Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. MENSUCIKAN JIWA
  4. Jalan Menuju Surga

Tentang Musim Dingin dan Musim Panas (Bag.1)

Tentang Musim Dingin dan Musim Panas (Bag.1)

Musim Dingin

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa`id Al-Khudri  may  Allaah  be  pleased  with  them, dari Nabi Shallallahu `alaihi wasallam beliau bersabda, “Musim dingin itu adalah musim semi (musim yang indah) bagi seorang Mukmin.” Al-Baihaqi dan yang lainnya juga meriwayatkan hadits di atas dengan tambahan redaksi: “Malamnya panjang lalu mereka menghidupkannya dengan shalat malam, siangnya pendek lalu mereka mengisinya dengan puasa.”

Musim dingin menjadi musim semi bagi seorang Mukmin lantaran ia dapat memuaskan diri padanya di dalam kebun-kebun ketaatan, merumput di ladang-ladang ibadah, membersihkan hatinya dengan riyadhah (olah jiwa) yang mudah ia lakukan, layaknya hewan ternak yang merumput di ladang musim semi sehingga badannya menjadi gemuk dan sehat. Demikian pula halnya dengan keberagamaan seorang Muslim di musim semi, dimana Allah memudahkan baginya melakukan ketaatan-ketaatan di dalamnya. Mudah baginya untuk berpuasa di siang hari tanpa diberatkan oleh lapar dan dahaga, karena siang hari musim dingin pendek dan sejuk sehingga ia tidak merasakan kesulitan berpuasa. Diriwayatkan dari Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bahwa beliau bersabda “Puasa di musim dingin adalah ghanimah yang sejuk.” [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi]. Abu Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them berkata “Maukah kalian aku tunjukkan sebuah ghanimah yang sejuk?” Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ia berakta “Berpuasa di muslim dingin.” Maksud ghanimah yang sejuk ialah karena puasa musim dingin ibarat ghanimah yang diperoleh tanpa berperang, tanpa bersusah payah dan merasakan kesulitan. Pelakunya mendapatkan ghanimah tersebut secara sepontan begitu saja tanpa bersusah payah.

Adapun qiyamullail, karena malam hari musim dingin cukup panjang seseorang bisa mengambil jatah tidurnya secara penuh kamudian setelah itu bangun untuk melaksanakan shalat malam. Ia bisa membaca wirid (bacaan harian) Al-Quran-nya ketika shalat karena ia telah mengambil jatah tidurnya. Dengan demikian, ia memperoleh waktu tidurnya yang ia butuhkan sekaligus dapat membaca wirid Al-Quran-nya, sehingga lengkaplah baginya maslahat agama dan rehat badannya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata “Selamat datang musim dingin dengan keberkahan yang turun padanya. Malamnya panjang untuk shalat malam dan siangnya pendek untuk berpuasa.” Diriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata: “Sungguh indah waktu musim dingin seorang Mukmin. Malamnya panjang sehingga ia leluasa mendirikannya (shalat malam) dan siangnya pendek sehingga mudah ia berpuasa padanya.” Diriwayatkan bahwa jika musim dingin telah tiba `Ubaid Ibn `Umair, ia berkata: “Wahai Ahlul Qur’an, panjang malam kalian untuk tilawah Al-Quran maka bacalah, dan pendek siangnya untuk berpuasa maka berpuasalah kalian.”

Pembahasan ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang beradab dengan adab Al-Quran dan beramal dengan Al-Quran dan Sunnah. Allah memuji orang-orang beriman yang mendirikan malam dengan shalat tahajjud, dengan firman-Nya (yang artinya): “Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” [QS. Adz-Dzariyat: 17-18]. “Badan mereka jauh dari tempat tidurnya (di tengah malam pada saat orang lelap dalam tidur) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.” [QS. As-Sajdah:16 ]. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) Akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sungguh orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [QS. Az-Zumar: 9].

Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention juga menginformasikan bahwa shalatnya seorang laki-laki di tengah malam akan memadamkan api kesalahannya sebagaimana air memadamkan api. [HR. At-Tirmidzi], dan bahwa Allah turun ke langit terdekat ketika tersisa spertiga malam terakhir lalu berfirman: “Siapakah yang berdoa kepada-Ku sehingga Aku mengabulkannya? Siapakah yang memohon kepada-Ku sehingga Aku memberikan permohonannya? Siapakah yang memohon ampunan kepada-Ku sehingga Aku mengampuninya? Demikian hingga terbit waktu fajar.” [HR. Muslim].

