Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Islam

Hari Ketika Segala Rahasia Disingkapkan

Hari Ketika Segala Rahasia Disingkapkan

Di antara ayat-ayat yang mengabarkan tentang apa yang akan terjadi pada hari perhitungan dan pembalasan adalah firman Allah yang Maha Mulia:

"Pada hari ditampakkan (disingkapkan) segala rahasia." [QS. At-Tariq: 9]

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa seluruh amal perbuatan manusia akan dipaparkan di hadapannya pada hari perhitungan; baik yang saleh maupun yang buruk, yang baik maupun yang jahat, serta yang murni maupun yang tercemar.

Kata As-Sara'ir adalah bentuk jamak dari sarirah, yaitu apa yang dirahasiakan dan disembunyikan manusia dalam niat maupun keyakinannya. Sedangkan Balwu as-sara'ir bermakna menguji dan membedakan mana yang baik dari yang rusak, yang merupakan kiasan bagi penghitungan amal (hisab) dan pembalasan (jaza'). Al-Zamakhsyari (wafat 538 H) menjelaskan: "Sara'ir adalah apa yang disembunyikan dalam hati berupa keyakinan, niat, dan sebagainya, serta apa yang dirahasiakan dari amal perbuatan. Sedangkan 'balauha' berarti mengetahuinya, menelitinya, serta membedakan mana yang baik dan mana yang buruk."

Penyingkapan di Akhirat: Dari Rahasia Menjadi Nyata

Diriwayatkan dari Qatadah (wafat 118 H) mengenai ayat ini, ia berkata: "Sesungguhnya rahasia-rahasia ini akan diuji, maka rahasiakanlah kebaikan dan tampakkanlah jika kalian mampu, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) berkata: "Maksudnya adalah diuji." Di dunia, banyak perkara yang tertutup dan tidak tampak secara nyata bagi manusia. Namun pada hari perhitungan, kesalehan orang-orang baik dan kefasikan orang-orang jahat akan tampak. Segala urusan menjadi terang-terangan; apa yang tersembunyi, tersimpan, dan ada di dalam sanubari akan tersingkap di depan mata. Rahasia menjadi nyata dan yang tersembunyi menjadi masyhur.

Dalam Shahihain [Bukhari & Muslim], Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda:

"Setiap pengkhianat akan dipasangkan bendera di dekat bokongnya pada hari kiamat, lalu dikatakan: 'Inilah pengkhianatan fulan bin fulan'."

Hikmah dari hal ini adalah karena pengkhianatan biasanya bersifat rahasia dan tidak diketahui orang, maka pada hari kiamat hal itu dijadikan bendera yang berkibar di atas pelakunya agar semua orang tahu apa yang telah ia perbuat.

Amanah dalam Ibadah yang Bersifat Rahasia

Al-Mawardi (wafat 450 H) menyebutkan dari Zaid bin Aslam (wafat 136 H) bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda:

"Amanah itu ada tiga: Shalat, Puasa, dan Janabah (mandi wajib). Allah menitipkan shalat kepada anak Adam; jika ia mau ia bisa mengaku sudah shalat padahal belum. Allah menitipkan puasa; jika ia mau ia bisa mengaku berpuasa padahal tidak. Allah menitipkan mandi janabah; jika ia mau ia bisa mengaku sudah mandi padahal belum. Bacalah jika kalian mau ayat: {Pada hari ditampakkan segala rahasia}."

Imam Malik (wafat 179 H) juga pernah ditanya apakah wudu termasuk dalam rahasia (sara'ir)? Beliau menjawab bahwa ia mendengar orang-orang berkata demikian, meski tidak merujuk pada hadis tertentu yang ia ambil. Namun beliau menegaskan bahwa shalat, puasa, dan apa yang ada di dalam hati adalah bagian dari rahasia yang akan diberi balasan oleh Allah.

Dampak Penyingkapan: Keindahan atau Kehinaan Wajah

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Allah akan menampakkan setiap rahasia yang tersembunyi pada hari kiamat, sehingga ia akan menjadi keindahan (zain) pada wajah-wajah tertentu, dan menjadi noda/keburukan (syain) pada wajah-wajah yang lain." Walaupun Allah Maha Mengetahui segalanya, Dia menampakkan tanda-tanda tersebut bagi para Malaikat dan orang-orang beriman.

Bahkan, terkadang Allah menampakkan amal seorang hamba kepada manusia di dunia. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda:

"Sekiranya salah seorang dari kalian beramal di dalam batu besar yang padat, yang tidak memiliki pintu maupun lubang, niscaya Allah akan mengeluarkan amalnya itu kepada manusia, apa pun jenis amalnya."

Korelasi dengan Ayat-Ayat Lain

Makna ayat ini juga ditemukan dalam banyak ayat Al-Qur'an lainnya, di antaranya:

1- [QS. Al-An'am: 28]: "Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya." Artinya, aib mereka terbongkar di akhirat.

2- [QS. Ibrahim: 21]: "Dan mereka semua (di padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah." Segala yang batin akan tampak. Orang yang bahagia akan muncul dengan wajah berseri dan jiwa yang jernih, sementara orang yang celaka akan muncul dalam keadaan hina, malu, dan ketakutan.

3- [QS. Al-Haqqah: 18]: "Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)."

4- [QS. Az-Zumar: 47]: "Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan." Sufyan ats-Tsauri berkata: "Celakalah orang-orang yang riya, inilah ayat dan kisah mereka." Muhammad bin al-Munkadir bahkan menangis tersedu-sedu menjelang wafatnya karena takut akan ayat ini; ia khawatir akan tampak baginya sesuatu dari Allah yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.

5- [QS. Al-Qiyamah: 13]: "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya."

Kesimpulan

Sari pati dari penjelasan di atas adalah bahwa penciptaan manusia yang penuh ketelitian dan hikmah ini tidak akan berakhir sia-sia tanpa adanya hari kembali. Hari itu adalah waktu untuk menguji segala rahasia dan memberikan balasan yang adil.

Rahasia-rahasia yang tersimpan rapat dan tersembunyi akan diuji, disingkap, dan dimunculkan. Sebagaimana bintang penembus (At-Tariq) menembus kegelapan malam yang pekat, demikian pula pada hari itu rahasia akan disingkap ketika manusia tidak lagi memiliki kekuatan dari dalam dirinya sendiri maupun penolong dari luar dirinya.

Artikel Terkait