Berburu Malam Lailatul Qadar Pada Tujuh Malam Terakhir

0 0

Diriwayatkan dari Ibnu Umar—Semoga Allah meridhainya, bahwasanya ada beberapa orang shahabat Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bermimpi bahwa Lailaitul Qadar akan datang pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Lalu Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian, yaitu pada tujuh malam terakhir. Maka barang siapa yang menginginkannya, dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhi." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Dalam riwayat lain disebutkan, "Gapailah malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Namun apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya, maka jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam terakhir."

Dalam riwayat lain juga disebutkan, "Berusahalah untuk menggapai malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Pelajaran Dan Hukum Yang Dapat Diambil Dari Hadits

1. Sesungguhnya umat ini telah terjaga dari kesalahan dalam periwayatan, pendapat, dan mimpinya. Sebab mimpi-mimpi mereka yang sama diakui oleh Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam. [Lihat: I`lâmul Muwaqqi`în, Ar-Rûh, dan Fathul Bâri]

2. Karena kebaikan dan keutamaan yang terkandung dalam malam Lailatul Qadar maka kita dianjurkan untuk berusaha menggapai dan menghidupkannya. Meski demikian hal itu hukumnya tidak wajib, melainkan sunnah. [Lihat: Al-Istidzkâr]

3. Hadits di atas menunjukkan tingginya kedudukan sebuah mimpi, dan bolehnya menjadikan mimpi sebagai petunjuk untuk perkara-perkara yang wujud dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan syariat, serta tidak berlebihan dalam menjadikannya sebagai petunjuk hingga keluar dari jalur yang benar, dan menjadi penyebab seseorang berhenti untuk berusaha. [Lihat: Syarh Ibnul Mulaqqin `Alal `Umdah dan Fathul Bâri]

4. Mimpi bisa berasal dari Allah, bisa dari kata hati, dan bisa juga dari syetan. Jika kaum mukminin bermimpi mengenai hal yang sama maka itu adalah kebenaran, sebagaimana jika mereka meriwayatkan hal yang sama atau mengeluarkan pendapat yang sama. Seorang dari mereka bisa saja melakukan kesalahan atau kebohongan atau sengaja menyuarakan kebatilan, namun jika mereka bersepakat terhadap suatu hal, maka mereka tidak akan bersepakat dalam kesesatan. [Lihat: Minhâjus Sunnah An-Nabawiyah, dan Madârijus Sâlikîn]

5. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa pendapat mayoritas adalah pendapat yang hendaknya diikuti, selagi tidak bertentangan dengan nash, ijma`, atau qiyas yang jelas. [Lihat: Syarh Ibnul Mulaqqin `Alal `Umdah]

6. Sesungguhnya mimpi para shahabat telah bersepakat bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan, dan Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—telah memerintahkan mereka untuk berusaha menggapainya pada malam-malam itu. Malam-malam itu adalah termasuk malam-malam yang dipastikan turunnya Lailatul Qadar.

7. Malam Lailatul Qadar terkadang turun kepada sebagian orang melalui mimipi, dan terkadang pula pada saat mereka terjaga. Maka ketika itu mereka akan melihat semburat cahayanya, atau melihat orang yang berkata kepada mereka, "Ini adalah malam Lailatul Qadar." Dan terkadang pula Allah membuka hati seseorang hingga dapat menyaksikan hal-hal yang menunjukkan dengan jelas turunnya malam Lailatul Qadar. [Lihat: Majmû`ul Fatâwâ]

 

Artikel Terkait