahwa Allah itu dekat, sehingga mereka selalu merasa diawasi oleh-Nya, serta meninggalkan segala perbuatan dosa."

Kita berdoa semoga Allah menganugerahkan kepada kita rasa takut kepada-Nya, serta senantiasa merasakan pengawasan-Nya, baik ketika kita sendirian maupun saat di hadapan orang lain. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa melakukan semua itu.

 

 

www.islamweb.net