Meringankan Penderitaan Orang Lain

0 0

Usaha untuk meringankan kesusahan dan membantu kebutuhan orang lain tergolong ketaatan dan ibadah yang besar, sekaligus sarana untuk mendapatkan ridha Allah dan cinta manusia. Manusia secara tabiatnya adalah makhluk sosial. Kemaslahatannya tidak akan terpenuhi kecuali dengan bekerjasama dengan orang lain. Kebutuhannya sangat banyak sebagaimana kesusahannya juga sangat beragam.

Perkara ini dalam matematika seorang muslim tidak hanya sebatas urusan dunia dengan menepikan Akhirat. Peristiwa kematian, alam kubur, hari Akhirat, timbangan amal, titian Shirât, dan pemberian kitab amalan masing-masing adalah saat-saat yang sangat sulit, di mana di antara cara untuk menyelamatkan diri dalam peristiwa-peristiwa itu adalah dengan berusaha meringankan penderitaan orang lain. Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Abi Qatâdah, bahwa Abu Qatâdah pernah menagih utang kepada seseorang. Namun orang tersebut menghindar darinya, tapi kemudian ia menemukannya. Orang itu berkata, "Aku sedang kesulitan (membayar utang itu)." "Demi Allah?," tanya Abu Qatâdah. "Demi Allah," jawab orang itu. Abu Qatâdah pun berkata, "Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, 'Barang siapa yang ingin Allah menyelamatkannya dari huru-hara hari Kiamat hendaklah ia meringankan beban orang yang kesusahan atau memaafkan (utang)-nya." [HR. Muslim]

Hadits lain diriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak boleh menzalimi saudaranya atau menyerahkannya kepada musuhnya. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya niscaya Allah akan memberikan kebutuhannya. Barang siapa yang meringankan satu kesulitan seorang muslim niscaya Allah akan meringankan satu kesulitannya pada hari Kiamat. Dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari Kiamat." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Orang yang berusaha meringankan penderitaan orang lain, pada hakikatnya, sedang berusaha meringankan penderitaan dirinya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Apabila kalian berbuat baik (kepada orang lain) berarti kalian telah berbuat baik kepada diri kalian sendiri." [QS. Al-Isrâ': 7]

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—juga berfirman (yang artinya): "Barang siapa yang mengerjakan amal shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang mengerjakan perbuatan jahat maka (dosanya) juga untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hamba-Nya." [QS. Fushshilat: 46]

Balasan memang selalu sesuai dengan jenis amalan yang dilakukan. Kita boleh berbuatlah sekehendak kita, tapi sebagaimana kita berbuat begitu pulalah kita kelak akan diperlakukan. Bunga amal shalih akan kembali pertama kali kepada orang yang melakukannya. "Beramallah sesukamu, namun engkau akan dibalasi atas amalan yang engkau lakukan itu."

Meringankan Penderitaan Orang Lain Adalah Sebab Utama Dikabulkannya Doa

Ya, meringankan penderitaan orang lain adalah salah satu sebab utama dikabulkannya doa-doa. Sebuah hadits diriwayatkan dari Ibnu Umar—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa yang ingin doanya dikabulkan dan kesusahannya dihilangkan hendaklah ia meringankan kesusahan orang-orang yang susah." [HR. Ahmad]

Lemahnya Iman Adalah Sebab Keengganan

Kelemahan iman adalah sebab enggannya manusia untuk membantu meringankan penderitaan orang lain dan menolong kebutuhan mereka, kecuali dengan mendapat kompensasi setimpal. Sebagai contoh, di zaman sekarang, Anda sulit menemukan orang yang mau memberi pinjaman kepada orang lain tanpa bunga. Praktik riba telah tersebar pada tataran individu, kelompok, dan negara. Pinjaman harus membawa keuntungan ribawi yang mereka sebut—secara dusta—sebagai "bunga". Noda materialisme yang mengalir dalam aliran darah kita menjadi ciri umum dalam masalah ini. Meringankan penderitaan orang lain dan membantu kebutuhan mereka tidak dilakukan kecuali atas motivasi menarik keuntungan, atau atas dasar konspirasi busuk, suap, tipu-daya, dan kecerdikan kotor. Sehingga akhirnya kita pun melupakan nilai-nilai keimanan. Atau paling hebat, ia hanya dilakukan sebagai bentuk uji coba, bahkan menjadi sesuatu yang diragukan.

