Wahai Pengharap Ampunan, Bulan Ramadhan Telah Datang!

0 0

Oleh: Muhammad Al-Jabiri

 

Wahai saudaraku yang mengharapkan ampunan, duhai Anda yang telah banyak memikul dosa, lihatlah musim ampunan telah berada di depan mata Anda.

Dengarkanlah hadits-hadits shahîh berikut ini, supaya Anda tahu besarnya limpahan ampunan pada bulan mulia ini.

 

Pertama: Puasa Ramadhan

Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Hadits lain diriwayatkan juga dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallambersabda, "Antara shalat-shalat lima waktu, antara Jum`at ke Jum`at berikutnya, dan antara Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di sela-selanya selama dosa-dosa besar dijauhi." [HR Muslim]

Luar biasa berita gembira yang diberikan oleh Rasulullah ini. Berita tentang pengampunan dosa. Karena itu, duhai siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan ikhlas mengharap keridhaan Allah—Subhânahu wata`âlâ, serta mengharap ganjaran pahala dari-Nya, bergembiralah dengan ampunan yang akan diperoleh.

Saudaraku yang tercinta, jika Anda menginginkan ampunan, berpuasalah dari hal-hal yang diharamkan Allah sebelum Anda berpuasa dari hal-hal yang diperbolehkan. Puasakanlah pendengaran Anda, penglihatan Anda, lidah Anda, dan semua anggota tubuh Anda. Allah—Subhânahu wata`âlâ—telah mengharamkan kepada Anda pada siang bulan Ramadhan untuk makan dan minum, meski keduanya merupakan hal yang mubah (boleh), untuk memberi peringatan kepada Anda bahwa meninggalkan hal-hal yang diharamkan tentu lebih penting dilakukan. Jika Anda belum juga melakukannya, simaklah sabda Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—berikut ini: "Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan (puasanya) saat ia meninggalkan makanan dan minumannya."

Lâ ilâha illallâh, berapa banyak orang yang menderita lapar dan dahaga, mengalami kesukaran dan keletihan dalam berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan ganjaran apa pun lantaran tidak berpuasa dari hal-hal yang diharamkan.

Saudaraku, sesungguhnya Allah—Subhânahu wata`âlâ—sama sekali tidak memerlukan rasa lapar dan dahaga Anda. Yang Dia inginkan melalui puasa ini adalah ketakwaan kepada-Nya. Betul, wahai saudaraku, sesungguhnya yang Allah inginkan adalah ketakwaan itu. Inilah tujuan utama diwajibkannya ibadah puasa. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183]

Untuk itu, wujudkanlah ketakwaan dalam diri Anda agar Anda sukses meraih ampunan. Jagalah lidah Anda, tundukkanlah pandangan Anda, dan awasilah pendengaran Anda dari hal-hal yang diharamkan, sehingga kelak Anda berbuka di dalam Surga-Nya.

 

Kedua: Qiyâm (Shalat Malam) di bulan Ramadhan.

Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa yang mendirikan shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." [HR. Al-Bukhâri]

Subhânallah! Wahai saudaraku, sesungguhnya ia hanya beberapa malam saja, saat di mana Anda berdiri di hadapan Allah, shalat dengan penuh keikhlasan karena-Nya, lalu Anda akan mendapatkan ampunan itu. Bertekadlah dengan hati Anda untuk melakukan shalat tarawih, dan ikhlaskanlah niat karena Allah semata.

Dengarlah kabar gembira dari Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam, sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar—Semoga Allah meridhainya, bahwa beliau bersabda, "Jika seseorang mengerjakan shalat bersama imam sampai selesai, ditulislah untuknya pahala shalat satu malam penuh."

Berapa banyak Syetan yang datang kepada kita, sehingga saat berbuka, ada di antara kita yang makan terlalu banyak, dan akhirnya saat melaksanakan shalat Tarawih, ia merasakan berat dan keletihan, karena akal dan pikirannya sudah berada di kedua kakinya. Ia pun menjalankan Tarawih tanpa merasakan kelezatan ibadah, justru hanya dengan rasa berat menjalankannya.

Berapa banyak Syetan yang datang kepada kita, sehingga saat selesai menunaikan shalat Isya, di antara kita ada yang teringat berbagai pekerjaan dan kesibukannya, hingga ia pun meninggalkan shalat Tarawih.

Terkadang Syetan juga menggunakan muslihat lain. Ia membuat kita meninggalkan shalat Tarawih dengan membisikkan bahwa hukumnya sunnah dan bukan suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Bahwa pekerjaan dan usaha kita untuk mencari nafkah lebih utama daripada melaksanakan Tarawih. Atau mungkin ia juga menggunakan cara penundaan. Ia mengatakan, sekarang masih awal Ramadhan, dan Anda sudah keletihan karena berpuasa. Tunggulah hingga keesokan hari, baru Anda memulai shalat Tarawih. Demikian seterusnya, sementara Ramadhan terus berjalan. Malam demi malam berlalu, dan kita tidak dapat melakukan shalat Tarawih kecuali hanya beberapa malam saja.

