Berbaik Sangka Menenangkan Batin

0 0

Tiada sesuatu yang lebih menenangkan dan membahagiakan hati seorang hamba dalam kehidupan dunia ini daripada sikap berbaik sangka. Dengan berbaik sangka, ia akan selamat dari bisikan-bisikan yang menggelisahkan, mengganggu ketenangan jiwa, mengeruhkan hati, dan melelahkan fisik.

Berbaik sangka membuat hati bersih, sekaligus mengokohkan ikatan kebersamaan dan cinta antar anggota masyarakat. Sehingga hati terbebas dari sifat dendam dan dengki. Dalam sebuah hadits, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Janganlah kalian berprasangka, karena sesungguh prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan (orang yang lain); jangan pula saling memata-matai; jangan pula saling bersaing; jangan pula saling mendengki; jangan pula saling membenci; jangan pula saling berselisih; akan tetapi, jadilah kalian para hamba Allah yang bersaudara."

Seandainya Umat ini hidup dengan kondisi seperti dalam hadits Nabi di atas, niscaya musuh tidak akan pernah berpikir optimis untuk dapat menguasai kita. Musuh-musuh juga tidak akan mampu menerapkan politik mereka yang begitu populer: "Cerai beraikanlah, niscaya engkau akan berkuasa" di tengah kita. Karena semua hati kita telah bersatu, dan jiwa-jiwa kita telah bersih.

Beberapa Faktor yang Membantu Kita untuk Berbaik Sangka

Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang muslim untuk berbaik sangka kepada orang lain. Di antaranya:

1.        Doa. Karena Doa merupakan pintu segala kebaikan. Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—senantiasa memohon kepada Allah agar beliau diberikan hati yang bersih.

2.        Bersikap empati (menempatkan diri di posisi dan perasaan orang lain). Seandainya setiap kita, ketika melihat orang lain melakukan atau mengatakan sesuatu, mampu menempatkan diri pada posisi orang itu, niscaya akan mudah bagi kita untuk berbaik sangka kepadanya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—telah mengarahkann kita untuk bersikap seperti ini, misalnya dalam firman-Nya (yang berarti): "Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka." [QS. An-Nûr: 12]

Allah juga menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah satu bangunan tubuh. Sehingga ketika seseorang dari mereka bertemu dengan yang lain dan mengucapkan salam kepadanya, maka seakan saat itu ia mengucapkan salam kepada dirinya sendiri. Hal ini disinyalir oleh Allah—Subhânahu wata`âlâ—dalam firman-Nya (yang artinya): "Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kalian memberi salam kepada diri kalian." [QS. An-Nûr: 61]

3.        Menafsirkan pembicaraan orang lain kepada kemungkinan yang paling baik. Ini adalah kebiasaan para ulama Salaf—Semoga Allah meridhai mereka. Umar Ibnul Khaththâb—Semoga Allah meridhainya—pernah berkata, "Janganlah engkau menyangka satu kata yang keluar dari mulut saudaramu itu mengandung arti yang buruk, padahal engkau bisa menafsirkannya dengan maksud yang baik."

Mari kita perhatikan kisah Imam Asy-Syâfi`i—Semoga Allah merahmatinya—berikut:

Ketika sakit, Imam Asy-Syâfi'i dijenguk oleh seorang sahabatnya. Sang sahabatnya berkata, "Semoga Allah menguatkan kelemahanmu." Imam Asy-Syafi`i menjawab, "Seandainya kelemahanku ini kuat, tentu ia akan membunuhku." Sahabatnya kemudian berkata, "Demi Allah, aku tidak bermaksud apa-apa kecuali kebaikan." Imam Asy-Syâfi`i membalas, "Aku tahu, bahkan seandainya engkau mencela pun, engkau juga pasti bermaksud baik."

Inilah hakikat persahabatan sejati, senantiasa diliputi oleh nuansa saling berbaik sangka, bahkan dalam sesuatu yang secara lahir terlihat sama sekali tidak memiliki penafsiran yang baik.

4.        Mencari berbagai alasan untuk orang lain. Seandainya Anda menemukan perkataan atau perbuatan orang lain yang membuat Anda tersakiti dan sedih, carilah sebanyak mungkin alasan untuk memakluminya. Ingatlah perilaku orang-orang shalih yang selalu berbaik sangka dan mencari berbagai alasan untuk memaafkan orang lain. Bahkan mereka berkata, "Carilah tujuh puluh alasan untuk (memaafkan) saudaramu."

Ibnu SîrînSemoga Allah merahmatinya—mengatakan, "Seandainya engkau mendengar sesuatu (yang tidak baik) mengenai saudaramu, carilah alasan untuk (memaklumi)-nya. Seandainya engkau tidak mendapatkan alasan itu, katakanlah, 'Barangkali ia memiliki alasan yang tidak aku ketahui'."

Jika Anda berusaha mencari alasan untuk memaafkan orang lain, Anda akan terbebas dari beban prasangka. Di samping itu, Anda juga akan terhindar dari perilaku banyak mencela orang lain.

5.        Jangan mengklaim niat orang. Menjauhi klaim terhadap niat orang lain termasuk cara yang paling efektif untuk bisa berbaik sangka. Dengan kata lain, kita menyerahkan urusan gaib kepada Allah semata, satu-satunya Dzat yang mengetahui segala yang tidak tampak. Karena Allah tidak memerintahkan kita untuk mengorek apa yang ada di dada seseorang untuk mengetahui niatnya. Namun sebaliknya, kita diperintahkan menjauhi prasangka.

6.        Membayangkan bahaya atau akibat negatif dari perilaku berburuk sangka. Orang yang berprasangka pada orang lain akan selalu merasakan letih dan gelisah yang tiada akhir. Selain itu, prasangka buruk juga membuat ia tidak nyaman dalam hubungannya dengan orang lain, bahkan dengan orang terdekatnya sekalipun. Karena salah satu fitrah manusia adalah biasa tersalah, walaupun tidak disengaja. Juga termasuk efek negatif dari sifat ini  adalah mendorong seseorang untuk menuduh buruk orang lain dan menganggap dirinya sendirilah yang benar. Hal itu termasuk sifat 'menganggap suci diri sendiri' yang dilarang oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya): "Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." [QS. An-Najm: 32]

Allah—Subhânahû wata`âlâ—mencela bangsa Yahudi yang memuji diri mereka, dalam firman-Nya (yang artinya): "Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap diri mereka suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikit pun." [QS. An-Nisâ': 49]

Sungguh, berbaik sangka kepada orang lain membutuhkan perjuangan yang berat. Apalagi—seperti kita ketahui—Syetan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah di dalam tubuh mereka. Ia tidak pernah bosan memecah-belah dan mengadu domba orang-orang beriman. Dan cara yang paling efektif untuk menghentikan langkah Syetan itu adalah berbaik sangka kepada sesama kaum muslimin.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang bersih, dan membantu kita untuk berbaik sangka kepada saudara-saudara kita, amin.

Alhamdulillâhi Rabbil `âlamîn.

Artikel Terkait