Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. HAJI & UMRAH
  3. Keutamaan Haji

Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah

AllahSubhânahu wata`âlâ —Subhânahu wata`âlâ— memieliki kehendak (hak) sendiri dalam menciptakan dan memilih. , Allah —Subhânahu wata`âlâDia berfirman (yang artinya): "Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." [QS. Al-Qashash: 68]

Di antara rahmat Allah kepada para hamba-Nya (adaah) adalah Dia melebihkan dalam keutamaan antara waktu-waktu dan masa-masa, maka Dia memilih waktu-waktu yang dikhususkan dengan tambahan keutamaan dan tambahan pahala, agar (dengan) hal itu lebih mendorong untuk mengasah meningkatkan semangat yang bergairah, memperbaharui kemauan dan berlomba kompetisi dalam kebaikan, serta bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan segala bentuk seruan kebaikan.anugerah-anugerah. Di antara waktu-waktu yang utama itu adalah hari-hari sepuluh Dzulhijjah (sepertiga bulan) yang telah dikhusukan dengan sejumlah keutamaan-keutamaan dan kesitimewaan-keistimewaan.

Allah telah berjanji demi hari-hari sepuluh Dzulhijjah tersebut di dalam Kitab-Nya (Al-Qur'an) sebagai pujian atas kemuliaannya dan tinggi kedudukannya. , maka AllahSubhânahu wata`âlâ —Subhânahu wata`âlâ— berfirman (yang artinya): "Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil." [QS. Al-Fajr: 1-3] sejumlah ahli ilmu berkata: "bahwa ia (malam-malam yang dimaksud) adalah sepuluh Dulhijjah.".

NabiShallallâhu `alaihi wasallam —Shallallâhu `alaihi wasallam— bersaksi bahwa ia adalah hari-hari dunia yang paling mulia, dan perbuatan baik di dalamnya lebih utama dari selainnya, sebagaimana disebutkan di hadits Ibnu Abbâs Semoga Allah meridhai mereka berdua di mana RasulullahShallallâhu `alaihi wasallam —Shallallâhu `alaihi wasallam— bersabda,: "Ttidak ada hari-hari yang amal shalieh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari sepuluh (pada bulan Dzulhijjah).," Ppara shahabat lalu bertanya, "Wwahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?", Rasulullah menjawab, "Ttidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang berjihad dengan nyawa dan hartanya dan tidak kembali dengan sesuatupun dari itu." [HR. At-Tirmîdzi], dan aslinya ada dalam Shahih Bukhâri.

Dalam hadits Ibnu `Umar disebutkan: "Ttidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya untuk berbuat baik di dalamnya daripada sepuluh ini, maka perbanyaklah tahlîl, takbîr dan tahmîd di dalamnya." [HR. Ahmad]

Di dalamnya terdapat Hari Arafah di mana RasulullahShallallâhu `alaihi wasallam —Shallallâhu `alaihi wasallam— bersabda tentangnya sebagaimana dalam hadits `Aisyah Semoga Allah meridhainya, "Ttidak ada hari yang di dalamnya Allah lebih banyak menyelamatkan hamba dari neraka daripada hari Arafah, sesungguhnya malaikat mendekati dan membanggakan mereka dan berkata, 'apa yang mereka inginkan?'." [HR. Muslim]. , ia Ia adalah hari pengampunan dosa-dosa dan puasanya menghapuskan dosa dua tahun.

Di dalamnya juga terdapat yaumun nahr (hari penyembelihan), ia adalah hari yang paling agung di sisi Allah. , RasullahShallallâhu `alaihi wasallam —Shallallâhu `alaihi wasallam— bersabda,: "Hhari yang paling agung di sisi Allah —Subhânahu wata`âlâ— adalah yaumun nahr, kemudian yaumul qarr (hari setelah hari nahr, dinamakan demikian karena pada hari itu manusia tinggal dan istriahat di Mina)." [HR. Abû Dâwûd]

Sesungguhnya dianugerahinya 10 Dzulhijjah dengan kedudukan ini karena berkumpulnya ibadah-ibadah yang paling penting di dalamnya, yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, dan hal itu tidak tersedia di selainnya.

