Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Jalan Menuju Surga

Jangan Pinta Selain Surga Firdaus!

Jangan Pinta Selain Surga Firdaus!

Pembahasan kita saat ini masih berkisar seputar penjalanan di dalam Surga Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ. Pada tulisan sebelumnya, kita berhenti di sebuah pemandangan yang sangat indah, di mana Anda berasama istri Anda, bidadari Surga, bersenang-senang di tepian sungai yang Allah alirkan di antara pepohonan dan buah-buahan di bawah istana Anda. Kemudian Anda berjalan menuju istana Anda yang lain, dan istri Anda bertutur, "Istana ini juga milikmu."

Kemudian ada pula kemah yang terbuat dari mutiara yang berongga. Istri Anda pun mengatakan bahwa kemah itu juga adalah milik Anda. Istana dan rumah yang ada di sana semuanya milik Anda. Anda heran. Di dalam pikiran Anda bertanya-tanya, apakah semua penghuni Surga mendapat karunia seperti yang Anda dapatkan ini, ataukah mereka memiliki tingkatan-tingkatan yang beragam dari segi karunia yang mereka terima dari Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ?"

Jawaban dari pertanyaan itu sesungguhnya mudah dan sederhana. Karena Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—telah bersabda, "Sesungguhnya Surga itu seratus tingkat. Antara tingkat yang satu dengan yang lainnya berjarak sejauh perjalanan seratus tahun." [Menurut Al-Albâni: shahîh]

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa pada hari Kiamat, para pembaca Al-Quran diseru: "Bacalah dan naiklah. Bacalah Al-Quran secara tartil sebagaimana dahulu engkau lakukan di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca." [Menurut Al-Albâni: shahîh]

Jadi, Surga itu bertingkat-tingkat. Penulis tidak akan menjelaskan keadaan penghuni Surga di setiap tingkat, dan bagaimana karunia yang Allah limpahkan kepada mereka. Penulis hanya akan menjelaskan karunia yang didapatkan oleh penghuni Surga terendah, agar Anda bisa membayangkan bagaimana keadaan para penghuni Surga di tingkat-tingkat yang lebih tinggi.

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Musa bertanya kepada Tuhannya, 'Bagaimana keadaan penghuni Surga terendah? Allah berfirman (yang artinya): 'Penghuni Surga terendah itu adalah seseorang yang datang setelah para penduduk Surga dimasukkan ke dalam Surga. Orang itu diseru: 'Masuklah engkau ke dalam Surga!' Ia menjawab, 'Wahai Tuhan, bagaimana mungkin? Bukankah orang-orang sudah menempati tempat-tempat mereka, serta telah mengambil jatah mereka'. Allah berfirman kepadanya: 'Apakah engkau ridha jika Aku beri karunia seperti seorang raja di dunia?' Ia menjawab, 'Hamba ridha, wahai Tuhan'. Allah berfirman (yang artinya): 'Engkau akan diberikan semua itu, ditambah dengan yang serupa dengannya, ditambah lagi dengan yang serupa dengannya, ditambah lagi dengan yang serupa dengannya, ditambah lagi dengan yang serupa dengannya'. Pada kali yang kelima, si hamba itu berkata, 'Hamba ridha, wahai Tuhan'. Allah berfirman (yang artinya): 'Engkau mendapatkan semua itu, ditambah sepuluh kali lipatnya. Engkau diberi apa yang engkau inginkan, dan yang menyenangkan pandanganmu'. Ia pun berkata, 'Hamba ridha, wahai Tuhan'."

Bisakah Anda bayangkan? Ini adalah keadaan penghuni Surga yang paling rendah. Bagaimana dengan penghuni Surga yang lebih tinggi dari itu?

Pertanyaan ini juga bergelayut di pikiran Musa—`Alaihis salâm. Ia lalu menanyakan itu kepada Allah—`Azza wajalla, dan Allah kemudian menjelaskannya. "Musa—`Alaihis salâm—berkata, 'Tuhan, bagaimana yang paling tinggi tingkatannya?' Allah berfirman (yang artinya): 'Mereka adalah orang-orang yang Aku inginkan. Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku, lalu Aku mencap kemulian itu. Sehingga mereka mendapatkan apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia." [HR. Muslim]

Hal itu sesuai dengan firman Allah—`Azza wajalla—(yang artinya): "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata." [QS. As-Sajdah: 17]

NabiShallallâhu `alaihi wasallam—pernah menceritakan tingkatan-tingkatan penghuni Surga, kondisi penghuni kamar-kamar Surga, serta gambaran Surga Firdaus yang tertinggi, dalam sabda beliau: "Sesungguhnya penduduk Surga melihat penghuni kamar-kamar tertinggi (Firdaus) di atas mereka seperti melihat bintang-bintang yang bercahaya, karena perbedaan tingkat antara mereka." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu kedudukan para Nabi yang tidak mungkin dicapai oleh orang lain?" Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Tentu (bisa dicapai oleh selain mereka), demi Dzat yang nyawaku ada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan utusan-utusan-Nya." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Allâhu akbar! Ini merupakan kabar gembira yang luar biasa dari Allah—`Azza wajalla—bagi kaum muslimin, bahwa Surga Firdaus bukan hanya disediakan untuk para nabi dan rasul serta para shahabat saja. Seluruh kaum muslimin juga bisa memasuki Surga tertinggi itu, dengan dua syarat: beriman kepada Allah dan membenarkan risalah yang dibawa oleh para rasul, dengan keimanan dan pembenaran yang sesungguhnya.

Saudaraku, ketahuilah, bahwa kesenangan yang kita dapatkan senantiasa setimpal dengan kesusahan yang kita tanggung.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, seandainya kita bisa meraih Surga Firdaus menemani Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—dan para shahabat beliau sepanjang hari, serta berada di sisi 'Arsy Allah Yang Maha Pengasih, kenapa kita harus merasa puas dengan Surga yang di bawahnya?

