Islam Web

Haji & Umrah

  1. Haji & Umrah
  2. Puasa

PARA PENGECUT DI BULAN RAMADHÂN

PARA PENGECUT DI BULAN RAMADHÂN

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Jumlah para pengecut itu bukan hanya empat atau lima orang, tapi mereka jauh lebih banyak daripada itu. Karena setiap muslim yang mengikuti jalan itu adalah seorang pengecut. Mungkin saja mereka membela diri dengan berkata, "Kami adalah orang-orang kuat dan berkuasa." Karena mereka melihat kesehatan jasmani dan kekuatan fisik yang mereka punyai. Secara lahir, perkataan mereka itu mungkin benar, jika mereka dihadapkan kepada manusia seperti mereka. Tetapi, walaupun memiliki kekuatan seperti itu, mereka sejatinya adalah para pengecut yang tidak berdaya di hadapan kekuatan tersembunyi, berupa gejolak nafsu dan bisikan-bisikan Syetan.

Sifat pengecut itu melekat dalam diri mereka sepanjang hidup mereka, tapi akan tampak secara nyata dan jelas di bulan Ramadhân yang penuh berkah.

Para pengecut itu adalah:

1. Orang-orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhân tanpa uzur (halangan) dan keringanan dari Agama.

Mereka ini orang-orang yang berbadan sehat dan berfisik kuat, tapi mereka kalah di hadapan kekuatan nafsu yang menyuruh kepada keburukan, dan di hadapan syahwat lapar atau dahaga. Karena tidak mempunyai kekuatan iman yang menegur di dalam hati, mereka pun makan dan minum dengan bebas di bulan suci ini.

2. Orang yang menggauli istrinya di siang hari bulan Ramadhân. Demikian juga perempuan yang mempersilakan suaminya untuk menggauli dirinya di siang hari Ramadhân, kedua-duanya adalah pengecut, karena iman mereka tidak berdaya di hadapan kekuatan syahwat seksual.

Seorang lelaki, jika benar-benar beriman, seharusnya ingat bahwa dirinya sedang berada dalam amal ketaatan dan ibadah yang tersembunyi. Demikian juga seharusnya seorang perempuan, selain mengingat bahwa seorang istri tidak dihalalkan untuk menaati suaminya dalam hal tersebut, berdasarkan sabda Nabi—Shallallâhu `alaihi wa sallam, "Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat/berbuat dosa kepada Sang Pencipta." [Asy-Syaukâni; Shahîh]

3. Orang-orang yang tidur.

Ini tidak berlaku secara mutlak, karena setiap muslim pasti pernah tidur dan mesti membutuhkan tidur, karena itu adalah salah satu kebutuhan hidup. Tapi yang dimaksud dengan tidur di sini adalah:

A. Orang-orang yang tidur setelah sahur, padahal waktu Subuh tinggal sebentar lagi. Mereka ini adalah orang-orang yang ditipu oleh Syetan dan menyerah kepada dorongan tidur dan santai, sehingga akhirnya melewatkan shalat Subuh, dan mereka pun menderita kerugian yang nyata.

B. Orang yang banyak tidur di waktu siang, sehingga mereka melewatkan shalat Zuhur dan shalat Ashar, padahal mereka juga telah kehilangan shalat Subuh. Kemudian mereka bangun untuk berbuka puasa. Setelah itu, kelezatan makanan melalaikan mereka, dan kenikmatan hidangan menipu mereka, sehingga shalat Magrib pun terlewatkan, sementara rona merah di ufuk barat mulai menghilang, pertanda masuknya waktu Isya.

Mereka adalah para pengecut yang takluk di hadapan keinginan nafsu untuk makan dan minum. Mereka melalaikan ketaatan kepada Allah, tidak melaksanakan shalat pada waktunya. Alangkah baiknya jika mereka mengingat firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Sungguh celaka orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalat mereka." [QS. Al-Mâ`ûn: 4-5]. Maksud kata "sâhûn" (lalai) dalam ayat ini adalah menunda shalat dari waktu sebenarnya.

