Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Islam

Keutamaan La Ilaha Illallah

Keutamaan La Ilaha Illallah

Ketahuilah wahai para pembaca yang terhormat bahwa kalimat yang paling menguntungkan, paling utama, paling berat timbangan kebaikannya, paling dicintai oleh Allah dan paling dibenci oleh Syetan, kunci pembuka pintu Surga dan penutup pintu Neraka, kalimat yang paling sesuai dengan fitrah manusia, adalah kalimat: “La ilaha illallah”. Ia adalah kalimat Tauhid yang dengannya seseorang masuk ke dalam Islam dan meraih derajat tinggi di atas manusia-manusia lainnya. Dengan kalimat ini ia menjaga anggota badannya dari dosa-dosa, dengan kalimat ini ia menjaga jiwa, harta dan anak keturunannya. Ia adalah kalimat keikhlasan yang mensucikan hati dari syirik dan membersihkan anggota badan dari kekufuran. Dengan kalimat inilah seseorang tunduk beragama kepada Allah, melaksanakan ibadah-ibadah seperti shalat, kurban, serta menyerahkan kehidupan dan kematiannya hanya untuk Allah. Allah berfirman (yang artinya): “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama (kepatuhan) yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sungguh Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar.” [QS. Az-Zumar: 3].

Kalimat inilah yang menjadi alasan mengapa Allah mengutus para rasul. Tak seorang rasulpun melainkan menyeru kaumnya kepada “La ilaha illallah”; mereka disakiti dan diperangi oleh kaumnya lantaran kalimat “La ilaha illallah”. Inilah kalimat yang karenanya Allah menurunkan kitab-kitab suci; untuk menerangkan hakikat maknanya, syarat-syarat diterimanya dan memperingatkan agar menghindari hal-hal yang dapat merusaknya. Inilah kalimat yang karenanya Allah menciptakan dunia untuk menjadi negeri amal, negeri Tauhid, negeri perlombaan dalam kebaikan, negeri mengucapkan “La ilaha illallah” dan negeri mengamalkan “La ilaha illallah”. Karenanyalah negeri Akhirat dan Surga diciptakan, sebab “La ilaha illallah” adalah kunci pintunya dan ahli “La ilaha illallah” adalah ahli Surga. Karenanya pula Neraka dicipta untuk menjadi tempat tinggal bagi mereka yang mengingkarinya, memeranginya dan memerangi ahlinya, “Dan tiadalah Tuhanmu menzhalimi seorangpun.” [QS. Al-Kahf: 49].

Dengan kalimat inilah catatan amal akan diterima kelak menggunakan tangan kanan, dan tanpanya catatan amal akan diterima menggunakan tangan kiri. Dengan kalimat ini timbangan kebaikan akan menjadi berat dan tanpanya akan menjadi ringan. Dengannya Allah mengambil perjanjian (untuk beriman) dan dialah yang akan dipertanyakan kelak pada Hari Kiamat, karena seluruh hamba akan ditanya tentang siapakah Tuhan yang mereka sembah. Mereka ditanya: “Dengan apa kalian menjawab seruan para rasul?” dan jawaban pertama ialah dengan mempersaksikan bahwa: “La ilaha illallah”, lalu jawaban kedua ialah dengan mempersaksikan bahwa: “Muhammad rasalullah”.

Kalimat tauhi adalah nikmat paling besar yang Allah berikan kepada seorang hamba, karena Allah menjadikannya sebagai nikmat pertama yang disebut dalam Surat An-Nahl yang memiliki nama lain Surat An-Ni`am (Surat Nikmat). Allah berfirman (yang artinya): “Dia menurunkan para Malaikat dengan (membawa) wahyu atas perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (sesembahan yang haq) melainkan Aku maka hendaklah kalian bertaqwa kepada-Ku’.” [QS. An-Nahl: 2]. Allah juga berfirman (yang artinya): “Dan Dia telah menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya yang lahir dan batin...” [QS. Luqman: 20]. Mujشhid Ibn Jabr Al-Makki berkata: “Ia adalah nikmat ‘La ilaha illallah’.”

Keutamaan Kalimat Tauhid

Ketahuilah bahwa kalimat ini memiliki keutamaan-keutamaan besar yang tak terhitung. Di antara keutamaan tersebut:

- Kalimat tauhid adalah al-`urwah al-wutsqa (tali yang sangat kuat) yang siapa saja berpegang teguh padanya akan selamat dan siapa yang melepaskannya akan celaka. Allah berfirman (yang artinya): “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) Agama (Islam); (karena) sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa ingkar kepada Thâghût [Syetan dan segala yang disembah selain Allah] dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada al-`urwatul wutsqâ (tali keselamtan yang amat kuat) yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 256].

- Kalimat Tauhid adalah janji setia yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya): “Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah.” [QS. Maryam: 87]. Syafaat tidak akan didapat kecuali oleh ahli “La ilaha illallah”, setelah Allah ridha kepada orang yang akan diberi syafaat dan mengizinkan orang yang memintakan syafaat. Dan perjanjian dengan Allah itu akan dimintai tanggung jawabnya.