Keutamaan ini terhalangi dari kabanyakan manusia di zaman ini. Mereka bergadang hingga larut malam kemudian tidur melewatkan shalat Shubuh. Padahal Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention tidak menykai tidur sebelum shalat Isya dan tidak menyukai pula obrolan setelahnya, kecuali dalam hal yang baik. Beliau bersabda: “Tidak ada samar (bergadang atau obrolan malam) (yang dibenarkan) kecuali dalam tiga hal: orang yang shalat, atau musafir atau pengantin baru.” [HR. Ahmad]. Shalat malam musim dingin setara dengan puasa siang hari musim panas dalam hal keutamaan dan pahala yang besar. Oleh karena itu Mu`âdz Ibn Jabal  may  Allaah  be  pleased  with  them menangis ketika akan meninggal dunia, ia berkata: “Sesungguhnya aku menangis lantaran haus musim panas (puasa musim panas), shalat malam musim dingin dan berkumpul dengan para ulama di halaqah-halaqah dzikir (yang terlewatkan).”

Menyempurnakan wudhu saat kerasnya musim dingin termasuk amal yang paling utama. Diriwayatkan dari Abu Hurairah  may  Allaah  be  pleased  with  them dari Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention, beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian amalan yang dengannya Allah menghapus kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat yang berat (seperti musim dingin), banyaknya langkah menuju masjid dan menunggu shalat (berikutnya) setelah shalat. Itulah ribâth, itulah ribâth (berjaga-jaga di saat peperangan).”

Diriwayatkan dari Mu`adz Ibn Jabal, dari Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bahwa beliau melihat Tuhannya—`Azza wajalla—yaitu di dalam mimpi—dan berfirman kepada beliau: “Wahai Muhammad, Tahukah kamu apakah yang diperselisihkan (dicemburui) oleh makhluk-makhluk di sisi Tuhanmu? Ia adalah derajat dan kaffârât (pengampunan dosa). Kaffarat adalah menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang memberatkan, melangkahkan kaki menuju shalat Jumat—dalam riwayat lain: menuju shalat jamaah—dan menunggu shalat setelah shalat. Barang siapa melaksanakan hal itu maka ia akan hidup dengan baik, mati dengan baik, dan dosa-dosanya dihapuskan sehingga ia seperti hari ketika dilahirkan ibunya (bersih dari dosa). Adapun derajat ialah: memberi makan, menebar salam, shalat di malam hari pada saat orang-orang tertidur lelap.” [HR. Ahmad dan At-Tirmidzi]. Dalam beberapa riwayat disebutkan: “Menyempurnakan wudhu pada saat kerasnya dingin.”

Allah telah mengaruniai nikmat wol dan bulu-bulu hewan kepada hamba-hambanya supaya mereka merasakan kehangatan dari hawa dingin. Allah berfirman (yang artinya): “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kalian; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kalian makan.” [QS. An-Nahl: 5]. “Dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” [QS. An-Nahl: 80]. Apabila musim dingin tiba Umar Ibnul Khaththab  may  Allaah  be  pleased  with  them memberi peringatan dan menulis pesan kepada mereka: “Muslim dingin telah tiba dan ia adalah musuh. Maka bersiap-siaplah menghadapinya dengan perlengkapan seperti wol, khuff (sepatu kulit tinggi) dan kaus kakit. Jadikanlah wol sebagai pakaian dan selimut, karena dingin adalah musuh yang cepat masuknya dan susah keluarnya.” Pesan ini merupakan bagian dari kesempurnaan nasihat, kebaikan pandangan, kasih sayang dan perhatian beliau terhadap rakyatnya.

Di antara yang juga diperintahkan untuk dilakukan di muslim dingin dan selain musim dingin ialah menolong kaum fakir miskin dengan pakaian yang melindungi mereka dari dingin, dan perbuatan ini tentu merupakan keutamaan yang besar. Diriwayatkan dari Abu Sa`id bahwa Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Barang siapa memberikan makan kepada orang Mukmin yang lapar maka Allah akan memberinya makan dari buah-buahan Surga pada Hari Kiamat. Barang siapa memberinya minum ketika haus maka Allah akan memberinya minum dari minuman yang lezat. Dan barang siapa memberinya pakaian ketika tidak memilikinya maka Allah akan memakaikannya pakaian Surga yang berwarna hijau.”

Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas`ud, bahwa ia berkata, “Manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan sangat telanjang, sangat lapar dan sangat haus, dan barang siapa memberi pakaian karena Allah—`Azza wajalla—maka Allah akan memberinya pakaian, barang siapa memberi makan karena Allah maka Allah akan memberinya makan, barang siapa memberi minum karena Allah maka Allah akan memberinya minum dan barang siapa memaafkan karena Allah maka Allah akan memaafkannya.”

