Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Penyakit Hati

Penyakit `Ujub

Penyakit `Ujub

Ketahuilah, bahwa 'Ujub adalah sebuah sikap yang dicela di dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya):

· "Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kalian menjadi congkak (`ujub) karena banyaknya jumlah kalian, lalu jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun." [QS. At-Taubah: 25];

· "Dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; lalu Allah pun mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka." [QS. Al-Hasyr: 2]

Dalam ayat ini, Allah mengkritik keras sikap `ujub orang-orang Yahudi dengan benteng-benteng dan kekuatan mereka.

· "Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatan mereka dalam kehidupan dunia ini, sementara mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya." [QS. Al-Kahf: 104]. Ini juga disebabkan oleh perasaan `ujub dengan perbuatan yang telah dilakukan.

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda:

· "Ada tiga hal yang menjadi penyelamat dan tiga hal lainnya yang menjadi sumber kebinasaaan. Tiga hal yang menjadi penyelamat adalah: (1) sikap takwa (takut) kepada Allah, baik dalam kondisi tersembunyi maupun dalam kondisi terlihat oleh orang lain, (2) berkata benar dalam kondisi ridha maupun marah, dan (3) tidak terlalu kaya serta tidak pula terlalu miskin dalam hal ekonomi. Adapun tiga hal yang menjadi sumber kebinasaan adalah: (1) hawa nafsu yang diperturutkan, (2) sifat kikir yang dipatuhi, (3) sifat `ujub dengan diri sendiri, dan yang terakhir ini adalah yang paling berbahaya."

· "(Dahulu), ada seorang lelaki yang berjalan dengan angkuh memakai pakaiannya, dan ia merasa `ujub dengan dirinya sendiri. Ketika ia sedang berlaku demikian, Allah membenamkannya ke dalam bumi, sehingga ia harus meringkuk terombang-ambing di dalamnya hingga hari Kiamat."

Ibnu Mas`ud berkata, "Kebinasaan terdapat dalam dua hal, yaitu putus asa dan `ujub."

Rahasia mengapa ia menggabungkan antara dua faktor ini adalah karena kebahagiaan tidak akan dapat dicapai kecuali dengan usaha dan perjuangan keras. Manusia yang putus asa tidak akan mau berusaha, sementara manusia yang `ujub meyakini bahwa ia telah bahagia dan sukses mendapatkan apa yang ia inginkan, sehingga ia juga tidak mau berusaha. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerimanya)." [QS. Al-Baqarah: 264]. Perilaku menyebut-nyebut sedekah ini muncul disebabkan oleh adanya perasaan bahwa apa yang sudah diberikan adalah sebuah hal yang besar, dan itu pada hakikatnya adalah `ujub.

Bahaya Penyakit `Ujub

Bahaya yang diakibatkan oleh penyakit `ujub ini demikian dahsyat, karena ia akan menggiring kepada sikap sombong. `Ujub memang merupakan salah satu sebab lahirnya kesombongan dalam diri manusia. Sementara semua kita tahu, bahwa kesombongan adalah penyakit yang melahirkan begitu banyak bahaya di dalam hidup.

Itu adalah bahaya `ujub terkait relasi seorang manusia dengan sesama. Adapun terkait dengan hubungannya bersama Allah, perasaan `ujub membuat seseorang mudah meremehkan dan melupakan dosa-dosanya. Alih-alih bertobat dari dosa-dosa itu, ia justru selalu membesar-besarkan amalan dan ibadah-ibadahnya. Ia selalu menyebut-nyebut dan membanggakan amalan itu di hadapan Allah.

Selain itu, seorang yang berpenyakit `ujub merasa hebat dengan diri dan pendapatnya sendiri, serta merasa aman dari makar dan azab Allah. Ia merasa memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah, sehingga tidak bersedia membuka telinga untuk nasihat dan saran orang lain. Perasaan `ujub itu juga menghalanginya untuk bertanya kepada para ulama.

Inilah sebagian dari sekian banyak bahaya yang dikandung oleh penyakit yang satu ini. Karena itulah ia disebut sebagai salah satu faktor penyebab kebinasaan. Salah satu efek terbesar yang dilahirkannya adalah terputusnya amalan-amalan kebaikan dari diri pemiliknya, karena ia merasa telah berhasil dan tidak lagi membutuhkan apa-apa, dan itu adalah sebuah kebinasaan yang tidak terbantahkan. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa mentaati-Nya.