- Kalimat Tauhid adalah al-husna sebagaimana difirmakan oleh Allah yang artinya): “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan al-husna (kalimat La ilaha illallah). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” [QS. Al-Lail: 5-7].

- Allah telah menjanjikan kepada para ahli “al-husna” Surga dan ziyadah yaitu memandang kepada wajah Allah yang mulia. Allah berfirman (yang artinya): “Bagi orang-orang yang berbuat baik adalah Surga dan ziyadah (tambahannya, nikmat melihat Allah).” [QS. Yunus: 26].

- Kalimat Tauhid ialah kalimat kebenaran yang pasti, sehingga ahlinya berada dalam kebenaran dan musuhnya berada dalam kebathilan, dan kebenaran itulah satu-satunya yang berhak diikuti. Allah berfirman (yang artinya): “Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang-orang yang mengakui yang haq (kalimat tauhid) mereka meyakini(nya).” [QS. Az-Zukhruf: 86].

- Kalimat Tauhid adalah Kalimat Taqwa yang Allah wajibkan atas Rasul-Nya dan para shahabat beliau, dan mereka adalah manusia-manusia yang paling berhak atas kalimat itu serta ahlinya. Taqwa ialah perlindungan dari azab, mengamalkan Al-Kitab (Al-Quran) dan selamat dari `Itab (celaan). Allah berfirman (yang artinya): “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka Kalimat-Takqa [kalimat Tauhid] dan mereka adalah yang paling berhak dengan kalimat taqwa itu dan mereka adalah ahlinya (patut memilikinya). Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Fath: 26].

- Kalimat Tauhid adalah al-qaul ats-tsabit (perkataan yang teguh) yang dengannya Allah meneguhkan hati orang-orang beriman dalam kehidupan dunia dan Akhirat. Ahli tsabat (keteguhan hati) itu sedikit, karena Syetan telah mengancam manusia akan datang mengganggunya dari depan, belakang, samping kanan dan kirinya. Oleh karena itu Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention selalu berdoa dalam sujudnya agar diteguhkan hati beliau. Beliau berdoa: “Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, teguhkanlah hatiku di atas Agama-Mu.” `Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa Anda memperbanyak doa ini?” Beliau menjawab: “Hati-hati (manusia) itu berada di antara dua jari Ar-Rahman dan membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” Tentang makna ini Allah berfirman (yang artinya): “Allah meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh itu [kalimat Tauhid] dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat...” [QS. Ibrahim: 27].

- Kalimat Tauhid ialah Kalimat Thayyibah yang selalu membuahkan amal shalih, selalu memberi manfaat, menyebabkan diterima dan diangkatnya amal ke langit, serta membuahkan pemberian dengan cara yang baik. Allah berfirman (yang artinya): “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [Kalimat Tauhid] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [QS. Ibrahim: 24-25].

- Kalimat Tauhid adalah al-hasanah yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya): “Barang siapa membawa al-hasanah (Kalimat Tauhid) maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada katakutan yang dahsyat pada Hari itu.” [QS. An-Naml: 89]. Maka ahli Kalimat Tauhid tidak mengalami ketakutan dan kesedihan, karena mereka dianugerahi rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.

- Kalimat Tauhid adalah ungkapan ideal tertinggi di langit dan di bumi.

- Kalimat Tauhid ialah kalimat yang kekal yang diwasiatkan oleh para nabi kepada putra-putri mereka dan menjadikannya sebagai harta warisan yang mereka wariskan dan kebaikan yang mereka tinggalkan. Allah berfirman (yang artinya): “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayhnya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menciptakanku; karena sungguh Dia akan memberi hidayah kepadaku. Dan lbrahim menjadikan Kalimat Tauhid itu sebagai kalimat yang kekal (kalimat pegangan) bagi keturunannya supaya mereka kembali kepada Kalimat Tauhid itu.” [QS. Az-Zukhruf: 26-28].

- Kalimat Tauhid ialah cabang iman yang paling tinggi. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Iman itu tujuh puluh tujuh cabang; yang paling tinggi ialah Lâ ilâha illallâh, dan yang paling rendah ialah membuang duri dari jalanan.”

- Kalimat Tauhid adalah ucapan paling utama yang dicuapkan oleh para nabi, padahal seluruh ucapan mereka adalah ucapan-ucapan kebenaran karena mereka tidak berbicara atas dasar hawa nafsu. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah, dan sebaik-baik yang diucapkan olehku dan oleh nabi-nabi sebelumku adalah: La ilaha illallahu wahdahu la syaraka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa `ala kulli syai’in qadir (Tiada Tuhan sesembahan yang haq selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Baginya segala kekuasaan dan puja-pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu).”

- Kalimat Tauhid adalah dzikir yang paling utama, sementara doa yang paling utama ialah: Alhamdulillah. Dalam hadits disebutkan: “Dzikir yang paling utama ialah Lâ ilâha illallâh, dan doa yang paling utama ialah Alhamdulillah.”