C. Orang-orang yang berleha-leha di malam hari Ramadhân, terutama pada saat-saat turunnya rahmat Ilahi di sepertiga malam terakhir. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu itu dengan brbagai permainan, dan mereka melupakan firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya):

·         "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." [QS. Al-Muzzammil: 6]

·         "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." [QS. Al-Isrâ': 79]

Berapa banyak keluarga yang saling mengundang untuk makan sahur bersama, dan mereka datang pada waktu yang sudah larut. Kaum lelaki kemudian duduk bersama, berbicara, bersenda gurau, dan bermain-main. Sementara kaum perempuan di dapur mempersiapkan makanan sahur, mereka berbicara tentang apa yang mereka lihat pada malam sebelumnya di pasar, mulai dari barang dan model-model terbaru, hingga produk-produk makanan yang enak dan kue-kue lezat.

Semua itu dilakukan ketika di mesjid-mesjid sana shalat malam sedang didirikan, kitab Allah dibaca, para Malaikat mengelilingi para jemaah di sana dari segala sisi, dan berbagai rahmat turun kepada mereka.

Jika salah seorang dari mereka menasihati, "Bagaimana kalau kita pergi ke mesjid untuk ikut melaksanakan shalat beberapa rakaat?", kebanyakan mereka tiba-tiba berkata, "Sudahlah, duduk saja di sini, itu cuma amalan sunnah. Kita cukup melaksanakan yang wajib saja."

Demikianlah, mereka menyerah kepada dorongan nafsu yang menyuruh kepada keburukan, kesenangan, dan ketenangan fisik. Mereka melewatkan pahala yang demikian besar dari Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah—Subhânahu wata`âlâ. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman menerangkan pahala bagi kaum laki-laki dan perempuan yang melaksanakan shalat malam (yang artinya): "Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan." [QS. As-Sajadah: 17]

D. Para pengunjung pasar-pasar di malam hari Ramadhân. Mereka diberi kesehatan badan dan kelapangan harta di bulan Ramadhân, namun mereka tertipu dan rela menjadi pengecut di hadapan nafsu untuk berkeliling di pertokoan melihat barang-barang terbaru. Mereka terkadang tertipu dengan diskon-diskon yang sebagiannya benar dan sebagian yang lain tidak dirincikan bentuknya. Sebagian perempuan tertipu oleh apa yang dilihat oleh nyonya Fulan misalnya di toko anu, di jalan anu, karena ia adalah wanita yang jujur serta berpengalaman dalam bidang perbelanjaan, dan setiap hari berkunjung ke pasar. Suaminya juga sangat baik, tidak pernah membantah pendapatnya dan tidak pernah menolak perintahnya. Ia adalah lelaki yang santun, tidak suka ikut bersama si istri ke pertokoan, karena banyak kaum perempuan di tempat-tempat perbelanjaan itu. Ia membiarkan si istri pergi sendiri, lalu menjemputnya pada waktu yang sudah disepakati. Si istri ini juga sangat percaya diri. Tidak ada seorang pedagang pun yang bisa menipunya, karena ia mempunyai pengalaman panjang di pasar-pasar, dan mengetahui mana barang yang baik dan mana barang yang buruk. Ia tidak mungkin membayar seharga 2000, atau 5000, atau 10000 Riyal, kecuali untuk barang yang cocok dengan harganya, atau untuk pakaian yang memang bagus dan serasi, sebagai bentuk penghargaannya atas jerih payah suaminya mencari uang, sekaligus menghindari perilaku berlebih-lebihan dan mubazir.

Ia merasa dirinya pandai dan cerdik. Ia memberi syarat kepada penjual bahwa ia boleh mengembalikan barang dan menggantinya dengan yang lebih baik jika memang diperlukan, walaupun itu membuat ia harus turun ke pasar berkali-kali pada beberapa malam yang berbeda. Ia tidak keberatan mengambil pendapat temannya, nyonya Fulan, yang lebih aktif daripada dirinya, karena biasa turun ke pasar setiap pagi dan sore.

Ada pula sebagian perempuan yang tidak mau merepotkan suaminya untuk mengantarkan mereka ke pasar, karena ada supir pribadi yang siap melaksanakan tugasnya. Kepala rumah tangga cukup berdiam di rumah dengan anak-anaknya, membantu mereka belajar demi meraih masa depan yang baik.