Ulama telah berbicara mengenai perbandingan dalam keutamaan antara hari-hari sepuluh (sepertiga) Dzulhijjah dan hari-hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan, di antara yang paling baik disebutkan dalam hal itu adalah pendapat sebagian muhaqqiqîn (para peneliti) bahwa sepuluh hari bulan Dzulhijjah lebih utama dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan malam sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama dari malam sepuluh hari Dzulhijjah sebagai penggabungan antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan masing-masing dari keduanya, sebab malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan diutamakan karena malam lailatul qaodar bagian dari malam-malamnya, dan sepuluh hari Dzulhijjah diutamakan karena hari-harinya, di dalamnya terdapat yaumun nahr (tanggal 10), yaumu `Arafah (tanggal 9), dan yaumut tarwiyah (tanggal 8).

Terdapat Ada beberapa amal shalieh - amal shaleh yang ditentukan dilakukan pada sepuluh hari ini, dalil-dalil telah meyebutkan tentang anjuran melakukan hal itu, di antara yang penting adalah:

TaubatTobat nashuha dan kembali kepada Allah, komitmen untuk taat kepada-Nya dan menjauhi semua yang melanggar perintahnya dan larangannya dengan syarat-syarat taubattobat yang telah diketahui menurut ulama, Allah telah memerintahkan hamba-hambanya yang mukmin untuk melakukan hal itu, Dia berfirman (yang artinya): "Dan bertaubattobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." [QS. An-Nûr: 31]. Seorang mukmin membutuhkannya di seluruh waktu dan masa.

Di antara amalan-amalan sepuluh hari Dzulhijjah adalah haji ke baitullah, seperti diketahui bahwa hari-hari ini bertepatan dengan kewajiban haji, dan haji merupakan salah satu perbuatan baik, sebagaimana sabda RasulullahShallallâhu `alaihi wasallam —Shallallâhu `alaihi wasallam— ketika beliau ditanya perbuatan apa yang paling utama, beliau menjawab, "Iiman kepada Allah dan Rasul-Nya", kemudian ditanya lagi lalu apa?, beliau menjawab, "berjihad di jalan Allah", kemudian ditanya lagi lalu apa?, beliau menjawab: "haji mabrur." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Maka Jadi wajib sudah seyogyanya bagi seorang muslim jika mendapatkan keluasan dalam hartanya, dan kesehatan pada badanya bersegera menunaikan kewajiban yang agung ini, agar ia mendapatkan pahala yang berlimpah, ia adalah sebaik-baik apa yang ditunaikan pada hari-hari yang diberkati ini.

Di antara amalan paling besar untuk mendapatkan keridhaoan Allah pada sepuluh hari ini adalah menjaga kewajiban-kewajiban dan menunaikannya dengan bentuk sesuai yang diminta oleh syariat, yaitu dengan memperbaiki, menyempurnakan dan melengkapkannya, memperhatikan sunnah-sunnah dan adab-adabnya, ia adalah sebaik-baik kesibukan yang dilakukan oleh seorang hamba sebelum memperbanyak amalan sunnah.-sunnah, Ddisebutkan dalam hadits Qudsi dari Abui Hurairah: "Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya." [HR. Al-Bukhâri]

Setelah menyempurnakan hal-hal yang fardhu dan menjaga kewajiban-kewajiban maka hendaklah seorang hamba memperbanyak amalan-amalan sunnah -sunnah dan hal-hal yang disukai (mustahabbât), memanfaatkan kemuliaan waktu, menambahkan dari apa yang dilakukannya pada selain sepuluh hari Dzulhijjah, melaksanakan apa yang belum bisa dilaksanakannya pada selain sepuluh Dzulhijjah, bersungguh-sungguh untuk mengisi waktunya dengan ketaatan kepada Allah —Subhânahu wata`âlâ— berupa shalat, membaca al-Qur'an, do`a, sedekah, berbuat baik kepada kedua orang tua, menjalin silaturrahmi, menganjurkan kebaikan dan melarang kemungkaran, berbuat baik kepada manusia, menyampaikan hak, dan hal-hal lain yang merupakan jalan-jalan kebaikan dan pintu-pintunya yang tak terhitung.

