Meminta Maaf

0 0

Meminta maaf adalah salah satu adab interaksi sosial dalam Islam. Adab ini menghapus rasa sombong dari diri Anda, menghilangkan rasa dengki dan kemarahan dari hati saudara Anda, serta mengantisipasi tudingan dan prasangka buruk terhadap diri Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang secara zahir salah.

Meskipun berdasarkan pengertian di atas, meminta maaf adalah suatu sifat terpuji, namun lebih baik lagi jika Anda menghindari perbuatan yang membuat Anda harus meminta maaf. Dalam sebuah pesan singkat, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—kepada Abu Ayyûb Al-Anshâri—Semoga Allah meridhainya—disebutkan: "Dan janganlah engkau mengatakan suatu perkataan yang membuat engkau pada keesokan harinya meminta maaf." [HR. Ahmad dan Ibnu Mâjah; Menurut Al-Albâni: hasan]

Melakukan kesalahan satu kali adalah hal yang biasa, karena sebuah hadits menyatakan: "Tidak ada orang santun yang tidak melakukan kesalahan; dan tidak ada orang bijak yang tidak memiliki pengalaman (keliru)." [HR. Ahmad; Menurut At-Tirmidzi: hasan]

Dari penjelasan ini, kita dapat memahami bahwa di antara bentuk tawadhuk (kerendahan hati) adalah tidak bersifat angkuh membela diri. Sesungguhnya mengakui kesalahan lebih menenteramkan hati dan lebih efektif mendapatkan maaf dari orang lain. Sebagaimana dimaklumi, tobat Ka'ab Ibnu Mâlik, seorang shahabat Nabi yang mulia, diterima lantaran kejujurannya mengakui kesalahan. Ia berkata kepada Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah, seandainya aku berhadapan dengan orang lain selain engkau, niscaya aku bisa bebas dari murkanya dengan berbagai alasan. Demi Allah, aku tidak punya alasan…" [HR. Ahmad, dan asalnya terdapat dalam Shahîh Al-Bukhâri dan Muslim]

Reputasi Anda sama sekali tidak akan rusak karena mengakui kesalahan. Lihatlah sikap Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—ketika mengira bahwa batang-batang kurma tidak perlu dicangkok, lalu menyarankan para shahabat untuk tidak berbuat demikian. Namun setelah itu, beliau bersabda, "Jika pencangkokan itu bermanfaat bagi mereka, silahkan mereka melakukannya. Aku hanya mengira-ngira. Janganlah kalian mencelaku lantaran perkiraan itu." [HR Muslim]

Tidak perlu menunggu Anda benar-benar melakukan kesalahan dahulu untuk meminta maaf. Meminta maaf bisa dijadikan sarana untuk menjelaskan sikap atau pun maksud yang barangkali tidak tertangkap oleh orang lain. Sebelum menaklukkan kota Mekah, kaum Anshar mengira bahwa Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—ingin tinggal di Mekah bersama kaumnya, setelah kota itu ditaklukkan. Mereka mengatakan, "Orang cenderung ingin tinggal di kampungnya dan mencintai kerabatnya." Lalu Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Tidak. Sesungguhnya aku adalah hamba dan utusan Allah. Aku telah berhijrah kepada Allah dan kepada kalian. Hidupku bersama kalian, dan matiku pun akan bersama kalian." Akhirnya, mereka menemui beliau dalam keadaan menangis, seraya meminta maaf dan menjelaskan bahwa mereka berkata demikian lantaran mereka sangat ingin Rasulullah tetap tinggal bersama mereka di Madinah. Mereka berucap, "Demi Allah, kami tidak berkata demikian kecuali karena ingin selalu bersama Allah dan Rasul-Nya." Mendengar itu, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—pun bersabda kepada mereka, "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya membenarkan dan memaafkan kalian." [HR. Muslim dan Ahmad]

Saat merasa melakukan sebuah kelalaian, seorang yang memiliki sifat peminta maaf akan merasa malu jika kelalaiannya itu terbongkar. Sebuah kisah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ia ikut dalam suatu ekspedisi perang yang tidak diikuti oleh Nabi (sariyyah). Saat itu, kaum muslimin mengalami kekalahan. Karena merasa malu, pasukan Islam itu memasuki kota Madinah secara diam-diam pada malam hari, dan mereka memilih untuk menyembunyikan diri dari orang lain. Kemudian mereka mengatakan, "Alangkah baiknya, seandainya kita menemui Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—dan meminta maaf kepada beliau." Mereka pun menemui Rasulullah untuk meminta maaf. Mereka berkata, "Kamilah yang salah, karena kami lari dari peperangan, wahai Rasulullah." Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—pun bersabda, "Tidak. Kalian adalah orang-orang yang gigih dalam berperang. Aku adalah bagian dari kalian." [HR. Ahmad, Abû Dâwûd, dan At-Tirmidzi]

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—meringankan beban perasaan mereka dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang gigih dalam peperangan.

Jika seseorang menasihati Anda untuk berbuat baik, terimalah nasihatnya. Jika Anda punya uzur (halangan), sampaikanlah kepadanya halangan Anda itu. Pada suatu ketika, Sâlim bin Abdillâh menasihati seorang pemuda yang menjulurkan pakaiannya (sampai ke bawah mata kaki). Sâlim berkata kepada pemuda tersebut, "Angkatlah celanamu!" Pemuda itu langsung menjelaskan uzurnya dengan berkata, "Kain ini yang menjulur dengan sendirinya karena terbut dari linen." [HR. Ahmad]

Pemuda itu mejelaskan bahwa ia tidak menjulurkan celananya karena sombong, akan tetapi kain itu yang menjulur dengan sendirinya, karena memang kondisinya demikian. Beginilah seharusnya sikap seorang muslim untuk mencegah prasangka buruk dan menjelaskan bahwa ia tidak bersalah, jika memang pada kenyataannya ia tidak bersalah.