Keutamaan musim dingin lainnya ialah, ia mengingatkan kita akan zamharir (tempat yang teramat dingin) di Neraka Jahannam, yang mengharuskan kita memohon perlindungan darinya serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang menggiring kepadanya seperti meninggalkan kewajiban dan mengerjakan larangan. Diriwayatkan dari Abû Hurairah dan Abû Sa`id Semoga Allah meridhai keduanya dari Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention beliau bersabda: “Jika suatu hari terasa sangat dingin lalu seorang hamba berkata: ‘La ilaha illallah, betapa dinginnya hari ini! Ya Allah, lindungilah aku dari zamharir Jahannam’, maka AllahTa`alaberfirman kepada Jahannam: ‘Sesungguhnya salah seorang hamba-Ku memohon perlindungan kepada-Ku dari zamharîrmu, dan sungguh Aku mempersaksikan padamu bahwa Aku telah melindunginya.” Mereka bertanya: “Apakah itu zamharir Jahannam?” Nabi menjawab: “Sebuah rumah tempat dilemparnya orang-orang kafir sehingga (anggota badan) mereka terpisah-pisah karena saking dinginnya.”

Dalam sebuah hadits shahih Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Neraka mengadu kepada Tuhannya: Wahai Tuhanku, bagian-bagian diriku saling memakan satu sama lain.’ Lalu Allah memberinya izin untuk dua hawa: hawa musim dingin dan hawa musim panas. Maka, hawa paling panas yang kalian rasakan berasal dari sebagian kecil hawa panas Jahannam, dan hawa paling dingin yang kalian rasakan adalah hawa zamharîr Jahannam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: “Penghuni Neraka meminta pertolongan dari hawa panas, lalu mereka ditolong dengan angin yang sangat dingin hingga meremukkan tulang, sehingga mereka meminta hawa panas lagi.” Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Jika mereka terjerumus ke dalamnya (zamharir Jahannam) tulang-tulang mereka remuk sampai terdengar bunyi retakannya.”

Allah berfirman (yang artinya): “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan ghassaq. Sebagai pambalasan yang setimpal.” [QS. An-Naba': 24-26]. “Inilah (azab Neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) adalah hamim (air yang sangat panas) dan ghassâq (air yang sangat dingin).” [QS. Shad: 57]. Ibnu `Abbas berkata: “Ghassaq ialah zamharir yang sangat dingin dan membakar saking dinginnya.” Mujahid berkata: “Ia adalah minuman yang tak mampu mereka rasakan karena saking dinginnya.” Pendapat lain mengatakan: Ghassaq ialah yang sangat dingin dan busuk. Semoga Allah melindungi kita dari Jahannam, dengan karunia dan kemurahan-Nya.

“Wahai orang yang dibacakan kepadanya sifat-sifat Neraka Jahannam, yang setiap tahun merasakan sedikit saja hembusan hawanya sehingga ia merasa sakit karenanya, namun ia tetap saja melakukan perbuatan-perbuatan yang justru melemparkannya ke dalam Neraka itu, sementara ia tahu akan hal itu. Nanti engkau akan tahu siapa yang menyesal ketika Neraka itu dihadirkan, dan engkau diseret dengan 70 ribu rantai dan pada setiap rantai terdapat 70 ribu Malaikat yang menyeretnya. Apakah engkau memiliki kesabaran menghadapi panas apinya dan dingin zamharîrnya? Katakan padaku dan bicaralah, jika memang ada kebaikan yang diharapkan padamu. Wallahu a`lam.” [Kitab Latha’iful Ma`arif, karya Ibnu Rajab].

Ya Tuhan kami, berilah kami kabaikan di dunia dan kebaikan di Akhirat dan lindungilah kami dari azab Neraka. Ya Allah, jauhkanlah dari kami azab Jahannam, sungguh azabnya adalah kebinasaan yang kekal. Sungguh Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat tinggal. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami ini beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab Neraka. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuslah keburukan-keburukan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang yang baik. Ya Allah, kami memohon perlindungan kepadamu dari azab Jahannam dan azab Kubur, dan dari fitnah (bencana) kehidupan dan kematian, serta dari fitnah (tipu daya dan bencana) Dajal. Ya Allah, kami memohon Surga pada-Mu serta perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kami kepadanya, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari Neraka serta dari perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kami kepadanya. Ya Tuhan kami, terimalah amal ibadah kami, sungguh Engkau Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Artikel Terkait