Di antara amalan-amalan yang disebutkan oleh dalil secara khusus adalah memperbanyak dzikir (ingat) kepada Allah secara umum dan membaca takbir secara khusus, sesuai firman AllahSubhânahu wata`âlâ —Subhânahu wata`âlâ— (yang artinya): "Ssupaya mereka mempersaksikan berbagai manfa'at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak." [QS. Al-Hajj: 28]. Jumhur ulama mengatakan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah sepuluh hari-hari (Dzulhijjah), dan sebagaimana dalam hadits Ibnu `Umar yang disebutkan di atas "maka kalian perbanyaklah di dalamnya dengan tahlil, takbir dan tahmid." [HR. Ahmad]

Disunnahkan pula untuk membaca dengan terang takbir muthlaq (takbir yang tidak dibatasi dengan waktu tertentu) sejak hari pertama dari hari-hari Dzulhijjah di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan, pasar-pasar dan lainnya, laki-laki membacanya dengan keras dan perempuan membacanya dengan pelan, sebagai pemberitahuan tentang keagungan Allah, dan terus berlangsung sampai waktu asar hari terkhir dari hari-hari tasyrîq, ia merupakan salah satu sunah yang telah ditinggalkan yang dianjurkan untuk menghidupkannya pada hari-hari ini, telah disebutkan bahwa Ibnu `Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada hari sepuluh lalu mereka berdua bertakbir dan orang-orang bertakbir dengan takbir mereka berdua.

Adapun takbir-takbir khusus yang ditentukan untuk akhir shalat-shalat fardu, maka dimulai dari fajar (waktu Shsubuh) hari `Arafah dan terus sampai waktu Ashasar hari terkahir dari hari-hari tasyriq, sesuai firman AllahSubhânahu wata`âlâ —Subhânahu wata`âlâ— (yang artinya): "Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang." [QS. Al-Baqarah: 203]. Dan sesuai sabda RasululllahShallallâhu `alaihi wasallam, Shallallâhu `alaihi wasallam: "Hhari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan dzikir kepada Allah.". [HR. Muslim]

Di antara amalan-amalan yang ditetapkan untuk (dilakukan) pada hari-hari ini (Dzulhijjah) adalah puasa, di samping puasa secara umum termasuk amal baik tetapi telah disebutkan dalil khusus tentang hal itu. , dari Diriwayatkan dari Hafshah Semoga Allah meridhainya berkata,: "Eempat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh NabiShallallâhu `alaihi wasallam Shallallâhu `alaihi wasallam; puasa `Asyhûrâ', puasa seppertiga bulan (yakni 10 hari pada bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari pada setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum Shsubuh." [HR. Abû Dâwûd dan lainnya]. Maksudnya puasa pada tanggal sembiilan (Dzulhijjah), karena telah dilarang puasa pada hari `Îd.

Imam AN-Nawawi berkata tentang sepuluh Dzulhijjah: "Ppuasanya disenangi (mustahabb) dengan senang yang sangat", dan yang paling kuatnya adalah puasa hari `Arafah bagi yang bukan haji. Diriwayatkan dari Abui Qatâdah Semoga Allah meridhainya bahwa Rasulallah Shallallâhu `alaihi wasallam— ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab: "menghapuskan (dosa) tahun yang telah lalu dan yang tersisa." [HR. Muslim]

Di antara amalan-amalannya juga adalah memotong kurban, ia merupakan sunnah muakkadah bagi orang yang mampu, bahkan ada ulama yang berpendapat wajib. , NabiShallallâhu `alaihi wasallam —Shallallâhu `alaihi wasallam— telah sangat menjaga amalan itu (berkurban).

Inilah amalan-amalan baik yang paling penting yang seyogyanya seorang muslim menjaganya, dan pintu amal baik masih tetap lebih luas dari apa yang telah disebutkan, pintu-pintu kebaikan banyak tak terhitung, pengertian dari amal shaleh (adalah) luas, menyeluruh dan mengandung semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah berupa perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan lahir dan batin.

Maka Untuk itu hendaklah orang yang telah diberi taufik oleh Allah mengetahui keutamaan hari-hari ini, menghargai kehormatanya, sehingga ia berkomitmen untuk bersungguh-sungguh di dalamnya, dan berusaha untuk mengurangi sebisa mungkin kesibukan-kesibukan dunia dan kesesatan-kesesatannya, sesungguhnya ia adalah waktu-waktu dan saat-saat yang cepat putus, orang yang berbahagia adalah yang menyesuaikannya dengan perkataan dan perbuatan yang baik.

Wallâhu a`lam.

Artikel Terkait