 

Ketiga: Shalat di Saat Lailatul Qadr

Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." [HR. Al-Bukhâri]

Hanya satu malam saja, Anda dituntut untuk bersunguh-sungguh beribadah dan menjalankan ketaatan di dalamnya. Demi mendapatkan malam inilah, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, padahal beliau telah mendapatkan ampunan dari Allah—Subhânahu wata`âlâ—atas segala dosa beliau, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang. Oleh karena itu, kita yang belum mengetahui sama sekali bagaimana akhir perjalanan hidup kita, dan bagaimana keadaan kita pada hari Kiamat kelak, tentu sudah semestinya lebih bersungguh-sungguh beribadah pada malam tersebut—yang nilainya lebih baik daripada ibadah selama 83 tahun, sebagaimana firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." [QS. Al-Qadr: 3]

Saudaraku yang tercinta, demi Allah, sesungguhnya catatan amal kita dipenuhi rekaman dosa dan kesalahan. Tidakkah kita terdorong untuk mencucinya dengan melakukan shalat pada satu malam saja?

Agar dapat memperoleh peluang beribadah pada malam tersebut, Anda dituntut untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan ibadah, jika Anda benar-benar ingin mendapatkan ampunan itu.

Saudaraku yang tercinta, sesungguhnya lautan ampunan telah terbentang di hadapan Anda. Ceburkanlah diri Anda di dalamnya. Mudah-mudahan ia akan menyucikan karat-karat dosa di dalam diri Anda. Mudah-mudahan ia akan memutihkan seluruh lembaran catatan amal Anda yang selama ini telah Anda isi dengan warna hitam. Mudah-mudahan ia akan menghapus dosa-dosa Anda yang selama ini telah menjadi penghalang antara diri Anda dengan Tuhan Anda.

Saudaraku yang terkasih, semua sarana-sarana pengampunan telah disiapkan agar Anda memperoleh ampunan itu. Demi Allah saudaraku, tidaklah Allah membuka pintu-pintu Surga melainkan untuk memperkenankan Anda memasukinya. Dan tidaklah Allah menutup pintu-pintu Neraka melainkan untuk menjauhkan Anda darinya. Dan tidaklah Allah membelenggu Syetan-syetan melainkan agar Anda datang menemui-Nya, datang menjalankan ketaatan yang merupakan kunci keridhaan-Nya, sekaligus kunci kebahagiaan dan kemenangan Anda.

Saudaraku yang tercinta, apakah Anda menemukan ada yang lebih penyayang daripada Tuhan Anda, padahal Dia sama sekali tidak membutuhkan Anda dan tidak memerlukan ketaatan Anda? Tidak, demi Allah, Anda tidak akan menemukannya.

Lihatlah, bagaimana Allah—Subhânahu wata`âlâ—memperlakukan Anda, dan bagaimana Anda memperlakukan-Nya. Anda bermaksiat kepada-Nya, tetapi Dia menutupi aib Anda. Anda terus-menerus melakukan dosa kepada-Nya, Tetapi Dia terus bermurah hati kepada Anda. Anda senantiasa tenggelam dalam dosa dan maksiat, namun Dia berkenan mengajak Anda bertobat dan menjemput ampunan dari-Nya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Az-Zumar: 53]

Saudaraku yang terkasih, renungilah ayat ini, betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah tidak mengatakan 'orang-orang yang berbuat baik', tetapi 'orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka'. Allah tidak mengatakan 'orang-orang yang berbuat kejahatan' atau pun 'orang-orang yang telah bermaksiat', tetapi Allah mengatakan, 'orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka'. Dan sebelumnya, Allah—Subhânahu wata`âlâ—menisbatkan orang-orang seperti itu kepada diri-Nya dengan mengatakan 'hamba-hamba-Ku', supaya Anda tahu bahwa sebesar apa pun dosa yang Anda lakukan, sebanyak apa pun maksiat yang Anda perbuat, sesungguhnya Anda tetaplah hamba Allah—Subhânahu wata`âlâ. Allah mengatakan kepada Anda, janganlah Anda berputus asa dari rahmat-Nya, dan ketauhilah bahwa sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa-dosa Anda—sebesar apa pun itu—asalkan Anda bertobat.

Bulan Ramadhan dengan segenap sarana-sarana ampunan tiada lain adalah diperuntukkan untuk diri Anda, untuk menghapus semua dosa-dosa Anda. Sesungguhnya ampunan Allah—Subhânahu wata`âlâ—adalah impian setiap orang-orang shalih. Abdullah ibnu Mas`ud berkata, "Aku berharap Allah berkenan mengampuni satu saja dari dosa-dosaku, walaupun (untuk itu), aku menjadi orang yang tidak dikenal nasabnya. Aku berharap dipanggil Abdullah si putra kotoran, tetapi Allah berkenan mengampuni satu dosaku."