Kisah lain yang berkaitan dengan masalah ini adalah pengalaman sekelompok orang dari suku Asy'ari meminta Abu Musa Al-Asy'ari menemani mereka menemui Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Abu Musa tidak mengetahui apa yang mereka inginkan di balik pertemuan itu. Ternyata mereka menemui Rasulullah untuk meminta jabatan mengurus kaum muslimin. Adanya Abu Musa di sana mengesankan seolah ia mendukung aspirasi orang-orang itu. Ia merasa sangat tidak nyaman. Ia berkata, "Aku pun meminta maaf kepada Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam, dan beliau memaafkanku." [HR. An-Nasâ'î]

Sifat ini adalah salah satu keistimewaan generasi para shahabat—Semoga Allah meridhai mereka. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa pada suatu ketika, Utsman ibnu `Affân mencela Abdullah ibnu Mas'ûd terkait beberapa perkara yang ia dengar tentangnya. Utsmân berkata, "Apakah engkau akan berhenti dari apa yang aku dengar tentangmu?" Mendengar itu, Abdullah pun meminta maaf dengan menyampaikan beberapa alasannya.

Tindakan meminta maaf juga berguna untuk menghindari tudingan atau menghilangkan prasangka yang mungkin saja muncul. Alangkah mulia sikap Amirul Mukminin Umar Ibnul Khaththâb pada hari Jâbiyah, saat ia menjelaskan kepada kaum muslimin alasan ia memberhentikan Khâlid ibnul Walîd sebagai panglima perang. Ia berkata, "Dan saya meminta maaf kepada kalian karena telah menurunkan jabatan Khâlid ibnul Walîd."

Alangkah mulianya sebuah masyarakat yang salah seorang individunya berani dengan terang-terangan menyatakan penolakan terhadap permohonan maaf pemimpinnya. Salah seorang dari kaum muslimin yang ada di sana ketika itu berkata, "Demi Allah, engkau tidak bisa dimaafkan, wahai Umar ibnul Khaththâb…" [HR. Ahmad]

Dalam kondisi tertentu, barangkali Anda terpaksa bersikap tegas. Lalu ketegasan itu membuat orang-orang mengira bahwa Anda telah bersikap kasar. Alangkah baiknya, seandainya Anda menjelaskan alasan di balik sikap tegas Anda, agar orang lain tidak mengira bahwa Anda memiliki akhlak yang buruk. Imam Ahmad menceritakan bahwa pada suatu ketika, Hudzaifah meminta air minum kepada seorang Ahli Kitab. Orang itu menyuguhkan air dalam gelas yang terbuat dari perak. Hudzaifah lalu melempar orang itu menggunakan gelas tersebut. Setelah itu, ia menemui kaum muslimin dan menjelaskan alasannya. Ia berkata, "Aku memang sengaja melemparnya, karena aku telah melarangnya sebelum ini (menggunakan gelas perak) dan menjelaskan bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—melarang kita memakai pakaian dari sutera dan minum dengan gelas dari emas dan perak."

Ia menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa ternyata laki-laki Ahli Kitab itu mengetahui keharaman menggunakan gelas perak bagi kaum muslimin. Akan tetapi, ia masih mengulangi perbuatan yang memancing amarah dan sikap tegas Hudzaifah itu.

Keberanian meminta maaf sangat berguna untuk menjaga masyarakat muslim dari tersebarnya prasangka buruk dan saling melontarkan tuduhan. Karena kalau penyakit-penyakit seperti itu sudah tertanam di hati, permintaan maaf tidak lagi akan berarti. Ini sebagaimana yang diungkapkan oleh 'Aisyah ketika difitnah dalam peristiwa Hâditsatul Ifki, "Demi Allah, seandainya aku bersumpah pun, kalian tidak akan mempercayaiku. Jika aku meminta maaf pun, niscaya kalian tidak akan memaafkanku." [HR. Al-Bukhâri]

Jika orang lain mampu menundukkan nafsunya lalu datang meminta maaf, tundukkan jugalah kesombongan Anda dengan menerima permintan maafnya itu. Ibnul Qayyim memasukkan sikap mau menerima permintaaan maaf orang lain ke dalam sifat tawadhuk. Ia berkata, "Barang siapa yang berbuat keburukan kepadamu, lalu ia datang meminta maaf atas perbuatannya itu, maka sifat tawadhuk mengharuskan engkau menerima permintan maafnya. Dan di antara bentuk kebaikan hati dan ketawadhukan adalah jika engkau melihat ada cacat dalam permintaan maafnya, engkau tidak menilainya dari sisi cacatnya itu, dan tidak pula mendebatnya dalam hal itu." [Tahdzîbu Madârijis Sâlikîn]

Menerima permintaan maaf dengan lapang dada, serta dengan maaf dan hati yang bersih, secara otomatis akan mendorong orang lain untuk ringan meminta maaf. Sedangkan sikap kasar dalam menerima permintaan maaf, apalagi ditambah dengan celaan, juga secara sendirinya membuat orang bersikeras mempertahankan kesalahan serta tidak mau mengakui kekeliruannya. Perlakuan seperti itu akan membuat orang lain tidak mau meminta maaf dan menyampaikan alasannya secara jujur. Jika orang yang bersalah bersegera meminta maaf, bersegera jugalah Anda memaafkannya dan merelakan apa yang sudah terjadi. Dengan demikian, maka perbuatan baik tidak akan terputus.

Wallahul muwaffiq wal hâdi ilâ sawâ'is sabîl

Artikel Terkait