Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Islam
  5. Puasa

Doa Lailatul Qadar

Doa Lailatul Qadar

Sebuah hadits diriwayatkan dari Aisyah—Semoga Allah meridhainya—bahwa ia berkata, "Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda jika aku mengetahui malam terjadinya Lailatul Qadar, (doa) apakah yang harus aku ucapkan pada malam itu?' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguh-Nya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, dan Engkau menyukai sifat pemaaf, oleh karena itu maafkanlah (ampunilah) aku." [HR. At-Tirmidzi, Ibnu Mâjah, An-Nasâ'i; Menurut At-Tirmidzi: hasan-shahîh]

Dalam versi riwayat Ibnu Mâjah disebutkan: Diriwayatkan dari Aisyah—Semoga Allah meridhainya—bahwa ia bertanya, "Wahai Rasulullah, jika aku menemukan malam Lailatul Qadar, doa apakah yang harus aku ucapkan?" beliau menjawab, "Berdoalah: Ya Allah, sesungguh-Nya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, dan Engkau menyukai sifat pemaaf, oleh karena itu maafkanlah (ampunilah) aku."

Kandungan dan Hukum-hukum yang Dikandung Hadits

Pertama: Hadits ini menerangkan keutamaan Lailatul Qadar serta semangat Ummul Mukminîn Aisyah—Semoga Allah meridhainya—untuk mendapatkan dan menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan shalat malam dan doa.

Kedua: Semangat para shahabat—Semoga Allah meridhai mereka—untuk menanyakan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka

Ketiga: Keutamaan berdoa pada malam Lailatul Qadar dan bahwa doa pada malam itu mudah dikabulkan.

Keempat: Disunnahkan berdoa dengan jawâmi`ul kalim (doa-doa ringkas yang umum dan mengandung permintaan kebaikan yang banyak), dan tidak memaksakan berdoa dengan kalimat-kalimat bersajak, atau tidak dimengerti maknanya.

Kelima: Doa yang diajarkan oleh Nabi—Shallallâhu `alaihi wa Sallam—ini adalah salah satu doa yang paling komprehensif, paling bermanfaat, dan mencakup kebaikan dunia dan Akhirat. Karena jika Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—telah mengampuni hamba-Nya di dunia, niscaya Dia akan menghindarkan mereka dari hukuman dan azab, kemudian menganugerahkan berbagai nikmat kepada mereka. Dan apabila Allah mengampuni mereka di Akhirat, niscaya Dia akan menyelamatkan mereka dari Neraka dan memasukkan mereka ke dalam Surga.

Keenam: Hadits ini menetapkan bahwa Allah mempunyai sifat "mencintai/menyukai". Tentunya sesuai dengan kemahabesaran dan kemahaagungan-Nya. Hadits ini menegaskan bahwa Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—menyukai sifat pemaaf.

Ketujuh: Keutamaan memaafkan orang lain. Karena Allah—Subhânahu wa Ta`âlâ—mencintai sifat pemaaf dan orang-orang memaafkan orang lain.

Kedelapan: Hadits ini memperlihatkan bagaimana Nabi—Shallallâhu `alaihi wa Sallam—memberi nasehat dan mengajarkan kepada umat beliau tentang hal-hal yang bermanfat bagi mereka.

Artikel Terkait