Efek Haji dalam Merealisasikan Tauhid

22/11/2021| IslamWeb

Oleh: Sa`ûd ibnu Sa`ad Ar-Rasyûd

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam yang paling sempurna semoga senantiasa tercurah kepada Nabi dan kekasih kita, Nabi Muhammad ibnu Abdullah—Shallallâhu `alaihi wasallam, juga kepada keluarga dan para shahabat beliau, serta orang-orang yang meniti jalan mereka sampai Hari Akhir kelak.

Saudara-saudara seiman.

Pada hari-hari seperti saat ini, setiap tahun, dunia Islam kedatangan suatu kesempatan agung, di mana kemuliaan waktu dan tempat bergabung pada satu momen. Ia adalah kesempatan menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Saat seluruh tamu Allah bertemu di tempat-tempat suci Tanah Haram dari berbagai penjuru bumi. Mereka datang dengan harapan meraih ampunan dan keridhaan Allah. Telinga-telinga mereka bergetar oleh suara talbiyah. Hati mereka tunduk khusyuk untuk menggapai harapan dan cita-cita, sebagai pengunjung Rumah Allah yang suci. Rumah yang Allah jadikan sebagai tautan hati yang dirindukan oleh manusia, sekaligus tempat berkumpul dan naungan yang aman bagi mereka. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman." [QS. Al-Baqarah: 125]

Oleh karena itu, seyogianya pertemuan sedunia pada waktu yang ditentukan ini bisa dimanfaatkan. Hendaknya bisa ditemukan cara terbaik untuk menanamkan dan mewujudkan nilai-nilai Tauhid pada diri para pengunjung Baitullah selama mereka tinggal di negeri yang suci ini. Negeri yang telah dan masih tetap berdiri—alhamdulillâh—di atas pondasi Akidah yang kokoh, sejak dipersatukan oleh Raja Abdul Aziz—Semoga Allah merahmatinya—sampai era gemilang saat ini, era Sang Pelayan Dua Tanah Suci—Semoga Allah senantiasa menjaganya. Negeri ini memberlakukan syariat Allah di berbagai aspek kehidupan, serta menerapkan ajarannya dengan penuh perhatian. Negeri ini selalu mengupayakan kesatuan barisan umat Islam, memperbaiki segala keretakan dan perpecahan yang ada di tubuh mereka, serta berusaha keras untuk menyebarkan akidah yang benar melalui berbagai fasilitas yang dimilikinya, mulai dari sarana dakwah, informasi, hingga jalur pendidikan dan penanaman wawasan.

Peran aktif negeri ini terlihat pada musim haji, di mana umat Islam dari berbagai penjuru bumi bertemu. Di sana, mereka saling mengenal, saling mencintai, dan bisa bersama-sama mengkaji berbagai persoalan agama dan urusan kehidupan mereka. Tidak diragukan lagi, bahwa pertemuan ini merupakan satu kesempatan untuk umat Islam saling mendekatkan diri satu sama lain, serta menghilangkan segala jarak dan rasa tidak suka yang menggelayut di pikiran masing-masing. Pertemuan ini merupakan satu potensi kekuatan yang mampu menaklukkan musuh-musuh yang senantiasa mengintai umat Islam. Pertemuan ini merupakan pertemuan di jalan Allah yang lurus dan di atas tuntunan-Nya yang benar. Di sana, yang berilmu menyampaikan dakwah, memberi arahan, dan mendermakan ilmunya. Yang awam meminta bimbingan dan bertanya tentang perkara yang tidak ia ketahui. Yang ragu pun meminta penjelasan, sehingga mengetahui mana yang benar sesuai dengan hukum Allah, sunnah Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam, dan tuntunan beliau yang benar.

Pertemuan haji juga merupakan satu kesempatan berharga untuk menghilangkan segala keraguan dan bid`ah yang melekat di beberapa kelompok Islam, yang mungkin saja tidak diketahui oleh seorang muslim di negaranya. Karena jauh dari bid`ah dan memegang teguh ajaran Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—merupakan salah satu faktor paling penting untuk merealisasikan nilai tauhid serta berjalan di atas tuntunan yang diridhai oleh Allah untuk para hamba-Nya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya." [QS. Al-An`âm: 153]

