Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. MENSUCIKAN JIWA

Supaya Hati Tetap Hidup

Supaya Hati Tetap Hidup

Hati adalah permata hidup manusia. Dengan hati yang bersih dan bening hidup manusia menjadi bersih dan bening. Fakta ini selain ditunjukkan oleh dalil-dalil Syariat juga dibuktikan oleh teori-teori sains dan filsafat dalam seluruh agama sepanjang sejarah.

Dari sini, seorang Muslim yang bijak akan selalu memperhatikan hal-hal yang akan menjaga keshalihan hatinya serta menjadi kekuatan dan kesehatannya. Sebab, ia sadar bahwa dengan memiliki hati yang sehat dari penyakit-penyakit hati ia akan meraih kehidupan yang hakiki, yang jernih dan indah.

Lihatlah bagaimana Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention menjelaskan bahwa kebersihan dan kebaikan hidup manusia terkait erat dengan kebaikan hatinya. Beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh jasad dan apabila ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” [HR. Al-Bukhari].

Saudaraku yang terhormat, sungguh hati adalah kunci kebahagiaan dan kekayaan, wadah keselamatan dan hidayah, sumber kekuatan dan keridhaan, dan sungguh kebutuhanmu akan kejernihan dan kebeningan hati jauh lebih penting daripada kebutuhanmu terhadap udara dan makanan. Maka bagaimanakah cara supaya hati tetap sehat, tetap berdetak dengan keimanan dan tetap hidup?

Pertama: Jadilah orang yang bertauhid

Tauhid (beriman dan mengesakan Allah serta menyembah hanya pada-Nya) adalah cahaya yang mencerahkan hati, menajamkan pandangan dan menguatkannya. Tauhid adalah materi hidupnya, asas kekuatan dan keselamatannya. Tiada kehidupan bagi hati melainkan dengan iman kepada Allah. Tauhid adalah iman yang menciptakan ketenangan hati dan kedamaian jiwa, karena ia akan melahirkan di dalam hati ketawakkalan penuh kepada Allah yang menjadikan ringan segala yang berat dan sulit. “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [QS. Ath-Thalaq: 3]. Iman melahirkan kepercayaan dan keyakinan kepada Allah yang akan menghilangkan segala kegelisahan, kesusahan dan kesedihan. Iman melahirkan ketajaman mata hati dan petunjuk hidayah yang menjadikannya semakin teguh dan semakin kuat menghadapi kesulitan, sebagaimana firman Allah yang artinya): “Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” [QS. At-Taghabun: 11]

Iman kepada Allah adalah nur yang menjalar di dalam hati seorang Mukmin, yang menerangi jalan hidupnya dan meneguhkannya sehingga ia dapat melihat segala sesuatu sebagaimana hakikatnya: melihat yang buruk sebagai keburukan dan yang baik sebagai kebaikan.

Saudaraku yang terhormat, ketahuilah bahwa kebahagiaan dan kehidupan yang baik dalam hidup ini tidak akan terwujud kecuali di atas satu asas, yaitu: hidayah, sebagaimana firman Allah berfirman (yang artinya): “Barangsiapa mengikuti petunjuk hidayah-Ku ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran) maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” [QS. Thaha: 123-124]

Ketahuilah bahwa wadah bagi hidayah itu adalah hati. Namun, wadah ini tak akan dapat menampung hidayah kecuali jika di dalamnya terdapat iman dan keyakinan yang menjadikannya siap untuk hal itu. Oleh karena itu Allah berfirman (yang artinya): “Dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” [QS. At-Taghabun: 11].