Ketika keluarga-keluarga ini kembali ke rumah masing-masing, sudah tentu setiap mereka tidak punya pilihan selain beristirahat setelah lelah berkelayapan. Mereka langsung menuju tempat tidur, dan sudah pasti masing-masing mereka mendengar bisikan-bisikan Syetan menggema di telinganya, "Tidurlah, malam masih panjang." Tentunya setelah Syetan mengikat ubun-ubun mereka dengan tiga ikatan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. Mereka pun tidak bisa bangun kecuali ketika matahari sudah tinggi, atau bahkan lewat sampai Zuhur. Lâ haula walâ quwwata illâ billâh.

Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wa sallam—bersabda, "Syetan mambuat tiga ikatan di ubun-ubun seseorang yang tidur. Di setiap ikatan itu ia meletakkan kalimat: 'Engkau mempunyai malam yang panjang, tidurlah'. Jika ia bangun dan mengingat Allah (berdoa), lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhuk, lepaslah satu ikatan lagi. Dan jika ia shalat, lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga di pagi harinya, ia tampil prima dengan jiwa yang lapang. Jika tidak, maka pada pagi hari itu, jiwanya akan kusut dan serba malas." [HR. Al-Bukhâri]

E. Orang-orang yang menunda pekerjaan dan para pegawai yang terlambat datang ke tempat kerja.

Saya kira, saya tidak sedang menyebarkan rahasia seseorang, atau menzalimi dan menghina orang tertentu, jika saya berkata bahwa banyak umat Islam yang berpuasa menurunkan volume produksi kerja mereka di bulan Ramadhân. Seakan-akan puasa telah memunculkan kemalasan yang begitu besar pada diri mereka. Ini tentu adalah sebuah kesalahan yang nyata dan tuduhan yang tidak beralasan. Ibadah puasa sama sekali terlepas dari hal itu. Buktinya, banyak peristiwa besar dalam sejarah para salafus shalih dan generasi setelah mereka yang justru terjadi di bulan Ramadhân. Hal yang menunjukkan kepada kita tentang kokohnya akidah, kegigihan, kekuatan, kerja keras, dan kesabaran yang mereka kerahkan ketika itu. Di antara peristiwa-peris penting di bulan Ramadhân itu adalah:

1. Perang Badar.

2. Fathu Makkah/Penaklukan Kota Mekah.

3. Peperangan Az-Zalâqah.

4. Peperangan `Ain Jalut

5. Penaklukan Andalusia.

Dari sini terbukti bahwa menunda-nunda pekerjaan merupakan tindakan pengecut serta ketidakberdayaan di hadapan keinginan santai yang dibuat-buat dan dibisikkan oleh nafsu yang menyuruh kepada keburukan.

Betapa buruknya pemandangan seorang pegawai yang terlihat oleh pengawasnya di kantor sedang melipatkan kedua lengannya di atas meja sebagai alas kepalanya, lalu ia tidur, dan terkadang bangun sesaat, demikian seterusnya sampai jam kerja berakhir. Kemudian ia beralasan bahwa ia sedang puasa.

Seperti ini juga pegawai yang terlambat masuk kantor dengan alasan berpuasa. Ia pura-pura lupa bahwa waktu mulai kerja yang diganti menjadi jam 10 pagi di bulan Ramadhân tidak lagi menyisakan ruang baginya untuk beralasan. Dan itu adalah nikmat besar yang tidak dapat dikecap oleh banyak orang di negara-negara lain.

Padahal jika kita adakan jajak pendapat di kalangan orang-orang yang jujur dan berperilaku amanah, serta mau objektif dengan puasa mereka, kita akan dapatkan mereka berkata bahwa puasa justru menambah kejernihan pikiran dan meningkatkan semangat kerja. Puasa bagi mereka merupakan sumber kekuatan psikologis sekaligus vitalitas fisik, yang tonggaknya adalah takwa yang disebutkan dalam firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183]

Sebagai penutup, kita berdoa semoga Allah—Subhânahu wata`âlâ—melindungi kita dari sifat pengecut, kikir, lemah, malas, serta belenggu utang dan intimidasi orang lain.

Walhamdulillâhi Rabbil `âlamîn.

Artikel Terkait

Keutamaan Haji