Penelitian-penelitian Medis Seputar Ibadah Haji

22/11/2021| IslamWeb

Oleh: Hassan Syamsi Basha

Haji adalah sebuah musim ibadah yang unik. Pada musim ini, lebih dari dua juta umat Islam dari segala penjuru dunia, menyatu di satu tempat dalam rentang waktu beberapa minggu. Adalah pasti, bahwa ibadah haji mengharuskan banyak hal kepada setiap jemaah haji. Karena adanya berbagai kesulitan dalam perjalanan, keharusan berjalan kaki ketika menjalankan syiar-syiar haji, perubahan cuaca di Mekah dan Madinah pada musim panas, dll. Jadi, tidak heran jika banyak jemaah haji merasakan kelelahan akibat berhadapan dengan perubahan-perubahan mendadak itu. Kondisi tersebut juga menambah beban aktivitas jantung dan dada atau ginjal bagi para penderita sakit pada organ-organ tubuh tersebut.

Karena pelaksanaan ibadah haji dilakukan dalam waktu yang terbatas, maka banyak jemaah yang ragu-ragu melakukan konsultasi kesehatan, walaupun banyak layanan kesehatan gratis yang telah disediakan oleh kerajaan Arab Saudi bagi para jemaah haji. Banyak jemaah haji yang juga terburu-buru meminta keluar dari rumah sakit, agar tidak tertinggal salah satu rangkaian ibadah haji.

Yang membuat kita merasa senang adalah bahwa kita menemukan beberapa penelitian kesehatan yang disebarkan baru-baru ini di majalah-majalah kesehatan. Di antara penelitian tersebut adalah penelitian tentang Heatstroke (gangguan kesehatan yang parah akibat sengatan matahari) yang dialami oleh jemaah haji. Juga penelitian tentang problem-problem kesehatan dan oprasi bedah yang terjadi pada jemaah haji secara umum. Selain juga penelitian-penelitian seputar gangguan ginjal, radang meningitis, dan lain-lain.

Radang usus adalah penyakit yang paling banyak menyebar pada musim haji. Dr. Hasan Al-Ghaznawi dari Universitas King Abdul Aziz di Jedah pada tahun 1988 pernah mempublikasikan sebuah penelitian terhadap sejumlah jemaah haji dan diterbitkan oleh majalah Saudi Medical Journal. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa radang lambung dan usus adalah penyakit yang paling banyak tersebar di kalangan jemaah haji, terutama mereka yang datang dari Mesir dan Suriah. Para lansia umumnya lebih rentan terinfeksi penyakit ini. Penyakit kedua adalah radang paru-paru yang menyebabkan kasus kematian yang cukup tinggi pada mereka yang berusia lima puluh tahun ke atas.

Namun penyebab utama kasus-kasus kematian para jemaah haji adalah penyakit Heatstroke yang mengakibatkan kematian 28% dari para jemaah haji. Para lansia dan kaum perempuan umumnya lebih rentan mengalami kematian akibat berdesak-desakan ketika melontar jamrah.

Penyakit Jantung pada Jemaah Haji

Tidak diragukan lagi, bahwa ada banyak penderita penyakit jantung yang datang menunaikan haji setiap tahun. Dr. Muhammad Yusuf dari Rumah Sakit King Abdul Aziz di kota Madinah pernah melakukan serangkaian penelitian pada musim haji tahun 1413 H. Selama musim haji itu, sebanyak 754 orang jemaah haji masuk rumah sakit akibat menderita problem penyakit organ dalam. Persentase mereka yang menderita penyakit dada mencapai angka 73% dari kasus-kasus yang ada. Sementara mereka yang menderita penyakit jantung mencapai angka 61%. Seperempat dari pasien yang menderita penyakit jantung tersebut menderita serangan jantung koroner, sedangkan seperempat lainnya mengalami tekanan darah tinggi.

Persentase jamaah haji yang mengalami stroke pada jantung (Myocardial Infarction) mencapai 16% dari total kasus yang ada. Amat disayangkan, ternyata mayoritas pasien terinfeksi lebih dari satu penyakit. Sebanyak 57 orang jemaah haji meninggal dunia selama periode tersebut. Setengah dari jumlah itu disebabkan oleh stroke pada jantung.

Seorang peneliti menegaskan dalam hasil penelitian yang ia presentasikan pada muktamar asosiasi jantung tahun 1995, bahwa berhentinya pasien mengkonsumsi obat adalah alasan mengapa banyak dari mereka masuk rumah sakit. Sementara salah satu masalah yang dihadapi oleh para dokter dalam mengobati para jemaah haji adalah sulitnya terjadi kesepahaman dengan pasien disebabkan oleh hambatan bahasa dan tidak adanya laporan medis para pasien yang menginformasikan kondisi kesehatan mereka sebelum datang menunaikan ibadah haji.

Heatstroke bagi Jemaah Haji

Heatstroke adalah kondisi darurat kesehatan yang ditandai dengan tingginya suhu tubuh hingga melebihi 40°C tanpa ada keringat, serta terjadinya gangguan pada sistem saraf, mulai dari kekacauan mental hingga hilangnya kesadaran (koma). Di Arab Saudi, di mana suhu selama musim panas kadang mencapai angka 48°C, kasus-kasus Heatstroke biasanya jarang terjadi pada penduduk lokal, karena mereka sudah terbiasa dengan hawa panas seperti itu. Tapi kasus penyakit Heatstroke meningkat secara signifikan selama musim, menimpa jemaah haji dari luar negeri, ketika musim panas tiba.