Dari sinilah bahwa hidayah akan terwujud dengan terwujudnya lebih dahulu Aqidah yang shahih dan iman yang jernih dari kotoran kesyirikan. Dan sejauh seorang Mukmin mengenal Tuhannya sejauh itu pula keyakinannya kepada-Nya, sejauh itu pula ketajaman hatinya, rasa takut pada-Nya dan keterhidayannya, sebagaimana firman Allah yang artinya): “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama [yang alim tentang ajaran Syariat dan menyadari kebesaran dan keagungan Allah].” [QS. Fathir: 28]

Saudaraku, jika engkau merenungkan pengaruh dzikir mengingat Allah pada hati dan rasa takutnya kepada Allah, engkau akan melihat bahwa pengaruh tersebut tidak akan engkau temukan kecuali pada hati-hati yang beriman, sebagaimana firman Allah yang artinya): “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” [QS. Ar-Ra`d: 28]. Dalam ayat ini Allah menggandengkan antara ketenangan hati dengan berdzikir dan keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa hati seorang Mukmin akan lebih peka saat mendengar lafaz-lafaz dzikir kepada Allah terhadap makna-makna yang dikandung oleh dzikir, dan hal inilah yang menyebabkan hatinya terpengaruh olehnya. Ia akan lebih tajam memandang ayat-ayat Allah dan hakikat-hakikat keghaiban. Oleh karena itu ketika berdzikir kepada Allah ia akan lebih tajam melihat aib dirinya, lebih tajam melihat keagungan, kekuasaan, rahmat dan sifat-sifat Allah yang mulia. Ia akan lebih tajam melihat kekurangan dan kelemahannya sehingga kondisi ini akan melahirkan keterpengaruhan ketika mendengar lafaz-lafaz dzikir.

Berbeda dengan orang yang imannya lemah, kepekaan hatinya telah hilang sehingga ia tidak mampu mendengar ataupu memahami, sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Mereka memiliki hati namun tak dapat ia gunakan untuk memahami” [QS. Al-A`raf: 179] dan firman-Nya (yang artinya): “Ataukah hati mereka terkunci?” [QS. Muhammad: 24] dan firman-Nya (yang artinya): “Sungguh bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” [QS. Al-Hajj: 46]

Hati seorang Mukmin adalah hati yang berakal, tak akan tertipu oleh penampilan luar segala sesuatu, karena ia tidak hanya melihat dengan mata kepala saja, tetapi juga melihat dengan mata hatinya. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Sesungguhnya akal itu berada dalam hati (jantung), kasih sayang itu di dalam lever, rasa iba itu di dalam limpa dan jiwa itu di dalam paru-paru.” [Shahih Al-Adab Al-Mufrad. No. Hadits: 425].

Karena hati seorang Mukmin itu diterangi oleh cahaya Tauhid maka ia akan lebih cerdas memahami ayat-ayat kauniah dan ayat-ayat Syariat (Al-Quran dan Sunnah). Oleh karena itu, Allah berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” [QS. Al-Anfal: 2]

Syaikh Abdurrahman As-Sa`di berkata “Allah menyifati orang beriman dengan sifat-sifat tersebut yang mengandung makna pelaksanaan terhadap prinsip-prinsip ajaran Agama dan cabang-cabangnya, serta zahir dan batinnya. Allah menyifati mereka dengan keimanan pada-Nya: iman yang efeknya tampak dalam aqidah, perkataan dan perbuatan mereka baik yang zahir maupun yang batin. Dan meskipun iman tersebut telah tertanam di hati, namun kualitasnya semakin setiapkali dibacakan ayat-ayat Allah kepada mereka. Rasa takut dan gemetarnya hati mereka semakin meningkat setiapkali disebutkan nama Allah. Hati mereka selalu bertawakkal kepada Allah.” [Kitab At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman].

Kedua: Kosongkan hatimu dari kesibukan dan percampuran (dengan manusia)

1. Hati itu berbolak-balik: Saudaraku, sesungguhnya iman kepada Allah—`Azza wajalla, ketawakkalan dan keyakinan pada-Nya akan melahirkan kekuatan, ketajaman pandangan dan akal di dalam hati dalam menimbang segala sesuatu, serta mewujudkan hidayah sehingga ia hidup dengan aman dari buruknya godaan dan jalan kehancuran.

Akan tetapi Sunnatullah menghendaki seorang Mukmin selalu dalam peperangan dan perlawanan supaya hatinya tetap teguh di atas iman dan ketakwaan. Tetapi seorang Mukmin bagaimanapun kuat imannya pasti suatu saat ia akan mengalami kelalaian dan kelemahan. Tidaklah qalbu disebut qalbu (yang berbolak-balik) melainkan karena ia selalu berbolak-balik dan tidak tetap stabil di atas satu kondisi.

Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Sesungguhnya qalbu (hati) itu disebut qalbu karena sifatnya yang berbolak-balik. Sungguh perumpamaan hati itu seperti selembar bulu di padang pasir yang melekat di pokok sebuah pohon, lalu ia dibolak-balikkan oleh angin ke depan ke belakang.” [Hadits. Menurut Al-Albani: Shahih].

Kondisi berbolak-balik yang merupakan sifat utama hati adalah alasan mengapa manusia memiliki sifat zalim, berkhianat dan melakukan kesalahan, karena situasi hatinya selalu berubah-ubah, sifat-sifatnnya tidak tetap, terkadang dikuasai syahwat, tertipu oleh perkara syubhat, tertutup oleh sifat lupa serta dikuasai oleh hawa nafsu dan kelaliman. Kadangkala ia terpedaya oleh perhiasan dunia dan dikuasai oleh tabiat dirinya. Jadi tabiat hati oleh banyak faktor selalu berbolak-balik.

2. Membersihkan hati dengan taubat: Kondisi berbolak-baliknya hati dalam diri manusia tidak diciptakan oleh Allah melainkan untuk mengujinya, baik dengan perbuatan salah atau perbuatan benar yang dilakukannya. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak melakukan dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian lalu mendatangkan kaum lainnya yang akan berbuat dosa lalu mereka beristighfar sehingga Allah mengampuni mereka.” [HR. Muslim].

Selain itu, supaya Allah memperlihatkan rahmat-Nya kepada hamba tersebut ketika melihat dirinya penuh dosa sehingga ia berupaya kembali kepada Tuhannya dangan bertaubat dan tunduk patuh. Dari sini, wahai saudaraku, engkau harus mengetahui bahwa setiap saat dan waktu engkau butuh untuk memperbarui taubat dan memperbanyak istighfar, karena keduanya akan membersihkan hati dari kotoran, pengaruh dan gelapnya maksiat. Oleh karena itu Allah mewasiatkan kepada hamba-hambanya yang beriman agar mereka selalu bertaubat dan menjadikan taubat sebagai asas kesuksesan mereka. Dia berfirman (yang artinya): “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kalian beruntung.” [QS. An-Nur: 31]

Dalam hadits Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda “Fitnah-fitnah (godaan-godaan) itu akan melekat di dalam hati (manusia) seperti dianyamnya tikar seutas demi seutas. Maka hati siapapun yang membiarkan masuk godaan-godaan itu akan meninggalkan satu noktah hitam padanya, dan hati siapapun yang menolaknya akan meninggalkan satu noktah putih padanya sehingga hati itu menjadi putih bening laksana shafa (batu putih yang mengkilap), tidak akan dicelakai oleh godaan apapun selama-lamanya. Sementara hati yang satunya lagi (yang membiarkan masuk godaan-godaan itu) menjadi hitam dan beku seperti gelas terselungkup, tak mampu mengenal kebaikan dan tak sanggup menolak kemungkaran kecuali apa yang diisikan oleh hawa nafsunya.” [Hadits. Menurut Al-Albâni: Shahih].

Saudaraku yang terhormat, jika engkau telah mengetahui bahwa dosa-dosa itu membuat hati berpenyakit, mengaburkan pandangan batinnya dan menumpulkan fungsi akalnya maka sungguh-sungguhlah membersihkan hati dari penyakit maksiat dengan cara menjauhinya, serta selalu bertaubat dan beristighfar untuk menghilangkan bahayanya. Karena kekuataan dan kesehatan hatimu tergantung pada kebersihan dan kejernihannya.

Hatimu akan menjadi jernih dengan tiga hal:

Pertama: Bertaubat kepada Allah dan beristighfar atas dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Kedua: Memperbanyak amal baik, karena amal kebaikan itu akan menghapus dosa, sebagaimana firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): “Dan dirikanlah shalat itu pada dua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sungguh perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” [QS. Hûd: 114].