Coba Anda perhatikan ungkapan Ibnul Jauzi—Semoga Allah merahmatinya—ini: "Di antara tanda sempurnanya akal seseorang adalah cita-citanya yang tinggi. Sesungguhnya orang yang puas dengan sesuatu yang rendah adalah orang rendahan." [Ibnul Jauzi, Shaidul Khâthir]

Penulis tentu tidak bermaksud mengatakan bahwa Surga yang derajatnya paling bawah adalah sesuatu yang rendah. Namun maksud penulis di sini adalah menjelaskan keadaan Surga yang derajatnya lebih tinggi dari itu.

Sekarang saya akan menjelaskan kepada Anda keistimewaan lain yang akan dirasakan oleh semua penghuni Surga. Walau dirasakan oleh semua penghuni Surga, namun penghuni Surga Firdaus akan mendapatkannya secara lebih khusus. Mereka akan mendapatkannya setiap hari. Keistimewaan itu adalah menatap wajah Allah—`Azza wajalla. Ini mereka dapatkan setelah penghuni Surga memasuki Surga dan penghuni Neraka dimasukkan ke dalam Neraka. Dalam sebuah hadits, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Jika penduduk Surga sudah memasuki Surga dan penduduk Neraka dimasukkan ke dalam Neraka, sang Penyeru menyeru: 'Wahai penduduk Surga, sesungguhnya untuk kalian ada janji Allah yang hendak Dia penuhi'. Mereka berkata, 'Janji apa? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan amal kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam Surga, dan menyelamatkan kami dari api Neraka?' Kemudian disingkapkanlah hijab, sehingga mereka dapat melihat Allah. Demi Allah, tidak ada pemberian Allah yang lebih mereka senangi dan membuat mata mereka sejuk daripada melihat-Nya. [Menurut Al-Albâni: shahîh]

Inilah "pemberian tambahan" yang Allah sinyalir dalam firman-Nya (yang berarti): "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya." [QS. Yûnus: 26]

Apakah Anda tidak ingin melihat Allah—`Azza wajalla—di dalam Surga? Apakah Anda tidak ingin menatap-Nya setiap hari? Keistimewaan ini hanya Allah berikan kepada para penghuni Surga Firdaus yang tertinggi.

Mengakhiri perjalanan di Surga ini, penulis ingin menyampaikan kepada Anda sebuah hadits yang menarik tentang orang yang paling terakhir masuk ke dalam Surga; setelahnya, tidak ada lagi yang akan masuk Surga. Kita dapat melihat bagaimana kenikmatan yang ia dapatkan. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya penduduk Surga yang paling rendah kedudukannya adalah seorang yang Allah palingkan wajahnya dari Neraka ke arah Surga. Allah menampakkan kepadanya sebuah pohon rindang. Orang itu berkata, 'Tuhan, bawalah hamba ke pohon itu, agar hamba bisa berteduh di bawahnya'. Allah berfirman (yang artinya): 'Apakah kalau aku berikan itu engkau akan meminta kepada-Ku yang lain?' Ia berkata, 'Tidak, demi keagungan-Mu, ya Allah'. Lalu Allah membawanya ke pohon tersebut. Kemudian Allah menampakkan kepadanya pohon rindang dan berbuah. Maka ia berkata lagi, 'Tuhan, bawalah hamba ke pohon itu, agar hamba bisa berteduh di bawahnya dan memakan buahnya'. Allah berfirman (yang artinya): 'Apakah kalau aku berikan itu engkau akan meminta yang lain kepada-Ku?' Ia menjawab, 'Tidak, demi keagungan-Mu'. Lalu Allah pun membawanya ke pohon tersebut. Kemudian Allah menampakkan kepadanya pohon lain yang rindang, berbuah, dan di bawahnya ada air. Orang itu berkata lagi, 'Tuhan, bawalah hamba ke pohon itu, agar hamba bisa berteduh, memakan buahnya, dan meminum airnya'. Allah berfirman (yang artinya): 'Apakah kalau aku berikan itu engkau akan meminta yang lain kepada-Ku?' Ia berkata, 'Demi keagungan-Mu, hamba tidak akan meminta yang lain'. Lalu Allah membawanya ke pohon itu. Kemudian Allah menampakkan kepadanya pintu Surga. Orang itu berkata, 'Wahai Tuhan, bawalah hamba ke pintu Surga sampai ke bawah gordennya, sehingga hamba bisa melihat penghuninya'. Allah kemudian membawanya ke pintu Surga, sehingga ia dapat melihat Surga dan isinya. Kemudian ia berkata lagi, 'Wahai Tuhan, masukkanlah hamba ke dalam Surga'. Ia pun dimasukkan ke dalam Surga. Ketika sudah masuk, ia berkata, 'Ini milikku'. Lalu Allah berfirman kepadanya: 'Beranagan-anganlah'. Ia pun berangan-angan dan Allah—`Azza wajalla—mengingatkannya: 'Mintalah ini dan itu'. Setelah habis semua angan-angannya, Allah berfirman kepadanya: 'Engkau akan mendapatkan semuanya, dan ditambah sepuluh kali lipat dari itu'. Kemudian Allah memasukkannya ke dalam Surga. Kemudian dua orang istrinya dari bidadari menemuinya seraya berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan engkau untuk kami dan menghidupkan kami untukmu'. Orang itu bergumam, 'Allah pasti tidak pernah memberi orang lain seperti yang Dia berikan kepadaku." [HR. Muslim]

[Sumber: www.islammemo.cc]

Artikel Terkait