Tetapi, ternyata masih ada saja sebagian umat Islam yang tidak menginginkan ampunan dan rahmat Allah—Subhânahu wata`âlâ, sehingga mereka menjadikan bulan Ramadhan sebagai waktu untuk bermain-main dan bersenda gurau. Mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan melakukan perbuatan yang diharamkan Allah, bergadang di malam hari dengan perbuatan dosa dan maksiat. Dosa-dosa mereka semakin hari semakin bertambah, sehingga catatan amal semakin hitam.

Mereka harus mengingat hadits yang diriwayatkan dari Jabir ibnu Samrah—Semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Jibril mendatangiku, lalu berkata, 'Wahai Muhammad, barang siapa yang sempat bertemu dengan salah satu dari kedua orang tuanya tetapi tidak berbakti kepada mereka, kemudian ia meninggal dunia, maka ia akan masuk Neraka dan Allah akan menjauhkannya dari (rahmat-Nya). Katakanlah: 'Âmin', maka aku pun mengatakan 'Âmin'. Jibril kemudian berkata, 'Wahai Muhammad, barang siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia meninggal dunia, tetapi Allah tidak mengampuninya, maka Allah akan memasukkannya ke Neraka dan menjauhkannya dari rahmat-Nya. Katakanlah: 'Âmin', maka aku pun mengatakan 'Âmin'. Jibril kemudian berkata, 'Barang siapa yang ketika disebutkan namamu di sisinya, tetapi ia tidak bershalawat kepadamu, kemudian ia meninggal dunia, maka ia akan masuk Neraka dan Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya. Katakanlah: 'Âmin', maka aku pun mengatakan 'Âmin'." [HR. Ath-Thabrâni. Menurut Syaikh Al-Albâni: shahîh]

Saudaraku, lihatlah, siapa yang mendoakan dan siapa yang mengaminkan? Yang mendoakan adalah Jibril, penghulu para Malaikat, dan yang mengaminkan adalah Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam, penghulu seluruh manusia. Doa ini tentu sangat mustajab.

Saudaraku tercinta, apakah Engkau pernah bertanya kepada dirimu sendiri untuk siapakah semua keutamaan ini? Apakah untuk Malaikat? Apakah untuk hewan atau binatang ternak? Demi Allah, sekali-kali tidak, wahai Saudaraku. Sesungguhnya semua itu adalah untuk Anda.

Ya! Allah telah membuka pintu-pintu Surga untuk Anda, menutup pintu-pintu Neraka untuk Anda, serta membelenggu Syetan-syetan agar Anda dapat leluasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Ada berapa banyak Malaikat yang agung tetapi tidak mendapatkan keistimewaan seperti yang dimiliki oleh orang yang berpuasa. Misalnya, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi."

Saudaraku, hari-hari Ramadhan adalah hari-hari penuh ampunan, rahmat, dan penghapusan dosa. Belum jugakah tiba saatnya dosa-dosa Anda diampuni? Belum jugakah tiba waktunya kesalahan-kesalahan Anda dihapuskan.

Wahai Anda yang mencari ampunan, inilah jalan untuk meraihnya telah terbentang di depan mata Anda.

Saudaraku, sesungguhnya Allah suka mengampuni dosa para hamba-Nya. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman (yang artinya): "Dan Allah berkeinginan menerima tobat kalian." [QS. An-Nisâ': 27]. Tetapi Allah juga tidak akan memberikan ampunan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya.

Saudaraku, jika kita tidak juga diberi ampunan pada bulan Ramadhan, padahal segenap sarana telah terbentang, maka kapan lagi kita akan meraih ampunan itu? Sekiranya kita belum bertobat kepada Allah di bulan Ramadhan, maka pada kesempatan mana lagi kita akan bertobat?

Saudaraku, jangan meremehkan dosa sekecil apa pun. Karena Allah telah memasukkan seorang wanita ke dalam Neraka lantaran mengurung seekor kucing. Jadi berhatilah-hatilah, jangan sampai Anda memandang enteng suatu maksiat. Jangan lihat kecil atau besarnya perbuatan maksiat, tetapi lihatlah betapa agungnya Dzat yang Anda durhakai dengan maksiat itu.

Saudaraku, marilah menuju bulan ampunan, bulan yang penuh rahmat ini. Bersungguh-sungguhlah dalam beribadah, perbanyakkan ketaatan, jauhilah maksiat, karena tidak ada cara menuju ampunan kecuali dengan melalui jalan ini.

Kita berdoa semoga Allah menyampaikan kita ke bulan Ramadhan, membimbing kita untuk melakukan amal-amal shalih di dalamnya, serta mengampuni dosa-dosa kita semua.

 

Artikel Terkait