Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Sejarah Islam
  5. Tokoh Islam

Asad Ibnul Furât

Asad Ibnul Furât

Abû Abdillah Al-Harrâni Asad Ibnul Furât dilahirkan di Harrân, sebuah daerah di perkampungan Bakr, pada tahun 144 H. / 761 M. Ketika berusia 2 tahun, ia pindah ke Qairawan bersama bapaknya yang seorang tentara dalam pasukan Muhammad Ibnul Asy`ats Al-Khuzâ`i, gubernur Afrika di bawah pemerintahan Abû Ja`far Al-Manshûr. Asad memulai aktivitas belajarnya di Qairawan, kemudian pergi bersama bapaknya ke Tunisia dan tinggal di sana selama 9 tahun. Di Tunisia, ia dekat dan belajar kepada faqih Tunisia yang tersohor, `Ali ibnu Ziyâd. Namun ia tidak puas dengan itu saja. Ia masih ingin menambah ilmu. Karena itu, ia pun memutuskan untuk pergi ke Madinah Al-Munawarah pada tahun 172 H. / 788 M. untuk menimba ilmu kepada Imam Mâlik. Di sana, ia menetap selama beberapa tahun dan belajar banyak hal, dan kemudian pergi ke Iraq. Sebelum berangkat ke Iraq, ia menemui Imam Mâlik untuk meminta izin, mengucapkan terima kasih, serta meminta wasiat (nasehat) darinya. Imam Mâlik berkata, "Aku berwasiat kepadamu agar engkau bertakwa kepada Allah, berpegang dengan Al-Quran, dan senantiasa menasihati manusia."

Asad pun berangkat ke Iraq, di mana Imam Muhammad Ibnul Hasan, murid dekat Abû Haniîfah tinggal. Ia senantiasa mendampingi imam yang satu ini serta menghadiri pengajian umum yang disampaikannya. Namun di samping itu, ia juga ingin punya jadwal khusus untuk belajar dan menimba ilmu dari sang Imam sebanyak mungkin sebagai bekal untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Imam Muhammad Ibnul Hasan pun mengabulkan keinginan itu dan membawa Asad ke rumahnya. Ia menyediakan kamar khusus untuk Asad, tempat mereka belajar sepanjang malam. Imam Muhammad Ibnul Hasan meletakkan air di depan muridnya ini. Jika ia mengantuk, maka Imam Muhammad memercikkan air ke wajahnya, agar ia kembali bangun.

Asad adalah orang pertama yang memadukan antara mazhab Imam Mâlik dengan mazhab Abû Hanîfah. Asad juga belum merasa puas dengan ilmu yang sudah ia dapatkan. Ia pun pergi ke Mesir, di mana terdapat dua orang ulama yang merupakan murid Imam Mâlik, yaitu Asyhab ibnu Abdil 'Aziz dan Ibnul Qâsim. Di sana, ia mengumpulkan perkara-perkara fikih yang ia dapatkan dari Ibnul Qâsim, lalu ia tambahkan dari ilmunya sendiri, sehingga menjadi sebuah karangan kecil yang ia tulis dengan nama Al-Asadiyyah.

Kemudian Ibnul Furât kembali ke Qairawan, ibu kota Maghrib pada tahun 181 H., setelah meninggalkannya selama sekitar 20 tahun. Selama waktu itu, siangnya ia gunakan untuk berpuasa dan malamnya ia hidupkan dengan ilmu dan belajar. Ia tidak pernah menggunakan satu saat pun untuk kesenangan dan permainan tak berguna. Ia tidak berteman kecuali dengan para imam dan ulama. Ketika mendekati usia 50 tahun, Asad menetap untuk mengajar dan berfatwa. Di antara murid-muridnya adalah: Sahnûn ibnu Sa`id, Ma`mar ibnu Manshûr, dan Sulaimân ibnu Umar. Kemudian ia menjabat sebagai qadhi (hakim) bersama Abû Mahraz. Abû Mahraz adalah seorang yang lunak dalam masalah hukum, berbeda dengan Asad yang keras dalam mempertahankan kebenaran, serta menguasai ilmu hadits dan fiqih.

Di samping ilmunya yang luas, Asad Ibnul Furât juga merupakan seorang prajurit pemberani dan terdepan. Pada suatu ketika, ia meminta izin kepada gubernur untuk ikut dalam barisan mujahidin dalam perang melawan Romawi di Sisilia. Namun gubernur menolak permintaan itu karena mengkhawatirkan keselamatannya. Namun Asad terus bersikukuh meminta dengan berkata, "Kalian telah mendapatkan nahkoda yang membawa kapal kalian, alangkah butuhnya kalian kepada orang yang membawa kapal itu dengan Al-Quran dan sunnah untuk kalian."

Ia ingin menjadi seorang tentara sukarela dan tidak menginginkan jabatan kepemimpinan. Ketika diberi jabatan kepemimpinan, ia merasa tersakiti dan berkata kepada gubernur, "Apakah setelah aku menjadi hakim dan melihat perkara halal haram, engkau ingin memecatku untuk diberi jabatan pemimpin?" Gubernur menjawab, "Aku tidak memecatmu dari kehakiman, tapi aku menambah untukmu jabatan pemimpin (komandan). Maka engkau adalah qadhi (hakim) sekaligus komandan." Dengan demikian, ia adalah orang pertama yang menyandang kedua jabatan ini dalam satu waktu. Kaum muslimin kemudian berkumpul untuk melepas keberangkatan pasukan dan komandannya Asad Ibnul Furât. Asad berkata kepada mereka sebelum berangkat, "Demi Allah, wahai sekalian manusia, bapak dan kakekku tidak pernah memiliki jabatan sama sekali, dan para pendahuluku tidak pernah melihat jabatan seperti ini. Aku tidak mencapainya melainkan dengan ilmu. Maka kejarlah ilmu oleh kalian. Lelahkanlah pikiran kalian dengannya dan letihkan tubuh kalian untuknya, niscaya kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan di dunia dan Akhirat."

Pasukan pun bergerak menuju pulau Sisilia pada tahun 212 H. / 827 M. Pemimpin negeri itu menyambut pasukan muslim dengan pasukan yang berjumlah 150.000 orang. Seseorang mengatakan, "Aku melihat Asad memegang bendera sambil membaca surat Yâsîn, kemudian melakukan serangan dahsyat terhadap pemimpin Sisilia." Ia syahid pada tahun 213 H. / 828 M. sambill memegang bendera kemenangan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana kuburannya.

[Sumber: Ensiklopedia Keluarga Muslim]

Artikel Terkait