Pertolongan yang Paling Besar dari Allah

Seorang mukmin pasti yakin bahwa Allah—Subhânahu wata`âlâ—lah yang mengabulkan doa orang yang kesulitan serta menghilangkan segala bahaya. Ia yakin bahwa pertolongan paling besar akan datang dari Allah—Subhânahu wata`âlâ. Dialah yang akan menyelamatkan orang menderita yang memohon pertolongan kepada-Nya di dunia dan Akhirat. Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Setiap waktu Dia (Allah) berada dalam kesibukan." [QS. Ar-Rahmân: 29]. Di antara kesibukan Allah itu adalah mengampuni dosa, menghilangkan derita, serta memuliakan suatu kaum dan menghinakan kaum yang lain.

Oleh karena itu, hati seorang mukmin harus selalu bergantung kepada Tuhannya dalam memohon dihilangkannya kesulitan dan berharap pertolongan-Nya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya):

·         "Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar." [QS. Ash-Shâffât: 76];

·         "Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat kepada Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar." [QS. Ash-Shâffât: 114-115];

·         "Katakanlah: 'Allah menyelamatkan kalian dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kalian kembali mempersekutukan-Nya." [QS. Al-An`âm: 64]

Lihatlah, betapa hati para nabi dan wali-wali Allah selalu bergantung kepada Allah—Subhânahu wata`âlâ.

Zikir dan Doa Mengangkat Segala Kesulitan

Zikir-zikir dan doa-doa yang baik adalah salah satu penyebab diangkatnya berbagai kesusahan hidup. Sebuah hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—berdoa ketika menghadapi kesusahan: "Tiada Tuhan selain Allah Yang Mahaagung lagi Maha Pemurah. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan `Arsy yang agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, dan Tuhan `Arsy yang agung." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Diriwayatkan dari Asmâ' bintu `Umais—Semoga Allah meridhainya, bahwa ia berkata, "Rasulullah pernah bersabda kepadaku, 'Maukah engkau aku ajarkan kata-kata yang engkau baca ketika menghadapi kesusahan? Yaitu: 'Allah adalah Tuhanku, aku tiada menyekutukan-Nya dengan apa pun'." [HR. Abû Dâwûd. Menurut Al-Albâni: shahîh]

Dalam sebuah hadits disebutkan: "Sebuah kalimat yang tidak seorang hamba pun mengucapkannya ketika kematiannya melainkan Allah akan menghilangkan segala kesusahannya dan mencerahkan air mukanya." Umar berkata kepada Thalhah, "Tahukah engkau sebuah kalimat yang lebih agung daripada kalimat yang beliau perintahkan kepada pamannya, yaitu: 'Lâ Ilâha Illallâh?' Thalhah menjawab, "Itulah ia, demi Allah, itulah ia." [HR. Ahmad. Menurut Syaikh Ahmad Syâkir: Sanadnya Shahih]

Diriwayatkan dari `Aisyah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—pernah me-ruqyah (mengobati penyakit) dengan mengucapkan: "Hapuslah penyakit ini, wahai Tuhan sekalian manusia, di tangan-Mu-lah terletak kesembuhan, tiada yang dapat menghilangkan kesusahan selain Engkau." [HR. Ahmad, Al-Bukhâri, dan Muslim]

Diriwayatkan dari Abu Bakrah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Doa orang yang menghadapi kesusahan adalah: 'Ya Allah, rahmat-Mu-lah yang aku harapkan. Janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata. Dan perbaikilah urusan diriku seluruhnya, tiada Tuhan selain Engkau." [HR. Abû Dâwûd. Menurut Al-Albâni: hasan]

Diriwayatkan dari Anas ibnu Malik—Semoga Allah meridhainya, ia berkata, "Apabila Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—menghadapi sesuatu yang menyusahkan, beliau berdoa, 'Wahai Dzat Yang Mahahidup, Wahai Dzat Yang Maha Mengatur, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan'." [HR. At-Tirmîdzi. Menurutnya: shahîh]

Diriwayatkan pula dari Ali ibnu Abi Thâlib—Semoga Allah meridhainya, ia berkata, "RasulullahShallallâhu `alaihi wasallammengajariku apabila menghadapi kesusahan agar mengucapkan: 'Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi. Mahasuci Allah, Mahatinggi Allah, Tuhan `Arsy yang agung. Dan segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam'." [HR. Ahmad dan An-Nasâ'i. Menurut Al-Hâkim: shahîh]

Doa Nabi Yunus—`Alaihis salâm—ketika berada di dalam perut ikan paus adalah: "Tiada Tuhan selain Engkau, ya Allah. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang zalim." Disebutkan di dalam hadits: "Sesungguhnya tidaklah seorang muslim membaca kalimat ini dalam berdoa untuk suatu perkara melainkan Allah pasti mengabulkannya karenanya." [HR. Al-Hâkim. Menurutnya dan menurut Adz-Dzahabi: sanadnya shahîh]