Kasus Heatstroke ini biasanya terjadi dalam dua minggu pertama bulan Dzulhijjah, dalam perjalanan yang membentang dari Mekah ke Arafah, kemudian Mina, dan kembali ke Mekah. Ini disebabkan oleh padatnya jemaah, cuaca yang panas, dan banyak lagi faktor yang lain. Pemerintah Pelayan Dua Tanah Suci sebenarnya telah memberlakukan pengaturan khusus untuk pencegahan dan pengobatan Heatstroke di pusat-pusat kesehatan khusus di Mekah, Mina, dan Arafah. Pusat-pusat kesehatan tersebut memiliki unit khusus untuk mendinginkan badan, yang diberi nama Unit Pendingin Badan Mekah.

Jurnal Medis Arab Saudi tahun 1986 M. telah menerbitkan sebuah penelitian yang membandingkan antara dua metode pendinginan. Yang pertama adalah metode pendinginan cepat oleh Unit Pendingin Badan. Dan yang kedua adalah metode pendinginan tradisional dan sederhana, yaitu dengan menutup badan pasien dengan kain kasa lembab dan menyemprotkan air biasa di kamar pasien, kemudian mengarahkan kipas angin ke badannya dari semua arah. Tidak ada perbedaan waktu yang signifikan untuk masa pendinginan atau hasil dari dua metode ini. Hal yang menunjukkan bahwa metode tradisional dan sederhana masih efektif untuk mengobati kasus Heatstroke ini.

Para peneliti menyebutkan banyak faktor yang menimbulkan Heatstroke pada jemaah haji, di antaranya:

1.    Suhu panas dan kelembaban yang tinggi pada malam hari ketika haji jatuh pada musim panas;

2.    Padatnya jemaah haji, sehingga pergerakan udara berkurang;

3.    Tidak terbiasa dengan cuaca panas;

4.    Aktivitas-aktivitas berat yang dilakukan oleh jemaah haji, seperti berjalan di tengah siang, bersikeras mendaki jabal Rahmah pada hari Arafah, dan berjalan berkilo-kilo meter;

5.    Kemacetan lalu lintas, serta tidak adanya AC di kebanyakan bus-bus yang mengangkut jemaah;

6.    Banyak di antara para pasien tersebut yang sebelumnya memang pernah menderita beragam penyakit, seperti diabetes, jantung, dan lain-lain;

7. Kegemukan (obesitas);

8. Kekeringan;

9. Lanjut usia.

Perubahan Aktivias Jantung pada Heatstroke

Jurnal Asosiasi Jantung Arab Saudi edisi tahun 1994 M. menerbitkan sejumlah makalah penelitian yang dipresentasikan oleh para peneliti dalam konferensi penyakit jantung, di kota Dammam, pada bulan Januari 1994. Di antaranya adalah penelitian Dr. Layth Mimish dari Rumah Sakit Spesialis Raja Faisal di Riyadh. Ia bersama rekan-rekannya mempelajari perubahan pada grafik aktivitas jantung 28 pasien yang menderita kelelahan akibat panas (Heat Exhanstion) dan 34 pasien yang menderita Heatstroke. Ternyata ditemukan ketidaknormalan grafik gerak jantung pada 29 orang dari 34 pasien. Kecepatan detak jantung (Sinus Tachycardio) merupakan masalah yang banyak terjadi pada pasien-pasien itu. Dan beberapa perubahan pada grafik gerak jantung menunjukkan adanya kekurangan pada pengairan otot jantung.

Prof. Dr. Muhammad Nuh dari rumah sakit Universitas Raja Khalid di Riyadh menampilkan sebuah penelitian terhadap 51 orang jemaah haji yang menderita penyakit Heatstroke melalui alat EKG dengan gelombang ultrasonografi. Penelitian tersebut menemukan bahwa 17 % dari mereka mengalami gangguan topikal pada pergerakan otot jantung. Sebagaimana juga terjadi efusi perikardial (selaput pembungkus otot jantung) pada seperempat dari jumlah total kasus yang terjadi.

Penyakit Parasit pada Musim Haji

Dr. Sarwat dari Rumah Sakit An-Nur di Mekah melakukan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal J. Egypt Soc. Parasitology, edisi tahun 1993, tentang persentasi terjadinya penyakit parasit pada para jemaah haji. Dalam penelitian itu terbukti bahwa yang paling banyak menyebar adalah penyakit diare akibat parasit Giardia. Penyakit ini umum terjadi pada negara-negara berkembang. Penyakit ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan tinja. Dan ia dapat diobati dengan mudah menggunakan obat yang disebut Metronidazole (Flagyl). Selain itu, juga terjadi beberapa kasus penyakit malaria dan schistosomiasis (demam siput). Para peneliti menegaskan bahwa pemeriksaan urin dan tinja masih tetap menjadi sarana yang sangat efektif untuk mendiagnosa penyakit ini.

Para jemaah haji dianjurkan sebelum berangkat haji untuk melakukan tes kesehatan dan membawa laporan medis tentang penyakitnya. Selain juga disarankan untuk membawa obat-obatan dalam jumlah yang cukup, supaya tidak terjadi keterputusan konsumsi obat yang telah disarankan oleh dokter kepadanya.

Ada beberapa saran umum bagi para jemaah haji, di antaranya yang terpenting adalah:

1.    Menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta mencuci sayur dan buah-buahan dengan baik;

2.    Mengindari terpaan sinar matahari dalam waktu yang lama, dan berusaha menjauhi tempat-tempat ramai sebisa mungkin;

3.    Istirahat dan tidur yang cukup;

4.    Memakai pakaian katun yang ringan, lebar, dan berwarna cerah;

5.    Banyak meminum cairan saat hari panas, terutama di hari Arafah;

6.    Mengurangi intensitas kerja otot, seperti berjalan di pasar ketika udara panas;

7.    Segera berkonsultasi dengan dokter ketika merasa sakit.

[Sumber: www.saaid.net]

www.islamweb.net