- Kalimat Tauhid adalah yang paling berat timbangannya di atas Mizan. Diriwayatkan dari Abdullah Ibn `Amr  may  Allaah  be  pleased  with  them bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Sungguh Allah akan memilih seorang laki-laki dari Umatku di hadapan para makhluk pada Hari Kiamat, lalu ditebarkanlah 99 buku catatan amal keburukannya, setiap buku panjangnya sejauh pandangan mata. Kemudian Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengingkari semua catatan ini? Apakah para Malaikat pencatatku telah menzalimi kamu?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Tidak wahai Tuhanku.’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau mempunyai alasan (yang membebaskan kamu dari semua dosa ini)?’ Ia menjawab: ‘Tidak wahai Tuhanku.’ Kemudian Allah berfirman: ‘Tidak (justru kamu memiliki alasan), kamu memiliki satu kebaikan di sisi kami, dan sungguh tidak ada kezaliman atas dirimu Hari ini.’ Lalu dikeluarkanlah sebuah kartu bertuliskan: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan `abduhu wa rasûluluh. Kemudian Allah berfirman: ‘Datangkan timbangan amalanmu.’ Ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, apalah artinya kartu ini dibanding catatan keburukan yang sedemikian banyak itu?’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tak akan dizalimi.’ Lalu ditaruhlah catatan keburukan di salah satu sayap Mîzân dan kartu tersebut di sayap lainnya, dan ternyata timbangan keburukan itu kalah berat dan kartu tersebut jauh lebih berat. Dan tak ada sesuatupun bisa menandingi beratnya nama Allah.”

- Kalimat Tauhid sebanding dengan pahala membebaskan hamba sahaya, dan merupakan pelindung dan penjaga dari gangguan Syetan. Disebutkan dalam sebuah hadits: “Barang siapa mengucapkan: ‘La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa `ala kulli syai’in qadir’ dalam sehari seratus kali maka ia seolah-olah telah memerdekakan sepuluh orang budak dari anak cucu Isma`îl, dan diampuni baginya kesalahannya, dicatat baginya seratus kebaikan, dan ucapan itu menjadi penjaganya dari gangguan Syetan pada hari itu sampai sore hari. Dan tidak seorangpun yang dapat memperoleh pahala lebih besar darinya kecuali orang yang melakukan amalan itu lebih banyak dari dia.”

- Kalimat ini lebih berat timbangannya di atas Mîzân daripada langit dan bumi. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Bahwa Nuh berwasiat kepada anaknya ketika akan meninggal dunia: ‘Aku wasiatkan kepadamua ‘La ilaha illallah’, karena jika langit yang tujuh dan bumi yang tujuh di taruh di salah satu sayap Mizan, kemudian ‘La ilaha illallah’ di taruh di sayap sebelahnya, maka timbangan ‘La ilaha illallah’ akan lebih barat. Dan kalau seandainya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh adalah sebuah rantai yang kokoh niscaya akan diruntuhkan oleh ‘La ilaha illallah’.”

- Kalimat Tauhid adalah sebab masuk Surga. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Barang siapa mengucap: Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa anna muhammadan `abduhu wa rasuluh (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan sesembahan yang haq selian Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya), dan bahwa `Îsâ adalah hamba Allah dan putra ibunya serta kalimat yang Allah tipukan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan bahwa Surga itu benar dan Neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Surga dari delapan pintu Surga yang manapun yang ia kehendaki.”

- Kalimat Tauhid adalah salah satu sebab keselamatan dari Neraka. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention pernah mendengar seorang muazin mengumandangkan: ‘Allahu akbar’ lalu beliau menjawab: “(Engkau) berada di atas fitrah.” Kemudian muazin tersebut mengumandangkan: ‘Asyhadu alla ilaha illallah’ dan beliau menjawab: “Engkau telah keluar dengannya dari Neraka.” Beliau bersabda lagi: “Barang siapa bersaksi bahwa tiada Ilah (Tuhan sesembahan yang haq) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah niscaya Allah mengharamkannya tersentuh Neraka.”

- Dengan Kalimat Tauhid inilah seorang manusia menghadapi dunia, yaitu ketika ia dilahirkan dan diazankan di telinga kanan, kemudian kalimat ini ditalqinkan kembali kepadanya ketika akan meninggal dunia supaya menjadi ucapan terakhirnya di atas dunia. Tetapi ucapan tersebut haruslah disertai dengan pengetahuan tentang maknanya, meyakininya dan mengamalkan konsekuensinya. Dengan “mengetahui maknanya” ia selamat dari menyerupai orang-orang Nasrani yang beramal tetapi tidak mengetahui kebenaran, dengan “mengamalkannya” ia selamat dari menyerupai orang-orang Yahudi yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya, dan dengan “meyakininya” ia selamat dari menyerupai orang-orang munafik yang pura-pura beramal dan tidak meyakini kebenarannya.

Artikel Terkait