Sebuah Kota Dikuasi Hanya dengan Zikir

Anda heran boleh heran mendengar kisah sebuah kota yang diceritakan oleh Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bahwa ia kelak akan berhasil dikuasai pada akhir zaman. Sebagian kota itu berada di daratan dan sebagian yang lain berada di lautan. Beliau bersabda, "Ketika kaum muslimin mendatangi kota itu, mereka segera turun. Mereka tidak berperang dengan senjata atau pun melempar anak panah. Mereka hanya mengucapkan: 'Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu akbar'. Lalu runtuhlah salah satu sisi kota itu. Kemudian mereka mengulangi ucapan tersebut sehingga runtuhlah sisinya yang lain. Dan ketika mengucapkannya untuk ketiga kali, terbukalah kota itu untuk mereka dan mereka berhasil masuk dan mendapatkan ghanimah." [HR. Muslim]

Ketaatan Adalah Jalan Keselamatan dari Kesusahan

Tidak hanya terbatas pada doa, semua amalan dalam menaati Allah—baik dengan melaksanakan yang wajib maupun yang sunnah—merupakan salah satu sebab terbesar terangkatnya kesusahan. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya):

·         "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." [QS. Ath-Thalâq: 2-3]

·         "Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." [QS. Ath-Thalâq: 4]

Jika seluruh manusia di dunia berkonspirasi untuk menyakiti Anda, sementara Anda adalah seorang yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi Anda dari tengah kepungan mereka. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." [QS. An-Nahl: 128]. Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—apabila disusahkan oleh sesuatu, biasa bersabda, "Istirahatkanlah kita dengan shalat, wahai Bilâl." Nabi Ibrahim—`Alaihis salâm—juga berdiri melakukan shalat ketika Raja Namrûdz mengambil Sarah dari beliau.

Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—berfirman (yang artinya): "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." [QS. Al-Baqarah: 45]

Dalam hadits tentang gerhana matahari, Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Apabila kalian melihatnya maka segeralah kalian mendirikan shalat." Beliau juga bersabda, "Shalatlah hingga Allah menyingkapkannya (gerhana itu) dari kalian." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Perbuatan Baik Tidak Akan Lapuk

Ini adalah sebuah hakikat yang tiada diperdebatkan. Kita melihatnya dengan mata kepala, mengalaminya secara nyata, dan itu dikuatkan oleh dalil-dalil Syariat. Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—pernah menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua yang tertutup batu besar. Lalu mereka bertawasul kepada Allah dengan menyebut amal-amal shalih mereka. Orang yang pertama bertawasul dengan baktinya kepada orangtuanya, orang kedua bertawasul dengan kemampuannya menjaga diri dari perbuatan zina dengan putri pamannya setelah ia berhasil menguasainya, sementara yang ketiga bertawasul dengan sifat amanahnya dan usahanya mengembangkan harta milik orang upahannya. Lalu batu besar itu pun terbuka, hingga mereka berhasil keluar. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Nabi Selalu Berusaha Menghilangkan Kesusahan Kaum Muslimin

Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—pernah berusaha melunasi utang ayah Jabir—Semoga Allah meridhainya, serta membayarkan utang Bilal—Semoga Allah meridhainya. Beliau juga selalu berusaha menghilangkan kesusahan orang-orang yang tidak berpunya dan para penderita musibah. Itulah sebabnya mengapa Sayidah Khadijah—Semoga Allah meridhainya—berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturahim, turut menanggung beban orang lain, memuliakan tamu dengan baik, berderma kepada orang yang papa, dan membantu orang-orang yang ditimpa musibah." [HR. Al-Bukhâri]

Barang siapa yang memiliki sifat-sifat seperti di atas, Allah tidak akan pernah menghinakannya, sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin, Khadijah. Setiap mukadimah (awal) pasti memiliki ujung, dan kebaikan tiada pernah lapuk. Barang siapa yang menanam kebaikan pasti akan memetik kebaikan pula. Semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita untuk melaksanakan segala yang Dia cintai dan ridhai.

Alhamdulillâhir rabbil `âlamîn.

 

 

Artikel Terkait

Artikel Terpopuler

Adab Kepada Orang Lain

Menolong Sesama

Betapa banyak dari kaum muslimin yang sedang membutuhkan, yang sedang bersedih, yang menjadi korban kezaliman, dan yang hatinya terluka. Mereka tidak memiliki orang yang memperhatikan atau bertanya tentang...Selengkapnya