Karenanya, para pengunjung Baitullah harus berupaya agar hajinya ikhlas karena Allah semata dan demi menjalankan ajaran Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Ia harus memastikan bahwa hajinya terlaksana sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, tanpa penambahan atau pengurangan, tidak mengurangi dan tidak pula melebih-lebihkan. Semuanya harus mengikuti contoh dari Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Karena Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—mengatakan, "Ambillah dariku manasik (tata-cara ibadah) haji kalian." Para jemaah haji hendaknya tidak disibukkan oleh hal apa pun yang dapat memalingkan mereka dari rangkaian ibadah haji. Mereka harus bertanya kepada orang yang berilmu tentang segala sesuatu yang sulit mereka pahami atau tidak mereka ketahui. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui," [QS. An-Nahl: 43]

Tidak diragukan lagi, bahwa para ulama di negeri ini mempunyai peran besar dan begitu menonjol dalam memberi pengarahan kepada para jemaah di musim haji, mulai dari arahan yang berkaitan dengan tata-cara ibadah haji mereka, arahan mengenai akhlak dan cara interaksi mereka dengan orang lain, hingga penanaman akidah yang benar di dalam diri mereka. Karena meskipun hanya beberapa hari saja waktu yang dihabiskan oleh para jemaah haji dalam menunaikan ritual haji, namun hari-hari tersebut merupakan kesempatan yang baik untuk bertemu dengan para ulama di negeri yang diberkati ini. Hari-hari itu adalah peluang untuk menimba manfaat dari khutbah-khutbah, ceramah-ceramah, bimbingan-bimbingan, serta fatwa-fatwa mereka.

Kerajaan Arab Saudi, di bawah kepemimpinan Sang Pelayan Dua Tanah Suci, sebagai sosok yang dipandang sebagai pemimpin dunia Islam dan pelindung ajaran Islam yang lurus ini, setiap tahun menerima ratusan ribu jemaah haji dari luar Arab Saudi dan ratusan ribu lagi dari dalam negeri Saudi sendiri. Kerajaan menghimpun segenap kemampuan SDM dan SDA–nya untuk mengatur pelaksanaan ibadah haji, menjamu para pengunjung Baitullah, sekaligus memfasilitasi tempat tinggal, aktivitas, sarana transportasi, dan layanan-layanan lainnya untuk mereka. Ini dilakukan agar para jemaah dapat menunaikan ibadah mereka dengan mudah dan nyaman, tanpa gangguan apa pun yang dapat memalingkan mereka dari aktivitas ibadah sebagai tujuan kedatangan mereka. Ini semua memerlukan upaya terpadu, motivasi yang kuat, serta mobilisasi tenaga para ulama dan para penuntut ilmu yang memenuhi syarat untuk memberikan penyuluhan, bimbingan, dan arahan akidah yang benar kepada para jemaah haji.

Para jemaah haji dan penduduk setempat harus bisa mengambil manfaat dari para ulama negeri ini, serta menyimak pelajaran-pelajaran, ceramah-ceramah, dan fatwa-fatwa mereka. Semua jemaah haji harus memegang teguh akidah yang benar (Tauhid) dan ajaran agama Islam yang toleran. Mereka juga harus mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan Islam yang benar, jauh dari penyimpangan, sikap berlebihan, ekstremisme, serta berbagai aliran dan doktrin-doktrin menyimpang yang dipropagandakan oleh musuh-musuh umat ini. Hendaknya umat Islam mengambil pelajaran, nasihat, dan pesan dari rangkaian ibadah haji ini, agar mereka kembali ke masyarakat dan negara asal mereka dengan membawa pesan Agama yang benar serta Akidah yang bersih, jernih, dan murni. Dengan demikian, tercapailah tujuan utama haji, yaitu mengesakan Allah—Subhânahu wata`âlâ—dan hanya menyembah kepada-Nya.

Sebagai penutup, saya berdoa semoga Allah Yang Mahatinggi dan Mahakuasa senantiasa menjaga negeri yang diberkati ini. Semoga Allah selalu menjaga keamanan dan stabilitasnya, serta menjaga para pemimpinnya. Mudah-mudahan Allah memberikan balasan terbaik kepada para pemimpin negeri ini, atas upaya besar yang mereka kerahkan untuk melayani Islam, memperjuangkan berbagai persoalan Umat, serta berbagai pekerjaan mulia yang mereka lakukan untuk menjamu tamu-tamu Allah. Amin.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi kita Muhammad—Shallallâhu `alaihi wasallam, beserta seluruh keluarga dan para shahabat beliau.

[Sumber: www.aldaawah.com]

 

www.islamweb.net