Ketiga: Bersemangat melaksanakan amalan-amalan yang dapat mendatangkan ampunan, seperti shalat wajib, shalat-shalat sunnat, wudhu, menunggu shalat setelah shalat, umrah dan haji, amalan-amalan lainnya yang dapat mendatangkan ampunan, yang dijelaskan dalam kitab-kitab Fadhâ’il A`mâl.

Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention pernah berpesan kepada Mu`adz, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik karena ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

3. Mensucikan hati dari penyakit: Suci dan bersihnya hati dari segala penyakit dan gejala-gejalanya merupakan sebab utama bagi kekuatan, kelembutan, kehalusan dan kekhusyukannya. Pemilik hati seperti ini adalah manusia paling baik dan paling dicintai oleh Allah, sebagaimana sabda Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention: “Sebaik-baik manusia ialah pemilik hati yang makhmûm.’ Beliau ditanya: ‘Apakah hati yang makhmûm itu?’ Beliau menjawab: ‘Ia adalah hati yang bertaqwa, bersih, tidak ada dosa di dalamnya, tiada kezhaliman dan kedengkian.” Beliau ditanya lagi: ‘Siapakah yang paling baik setelahnya?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang membanci dunia dan mencintai Akhirat.’ Beliau ditanya lagi: ‘Siapa lagi yang paling baik setelahnya?’ Beliau menjawab: ‘Orang Mukmin yang berakhlak baik.’ [HR. Menurut Al-Albani: Shahih].

Dalam hadits sini Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention menerangkan cara supaya hati menjadi jernih. Keterangan beliau mengumpulkan tiga karakter, yaitu: Jauh dari dosa, kezhaliman dan kedengkian. Sifat-sifat ini merupakan penyakit hati yang paling berbahaya, dimana tak satupun hati yang mengidapnya melainkan akan menderita keburukan, kegelapan, padam cahayanya dan rabun pandangan batinnya.

Jika dosa menitikkan titik hitam di dalam hati maka hasad melahap kebaikan yang menjernihkan hati seperti api melahap kayu bakar. Hasad (dengki) ialah mengharapkan hilangnya nikmat yang dimiliki orang yang dihasadi. Atau ia adalah dendam dan kebencian terhadap orang yang didengki lantaran kondisinya yang baik. Hasad adalah tabiat tercela yang mendiami hati-hati yang lemah dan mati, bagaimanapun kedudukan pemiliknya. Bisa saja engkau menemukan seorang yang hatinya lemah meskipun ia memiliki kedudukan yang tinggi. Bisa saja engkau mendapatkan seorang yang memiliki sifat-sifat terpuji dan kekuasaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, namun dikarenakan tabiatnya yang pendengki, ia tak menyukai orang lain mendapat nikmat.

Saudaraku yang terhormat, ketahuilah bahwa hasad termasuk pembangkangan terhadap hukum Allah, sebagaimana dikatakan: “Barang siapa ridha terhadap takdir Allah maka ia tak akan membenci orang lain, dan barang siapa yang merasa puas dengan pemberian-Nya maka hatinya tak dimasuki oleh hasad.”

Sebagian orang berkata: “Aku tak pernah melihat orang zhalim yang (sebenarnya) lebih mirip dengan orang yang dizhalimi melainkan pada seorang pendengki; jiwanya selalu susah, kegelisahan senantiasa menyertai dan hatinya selalu sakit hati.”

Jika Anda merenungkan firman Allah (yang artinya): “Dan dari kejahatan orang hasad apabila ia hasad.” [QS. Al-Falaq: 5] maka engkau akan menyadari bahwa hasad adalah tabiat yang sering menyelinap ke dalam hati. Akan tetapi hati yang hidup dengan iman akan muncul semburat sinarnya yang memantulkan dan mengusir hasad tersebut. Sementara hati yang lemah akan mematuhinya. Itulah sebabnya Allah berfirman (yang artinya): “Dan dari kejahatan orang hasad apabila ia hasad.” Ibnu Taimiyah berkata: “Tak ada jasad yang kosong dari hasad, tetapi orang yang hina akan menampakkannya dan orang yang mulia akan meredamnya.”

Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling menjauhi, janganlah kalian saling memutuskan silaturrahmi, tetapi jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari.” [HR. Al-Bukhari].

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa hasad menyebabkan kerasnya hati, tercelanya tabiat dan rusaknya akhlak. Ia akan menghalangi hati meraih pahala-pahala besar, karena hati yang bersih dari hasad tentu saja akan penuh dengan kebaikan. Engkau tak akan menemukan pemilik hati itu melainkan selalu menyuruh dirinya untuk melakukan kebaikan meski tak mampu melakukannya. Niatnya yang jernih telah berjalan di dalam hatinya, padahal shalat dan ibadah-ibadah lainnya belum dapat berjalan di hati hamba-hamba yang lain!

Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention pernah bersabda: “Sesungguhnya (diterima tidaknya) amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas sesuai niatnya.” [HR. Al-Bukhari].

Saudaraku, jika engkau menginginkan hati yang suci maka kuatkanlah dirimu untuk bersabar, paksalah dirimu untuk senantiasa berusaha memberikan manfaat kepada hamba Allah, berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk padamu, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu dan memaafkan orang yang menyakitimu. Dalam hadits Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda “Orang Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang (Mukmin) yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” [HR. Ibnu Majah].

Sebagaimana membersihkan hati dari hasad akan menyebabkan kejernihan dan kelurusan hati demikian pula dengan kesabaramu dalam menghadapi orang yang hasad, bertahan menanggung gangguannya dan tetap berbuat baik kepadanya, akan melahirkan kebaikan, kelapangan dada dan kemenangan. Selain itu, akan menyedot kedengkian orang yang hasad itu lalu membuangnya. Hal ini karena biasanya perbuatan baik dapat mengambil hati manusia dan mengembalikan mereka kepada sikap yang benar. Allah berfirman (yang artinya): “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan akan menjadi seolah-olah teman yang sangat setia.” [QS. Fushshilat: 34]

4. Perkaya hati dengan qana`ah: Tamak adalah sebab miskinnya hati yang akan menimbulkan rasa kekurangan yang tak akan tertutupi (dipuaskan) oleh apapun selamanya. Adapun qana`ah (menerima dengan puas) dan ridha dengan rezeki yang dikaruniai oleh Allah akan melahirkan kekayaan hati, ketenangan dan kedamaiannya. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention pernah bertanya kepada Abû Dzar: “Wahai Abu Dzar, apakah menurutmu memiliki banyak harta itu adalah kaya?” Abû Dzar menjawab: “Ya wahai Rasulullah!” Beliau bertanya lagi: “Dan menurutmu sedikit harta itu adalah miskin?” Abu Dzar menjawab: “Ya wahai Rasulullah!” Lalu Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Sesungguhnya kekayaan itu adalah kaya hati dan kemiskinan itu adalah miskin hati.” [Hadits. Menurut Al-Albani: Shahih].

Apabila qana`ah mendiami hati maka hati akan mendapatkan seluruh kebaikan, selamat dari penyakit pelit, rakus dan kikir. Sementara penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Allah berfirman (yang artinya): “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang orang yang beruntung.” [QS. Al-Hasyr: 9]

Diriwayatkan dari Jabir  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Jauhilah oleh kalian penyakit syuhh (rakus), karena syuhh telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian. Syuhh menggiring mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan.” [HR. Muslim].

Saudaraku yang terhormat, kajian tentang penguat dan peneguh hati serta sebab-sebab kesehatannya terlalu luas untuk ditulis dalam artikel singkat ini. Akan tetapi hendaknya engkau memperbanyak dzikir kepada Allah setelah shalat-shalat fardhu, karena hal itu adalah penolong terbesar dalam membersihkan hati. Karena jika engkau istiqamah berdzikir kepada Allah dengan tasbih, istighfar, tahlil, takbir, engkau akan menemukan efeknya secara jelas di dalam hatimu. Dan jika engkau menambahnya lagi dengan puasa, menghindari banyak tidur, makan, obrolan dan tertawa, maka engkau akan meraih kesehatan dan kelurusan hati.

Artikel Terkait