Disebabkan oleh berbagai efek negatif yang disebabkan oleh `ujub ini, para tokoh generasi salaf demikian gencar memperingatkan agar kita selalu mewaspadainya. Ummul Mu`minîn, 'Aisyah—Semoga Allah meridhainya—misalnya, pernah berkata, "Jauhilah perasaan `ujub, karena ia membinasakan pemiliknya. Ia memakan pahala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."

Suatu ketika, Muhammad ibnu Wâsi' melihat anaknya berlaku sombong. Ia pun segera memanggil si anak, lalu berkata kepadanya, "Tahukah engkau siapa dirimu? Ibumu adalah seorang wanita yang aku beli dengan harga seratus Dirham. Adapun bapakmu ini, adalah manusia tidak berharga yang semoga Allah tidak menciptakan banyak manusia sepertinya di tengah kaum muslimin."

Obat Penyakit `Ujub

Obat segala jenis penyakit adalah menghadapi faktor penyebabnya dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Masalah di balik penyakit `ujub ini sebenarnya adalah kebodohan semata. Artinya, ketidaktahuan seseorang akan dirinya dan Tuhan-Nya. Oleh karena itu, cara mengobatinya adalah dengan mencari pengetahuan, sebagai lawan dari kebodohan dan ketidaktahuan itu.

Rasa `ujub biasanya muncul karena merasa memiliki ilmu, atau harta, atau nasab keturunan. Sementara semua itu ada adalah berkat karunia dari Allah semata. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya):

· "Dan apa saja nikmat yang ada pada diri kalian, itu datangnya dari Allah." [QS. An-Nahl: 53];

· "Apa saja nikmat yang engkau peroleh, itu adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, itu adalah karena (kesalahan) dirimu sendiri." [QS. An-Nisâ': 79]

Nikmat yang paling besar adalah nikmat petunjuk dan taufik untuk mendapatkan ilmu dan beramal. Jadi, akar dari perasaan `ujub adalah ketidaktahuan dan keingkaran terhadap nikmat yang Allah berikan.

· "Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian akan bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya." [QS. An-Nûr: 21]

Seorang hamba, seberapa banyak pun ia memiliki ilmu dan amalan, tetap tidak akan dapat masuk ke dalam Surga kecuali apabila Allah berkenan merahmatinya. Hal itu ditegaskan oleh Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—dalam sabda beliau, "Tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amalannya sendiri." Para shahabat ketika itu bertanya, "Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak juga aku, kecuali apabila Allah melingkupiku dengan rahmat-Nya."

Seorang ulama pernah mengingatkan, "Janganlah merasa sombong dengan banyaknya amal perbuatanmu, karena engkau tidak pernah tahu apakah semua itu diterima oleh Allah atau tidak. Jangan pula merasa aman melakukan dosa, karena engkau juga tidak pernah tahu apakah ia diampuni atau tidak. Seluruh amalan yang engkau lakukan menjadi mistri bagimu (tidak dapat engkau tebak)."

Adapun harta, sebenarnya tidak ada campur tangan seorang hamba pun di dalamnya. Semuanya adalah karunia dan pemberian Allah belaka. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—telah menceritakan tentang sikap seorang manusia kafir yang merasa `ujub dengan hartanya, dalam ayat (yang artinya): "Ia berkata, 'Hartaku lebih banyak daripada hartamu, dan pengikut-pengikutku lebih kuat'." [QS. Al-Kahf: 34]

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—juga menceritakan sikap `ujub Karun dalam firman-Nya (yang artinya): "Karun berkata, 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku'." [QS. Al-Qashash: 78]

Dalam ayat lain, Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—menegaskan (yang artinya): "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian." [QS. Al-Hujurât: 13]

Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—juga mengingatkan, "Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari diri kalian kesombongan Jahiliah. Semua kalian adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah."

Karena itu, sudah sepantasnya seorang hamba untuk senantiasa mengingat nikmat-nikmat Allah kepadanya. Ia mesti sadar bahwa segala amal kebaikan yang ia lakukan adalah disebabkan oleh taufik dan bimbingan dari Allah semata, tidak ada peran yang layak ia sombongkan di dalamnya. Ia harus senantiasa takut kalau dosa-dosa dan kesalahannya akan mencelakakan dirinya.

Mari berdoa, semoga Allah membersihkan hati kita dari segala hal yang tidak diridhai-Nya.

Artikel Terkait